Kamis, 26 November 2015

Awal Sambal Roa Judes Kegemaran Artis Indonesia

Profil Pengusaha Rimayanti Wardani 


 
Wanita ini kecanduan sedapnya sambal roa. Kisahnya dimulai ketika Rimayanti Wardani atau akrab disapa Rima, tengah menjalankan kuliah di Jurusan Humas, Interstudi, Jakarta, tahun 1999. Dimana setiap teman satu kos datang selalu membawakan sambal ikan roa. Satu kali sih tidak apa, tetapi Rima keterusan meminta Debi, sang sahabat yang asli Manado membawakan setiap pulang kampung.

"Karena suka, saya pun minta diajarkan membuat sambal ikan roa oleh kerabat teman saya yang tinggal di Manado," kenang Rima.

Dia memang bukan orang Manado. Tetapi rasa itu begitu melekat dilidahnya sampai tak terlupakan. Ia tidak pernah berpikir untuk menjualnya. Semua lantaran kegemaran saja sampai belajar via telephon. Rima minta diajari oleh kerabat Debi di Manado. "Melalui arahan telephon, saya coba- coba membuatnya," kenangnya.

Tetapi resep sambal itu menjadi berbeda. "Resep sambal saya ubah sedikit agar rasanya sesuai dengan lidah saya," tuturnya. Jadilah kegemaran menyatap sambal roa sudah bisa terpenuhinya sendiri. Namun, Rsma masih belum sadar akan potensi bisnis dibalik itu, hingga di pertengahan 2012, seorang teman membawakan kali ini bukan sambal tetapi ikan roa. 

Sang teman membawakan ikan roa mentah karena hobi Rima. Masalahnya, jumlah ikan roa mentah itu terlalu banyak, sehingga Rima lumayan kerepotan membuat sambal sendiri. "Setelah saya jadikan sambal, hasilnya jadi sangat banyak," paparnya. Karena kebanyakan itu sambal roa dimasukan ke bekas toples selai. Sampai tanpa terasa sudah delapan toples didapatkan Rima dari sana.

Jualan sambal


Rima iseng memotret sambal dalam toples itu. Kemudian dipajangnya ke profil Blackberry miliknya. Lantas ada teman sekantor meminta dibawakan itu. Dalam sekejab, ia menjual semua sambal roa buatanya kepada teman sekantor. Sukses menjual membuatnya mendadak bersemangat. Karena apa? Karena teman- teman yang tidak mendapatkan meminta dibuatkan lagi.

Melihat permintaan cukup banyak muncul lah ide bisnis. Wanita yang pernah bekerja sebagai asisten manajer pemasaran sebuah perusahaan provider telekomunikasi ini, langsung menelephon teman yang mungkin kenal pemasok ikan roa di Manado. "Syukurlah, ada sebuah koperasi di Manado yang bisa memasok ikan roa asap sebagai bahan baku utama," tutur Rima bersemangat.

"Kalau beli di Jakarta harganya sangat mahal," tuturnya lagi.

Sukses dibawalah empat toples lagi di pajang diatas meja kerja. Keisengan tersebut disambut oleh teman- teman sekantor Rima. Cuma bermodal uang Rp.500 ribu sudah bisa menghasilkan sambel roa. Pulang dari kantor pasti Rima langsung masuk ke dapur mengolah ikan roa. Ia dibantu sang suami Ciptoning Adiwijoyo membuat sambal roa. Dalam hitungan menit saja sambel roa yang dibawanya ke kantor ludes.

Rima membuat lagi dan ditawarkan lewat BBM. Ternyata banyak permintaan berdatangan memesan sambal roa.

Jika Rima berkutat di dapur, maka sang suami inisiatif menganalisa aspek bisnis, sambil sesekali membantu istri belanja cabai ke pasar. Sepula dari kantor ia sempatkan mampir ke pasar Pondok Gede. Pulang- pulang dia membawa sekantung besar belanjaan. Pembuatan sambal biasanya selepas Rima menyusui anaknya. Ia akan berkutat di dapur sampai jam 3 pagi.

Ia tidak pernah mengeluh. "Isitilahnya, ada cinta di setiap ulekan," tuturnya sambil tersenyum. Untuk kemasan kemudian dibeli lah botol- botol plastik di pasar di Jalan Pramuka Jakarta. Soal desain logo dikerjakan oleh Rima sendiri. Logo ikan roa bersirip sembilan melambangkan tanggal kelahirannya. Warna merah pada logo melambangkan pedasnya sambal. Lalu nama Sambal Roa Judes sendiri diambil dari kepanjangan Juara Pedas.

Banyak tantanga dilalui Rima memasarkan sambal roa. Setiap pagi, ia akan membawa ransel dan tentengan penuh toples- toples berisi sambal, kemudian melangkah ke kantor. Bukannya naik mobil tetapi naik turun angkot dan busway. Perasaan bercampur aduk tetapi ditahannya. "Suatu saat nanti, apa yang saya alami ini bisa menjadi kebahagian di masa yang akan datang," kenangnya.

Penuh semangat dari hari- ke hari jualannya semakin meningkat. Dari delapan botol menjadi sepuluh botol tiap harinya.

Tempo delapan bulan semenjak berjualan, Rima bisa memberangkatkan ibunya naik haji ke Tanah Suci. Di bulan Juni 2012, Rima memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan dan memilih mengerjakan bisnis baru ini semakin serius. Ia mulai menggarap aspek sosial media Facebook dan Twitter. Yakin akan prospek bisnis sambal, terbukti lewat meningkatnya permintaan reseller. Rima pun tidak cuma mengincar materi tetapi juga semangat.

Ia mengajak teman- teman terdekat menjadi reseller. Dia ingin membantu teman- teman terutama perempuan agar mendapatkan uang tambahan. "Saya ingin menanamkan prinsip saling berbagi," tutur Rima.

Sejak dulu ia memang dikenal memiliki passion dan pekerja keras. Ketika masih SMP, Rima kecil sudah tau berjualan aksesoris, hingga kuliah dan bekerja sempat berjualan parfum. Wanita yang juga dosen paruh waktu ini memang senang memiliki penghasilan tambahan. "Saya tahu bagaimana senangnya jika kita bisa mempunyai penghasilan tambahan. Apalagi bagi para ibu rumah tangga," celetuknya.

Juragan sambal


Sebutan juragan sambal ditujukan kepada Rimayanti Wardani. Oleh teman- teman karena pekerjaan barunya sebagai pengusaha sambal. Ia pun lantas menamai resellernya sebagai bandar sambal. Kisah berlanjut, yang mana usahanya semakin membesar, bahkan permintaan akan sambal menyebar ke penjuru Indonesia. Rima lantas menunjuk lima distributor besar dari teman- teman terdekat.

Distributor bintang lima itu ditugasi wilayah penjualan. Mereka menerima permintaan dan merekrut reseller dibawah masing- masing. Menurut Rima kekuatan Sambel JuDes terletak di sistem jualan langsung. Melalui sistem reseller dicoba saling silaturahmi antar reseller. Menurutnya sistem ini meminimalkan brang terparkir lama di etalase.

Sementara itu, kalau dia menitipkan ke toko maka tidak ada koneksi yang terbentuk. Barang pun tidak otomatis akan berpindah tangan. Jeda itulah yang dipangkas lewat distributor dan reseller dibawa dirinya. Tentu mereka akan mendapatkan harga spesial. "...mencapai 20- 30 persen," paparnya.

Marketing Rima terbilang unik karena nekat. Dia mampu mendekati para selebriti Indonesia. Memberikan mereka secara cuma- cuma sambal roa. Sistem endors yang dilakukanya belum marak dilakukan pengusaha lain. Hasilnya? Foto- foto sambal roa JuDes terpampang di foto Twitter. Banyak follower si selebriti yang mengomentari dan tertarik.

Selebriti pertama adalah pasangan Zaskia Mecca dan Hanung Bramantyo, penyanyi Nina Tamam, presenter Andhara Early, bahkan sampai Chef Bara Pattiradjawane. "Saya cuma meminta alamat mereka, lalu kirim sambalnya," beber Rima. Bulan Februari 2013, penjualan sambal roa mencapai 3.000 botol, yang mana oleh suami Rima disarankan lebih fokus.

"Suami bilang, saya tidak boleh serakah. Rezeki ini titipan Tuhan. Artinya, bisa diambil kapan saja. Saya disarankan untuk memilih satu, antara pekerjaan kantoran atau berjualan sambal," ceritanya.

Semenjak dirinya berhenti bekerja memang sambal roa naik. Penjualan naik drastis dibanding sebelum dia berhenti bekerja. Bulan Januari omzet jualan sambal sudah mencapai Rp.30 juta, sedangkan April ketika ia tidak lagi bekerja mencapai Rp.170 juta. Produksi dua hari saja mencapai 500 botoh seharga Rp.37.500 botol yang mana tersebar ke seluruh Indonesia dan luar negeri.

Pasar mencapai Jerman, Kanada, Jepang dan Jeddah. Adapula salah satu pasar swalayan yang menjualnya di etalase. Meski begitu pesanan terbanyak ya dari distributor dan reseller. Salah satu kunci sukses menurut dia adalah kualitas bahannya. Ia tidak main- main soal kualitas ikan roa mentah itu. Ikan harus benar- benar kering agar tidak cepat berjamur. Sementara cabainya harus benar segar, memiliki batang berwarna merah segar.

Berkat usaha sambal Rima memiliki uang lebih. Resolusi terus dirancang olehnya hingga akhir tahun terwujud. Yakni ia bisa menabung, investasi tanah, serta wakaf untuk almarhum ayahnya. Kalau dibilang tidak punya uang sudah biasa. Tetapi ketika ia memiliki banyak uang rasanya luar biasa. "Ketika saya bisa memiliki uang dan membaginya dengan orang lain," tutup Rima.

Artikel Terbaru Kami