Selasa, 24 November 2015

Seniman Kuningan Yogya Miniatur Ontel

Profil Pengusaha Heri Suryono 



Seniman Yogyakarta memang tidak ada matinya. Mereka seniman asal Yogya punya solusi bisnis. Kreatifitas tidak terbendung menghasilkan barang seni menarik dan indah. Kita sebut saja seperti aneka kerajinan kayu, kramik, aneka produk kulit, batik, kain tenun, olahan serat alam dan logam. Kesemuanya tersedia disini, dan satu pengusaha menarik perhatian media masa.

Heri Suryono merupakan pengusaha kerajinan logam. Berbagai produk telah dihasilkan mulai minatur becak, dokar, dan ontel. Sukses pengusaha asal Kota Gede ini sudah mengikuti aneka pameran, seperti Inacraft. Ini merupakan salah satu pameran terbesar di Indonesia. Adapula pameran lain bernama Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) yang mulai menarik perhatian.

Suryono merupakan pemilik Wilidi Craft. Usaha turun- temurun yang dipolesnya sedemikian rupa. Ia sukses berkat kreatifitas aneka miniatur becak, dokar, dan ontel sejak 1996. Latar belakang keluarga tentulah jadi alasan dirinya mahir. Tetapi kalau bukan karena kreatifitas maka hidupnya akan biasa. Pasalnya usaha milik ayah dan kakeknya berbeda jauh. Mereka mengerjakan usaha kerajinan cor logam kuningan.

Sementara pembuatan miniatur terkesan sepel. Padahal, kalau dilihat segi keuntungan, apalagi Yogya sebagai salah satu pusat kebudayaan; Suryono menang banyak. Pengetahuan tentang logam dimanfaatkan baik lewat produk modern. Walaupun fokus usaha di aneka minatur, jangan salah, Suryono masih mengerjakan usaha cor kuningan keluarga. Soal produksi kerjinan logam dirinya tidak segan turun tangan.

Di bengkelnya terdapat aneka desain produk logam dan miniatur logam. Walidi Cor Kuningan -sekarang Wilidi Craft, mempunya 18 orang karyawan. Mereka terbagi enam orang mengerjakan kerajinan kuningan dan enam orang lagi akan bekerja di percetakan dan pengecoran. Usaha Suryono tidak pernah sepi dari pelanggan setiap hari. Meski pun sepi, Wilidi Craft menurutnya masih memproduksi barang untuk distok.

Kendati demikian barang stok sudah terlebih dahulu diperhitungkan. Ia hanya membuat produk stok yang bisa dijual pasar ke depan. Wilidi Craft mampu memproduksi minatur sebanyak 400 unit per- bulan. Untuk produk cor kuningan lebih banyak karena sudah punya mesin yakni 500- 600. Pemasaran produk sampai di Bali, Jawa, Sumatra dan Kalimantan.

Untuk pasar ekspor akunya sudah masuk Malaysia, Singapura, Belanda dan Amerika Latin. Kegiatan rutin ekspor adalah pasar Malaysia dan Belanda. Guna meningkatkan daya jual maka mengikuti pameran menjadi salah satu cara Suryono sekarang ini.

Desain minatur pun bekembang tidak sebatas sepeda ontel. Mereka bisa membuat strika kuno, meriam, atau kalau kamu mau bisa lewat foto. Nah, satu ini yang membedakan usaha milik Suryono, dimana cuma modal foto sudah bisa jadi minatur peris. Pengalaman menarik usahanya adalah ketika pesanan dari Malaysia. Entah apa maksudnya mereka impor meminta tidak diberi lebel Made In Indonesia.

"Malaysia biasanya pesan kosongan, atau tidak ada label MadeinIndo (Indonesia)," paparnya. Tetapi untuk negara lain tidak terjadi hal semacam itu. Suryono cuma bisa mengiyakan saja. Dimana harga miniatur yang ukuran sedang Rp.65 ribu dan kecil Rp.45 ribu. Adapula ukuran mini dijual Rp.22.500 dan untuk becak mini seharga Rp.100 ribu.

Artikel Terbaru Kami