Jumat, 27 November 2015

Aplikasi Pembantu Rumah Anda Alfred

Profil Pengusaha Marcela Sapone dan Jessica Beck 


 
Mereka berdua baru saja lulus kuliah Harvard University. Arti kelulusan berarti membawa mereka ke dunia finansial sebenarnya. Tetapi Marcela Sapone dan Jessica Beck memilih melanjutkan pekerjaan mereka. Yah mereka sudah memulai itu semenjak bangku kuliah. Bukan tentang keungan tetapi tentang teknologi. Mereka merupakan pendiri startup Hello Alfred.

"Saya bekerja berjam- jam lamanya dan datang kembali ke apartemen yang itu sangat berantakan," Sapone bercerita kepada Business Insider.

Beck dan Sapone sadar tentang berantakannya bekerja keras. Dan, apakah mereka mempunya solusi untuk itu semua. "Jess seorang super, orang yang super berantakan, dan tidak akan pernah mengundang saya ke apartemennya," jelas Sapone. Hingga akhirnya dia bisa berkunjung ke rumah kawan karibnya tersebut.

Dalam delapan bulan sejak berkunjung, ia menemukan tumpukan cucian kotor dan itu seluas meja di dapur apartemen. Dia merasa ini sangat gila. Ini akan sulit hidup dengan cara begini tanpa bantuan orang. Akhirnya mereka menyewa jasa melalui iklan Craigslist. Orang itu akan datang ke rumah mengerjakan cucian dan juga membeli belanjaan mingguan.

Wanita yang disewa mereka, Jenny, datang ke apartemen melakukan permintaan mereka. Inilah awal kisah sukses startup Alfred.

Ini sebuah insiden yang membawa berkah. Mereka menciptakan layanan untuk mereka sendiri. Lantas mulai banyak orang menanyakan hal tersebut. "Hey, apa saya bisa mendapatkannya?" tutur Sapone.

Bisnis online


Alfred resmi diluncurkan di Boston Mei 2013. Di September 2014, mereka meninggalkan kuliah Harvard dan Boston untuk mengikuti ajang TechCrunch Disrupt's Startup. Awal usaha kecil yang dimulai dari langkah menciptakan banyak brosur menawarkan berbagai harga berbeda, dan layanan berbeda. Mereka menaruh mereka dibawah pintu mereka tetangga mereka di Boston.

"Kami sebenarnya berpikir bahwa ini adalah bisnis kecil- kecilan," ucapnya. Mereka mendapatkan pelanggan pertama mereka 10 orang. Melalui langkah tersebut Alfred sekarang bukan lah sekedar layanan normal. Mereka memiliki aplikasi sendiri seperti Uber atau Airbnb.

Mereka pun mulai mempekerjakan banyak orang. Mereka adalah Alfred Client Manager atau cukup Alfreds -menjalankan perintah untuk membeli belanjaan, memilah surat, mengantarkan paket, atau mungkin mencuci pakaian. Alfred memilik perbedaan dibanding layanan lain: rute! Melalui sistem tersebut maka setiap hal itu direncanakan.

Seperti halnya tukang susu yang mengantarkan layanan. Mereka selalu menjalankan rute khusus masing- masing tidak berubah. Seperti halnya mereka mengetuk pintu, mengambil botol kosong, kemudian tinggal taruh susunya. Sapone dan Beck masih kuliah bisnis ketika Alfred jalan; itu tidak mudah. Mereka sempat berpikir berhenti di bisnis ini loh.

Dan, ketika mereka menyatakan hal tersebut ke pelanggan, mereka ketakutan dan "memaksa" keduanya agar bekerja kembali ke layanan mereka. "Seluruh dunia akan menggapai mu ketika kamu menang," inilah dasar berbisnis sebenarnya. Ketika kamu memenangka hati pelanggan dengan layanan terbaik.

Orang membayar $99 per- bulan untuk layanan, dan tambahan untuk uang belanja. Tetapi ketika mendengar mereka akan bubar dan fokus di sekolah; mereka rela membayar $25- 90 per- minggu. Bahkan orang mau membayar $400 untuk layanan awal di Boston. Di November 2014, mereka mendapat uang $2 juta dari perusahaan CrunchFund, SV Angel, Spark Capital, selepas Alfred di New York.

Mereka sebenarnya akan meluncurkan di San Fransisco. Hingga mereka menemukan Kota New York lebih banyak pelanggan. "New York memiliki kepadatan penduduk tinggi dan ketersediaan tinggi dan aksesibilitas dari jenis vendor yang kita ingin gunakan," kata Sapone menambahkan.

Semenjak tuntutan akan "pegawai teta" digulirkan layanan seperti Uber, Lyft, dan Postamate mengalami satu perubahan -bisa dibilang tidak menguntungkan. Modal bisnis tidak terikat akan pegawainya ini memang mulai dipertanyakan oleh lembaga hukum. Tetapi beda dengan Alfred yang menyambut positif hal tersebut. Karena mereka menerapkan konsep berbasis pelanggan dan menyediakan layanan sebenarnya.

Alfred percaya akan pelanggan -gantinya adalah pelatihan, identitas jelas, instruksi, kepada setiap pegawai di Alfred. Total ada 86 Alfred yang mana mereka adalah anak rumahan. Menurut Sapone 70% tinggal bersama ibu dan mereka bukan orang biasa. Beberapa dari mereka adalah artis, penulis, aktor, atau mereka yang juga bekerja di kantor.

Sukses Alfred mampu membawa mereka bahkan diatas pesaing. Mereka bahkan akhirnya mengakuisisi si pesaing di New York, WunWun. Mereka memiliki konsep layanan berdasarkan permintaan pertama. Itu juga termasuk data base pelanggan mereka. WunWun juga memiliki teknologi menarik, pada dasarnya sistem yang hampir sama dengan Alfred.

"Sementara mereka menjalankan permintaan, mereka mengelompokan permintaan dulu dan mengoptimalkan rute, yang mana juga dilakukan kami. Kami hanya tidak melakukan hal- hal pada permintaan saja -kita membuat standar rute," papar Sapone. WunWun sendiri mampu mengatasi permintaan komplek dan panjang dari pelanggan.

Hari ini, Alfred memiliki 19 pegawai pusat dan terus tumbuh, dan mereka juga punya visi membuka di San Fransisco, Los Angles, dan berikutnya Washington DC. Sementara Alfred akan fokus di New York dan mulai menggaet pelanggan lebih. Untuk pendapatan it mencapai, di tahun 2014, kasarannya $350 per- member atau $4.500 per- tahun, dan terus tumbuh.

Artikel Terbaru Kami