Senin, 30 November 2015

Solusi Teknologi Pendidikan Ditangan Disleksia

Profil Pengusaha Kopf Bersaudara


 
Anak disleksia bukan beban tetapi berkah buat kamu. Beberapa pengusaha dunia tercatat memiliki disleksia. Ambil contoh pendiri Virgin, kemudian Apple, Ikea, Tommy Hilfiger, dan juga HP, adalah sosok anak- anak disleksi sukses. Mereka benar terseok- seok menghadapi hidup. Tetapi mereka bisa selama sosok orang tua selalu mendukung.

Mereka terlahir untuk berjuang, maka kamu wajib mendukung mereka. Mental mereka lebih kuat dibanding kita orang normal. Kisah lain yaitu kisah Brett Kopf,  mungkin namanya belum sebesar mereka, tetapi ia jadi salah pengusaha muda perubah dunia. Bahkan Forbes secara khusus membahas dirinya dan juga saudarnya, David Kopf.

"Ketika saya memulai sebuah perusahaan, saya berkata pada diri saya sendiri, jika saya tidak bisa membuat Ms. Whitefields sedunia lebih efisien dan membantu mereka sebagai guru, itu seharusnya akan menghasilkan ledakan besar dalam dunia pendidikan," papar Brett.

Pemuda 27 tahun yang sampai sekarang merasa "minder". Tetapi perasaan tersebut dirubahnya menjadi satu semangat perubahan. Dia pendiri Remind101. Brett adalah anak penderita disleksi ketika sekolah. Bahkan ia menderita ADD dan itu semakin sulit buat fokus. Bayangkan, dia sangat aktif tetapi ketika mengerjakan soal butuh waktu berjam- jam.

Dia duduk sendiri dalam kelas tertinggal. Ia harus mencari tombol fokus ketika mengerjakan. Mungkin satu mesin bisa menolong dia membaca sampai akhir buku. Coba bayangkan dia cuma membaca secara jelas di bagian awal kalimat. Ini termasuk kesulit dalam mengumpulkan tugas sekolah.

Hingga ia bertemu guru bernama Ms. Whitefields di sekolah. Berkat perhatian serta dukungannya membuat Brett menjadi percaya diri. Dia akan duduk berjam- jam bersama Brett selepas sekolah. Ms. Whitefields itu dengan sabarnya mengoreksi pekerjaan Brett. Memiliki hubungan dengan guru yang pengertian dan perhatian membuat nilai Brett naik drastis.

Tetapi semua berubah ketika masuk kuliah. Dan, Brett sudah memiliki visi sendiri tentang masa depan, yakni sebuah aplikasi komunikasi kelas. Ia mencoba menciptakan itu. Sedikit- demi sedikit lewat kerja yang ekstra keras bersama mengerjakan kuli silabus. Kesibukan, tekanan sekolah membuatnya makin jelas, dia butuh satu sosok perhatian seperti gurunya itu.
 
Ia lantas bercerita kepada David Kopf. Nah, si saudaranya inilah, yang lantas membuatkan sistem sederhana modal Excel- Base (basa pemrograman) berbentuk SMS notifikasi. Sistem itu mengirimkan pesan SMS kepada Brett ketika akan ujian atau tugas kuliah. Melalui program itu dua bersaudara ini mampu mengajak kurang lebih 2.000 anak kuliahan di tahun 2010.

Mereka berterima kasih atas layanan mereka. Tetapi selepas dua tahun, pertumbuhan berhenti dan mereka Kopf bersaudara meras itu tidak akan mencapai apapun. Mereka memutuskan menghentikan proyek. Tapi mereka masih percaya akan kebutuhan aplikasi komunikasi kelas. Jadi mereka mengikuti incubator untuk proyek startup edukasi Imagine K12.

Mereka menemukan beberapa kesimpulan: Bangun lah produk sederhana, bicara lah dengan pengguna, dan selesaikan masalah mereka.

Untuk menciptakan produk lebih baik serta layanan sempurna. David mulai lewat belajar coding, mengurung diri di kamar selama 16 jam setiap hari. Sementara itu Brett bertugas mengunjungi guru- guru dan mulai ikut mendengar apa kebutuhan mereka. Ia bahkan mencari ratusan orang lewat Facebook dan Twitter. Brett memang bukan guru jadilah kesempatan membangun komunikasi di kelas.

Aplikasi sempurna


Brett menemukan fakta bahwa guru masih menggunakan cara kuno. Contohnya, beberapa guru, menempel stiker pengingat di bahu anak "pekerjaan rumah besok". Dari situ muncul ide pengingat pekerjaan rumah bagi siswa. Awalnya, David tidak begitu masuk kepada konsep Brett ini. Hingga ia didengarkan langsung Brett melakukan panggilan Skype dan mulai berbicara dengan beberapa guru tentang konsep aplikasi baru milik mereka.

"Brett memegang kertas dengan tiga kotak, menjelaskan jika anda menekan ini, ini akan begini. Dan para guru mulai berteriak! Mereka mengatakan, 'Oh Tuhan, jika hanya anda bisa melakukan itu...," tutur David.

Jadi di awal 2013, Kopf bersaudara merilis aplikasi mobile mereka bernama Remind. Ini ditujukan buat para guru dimana mereka bisa berkomunikasi langsung -mengirim pesan kepada murid. Jangkauan juga mencapai tidak hanya mengingatkan pekerjaan rumah, tetapi ujian juga, dan bahkan konfrensi wali murid. Atau, guru juga bisa mengirim pesan teks atau suara 15 detik motivasi.

Guru juga bisa melakukan survei kecil- kecilan. Murid bisa memberikan respon guru seperti saran kemana kita harus jalan- jalan. Ini menciptakan tempat komunikasi langsung antara guru, murid, bahkan orang tua, jadi semua orang bisa ambil bagian saling membantu.

Jadi semua orang bisa saling membantu efektif. Semenjak diluncurkan aplikasi ini benar- benar meledak. Di September 2013 saja, Remind sudah punya enam juta pengguna aktif serta kurang lebih 65 juta komunikasi tercipta. Sekarang, Remind mengaku punya 18 juta pengguna di seluruh negara, yang mana 25% -nya guru di penjuru Amerika.

Bulan Agustus 2014, menurut Business Insider sudah bertambah 365.000 pengguna baru per- hari, langsung membuat aplikasi Remind menjadi top 3 paling banyak didownload di iOS AppStore. Ada 50.000 orang yang mendaftar per- harinya dan miliar pesan -tanpa marketing khusus apapun. Karena hal inilah, banyak VC tertarik mendanai aplikasi Remind, dimana total dana terkumpul mencapai $59 juta.

Secara garis besar, sepintas, memang Remind terlihat sederhana dan sudah banyak aplikasi menggarap sisi mereka. Semua orang bisa meniru sistem mereka. Tetapi bukan uang tujuan utama, selain itu Remind telah didukung data ilmiah dibaliknya. Ini kesuksesan industri teknologi bukan berbasis uang semata. Mereka telah punya banyak data feedback dari guru, orang tua dan murid.

Faktanya, Remind sudah mempekerjakan banyak teknisis asal Facebook sebelum sukses sosial media, yang tangguh jika berbicara tentang aneka data sosial media. Kopf bersaudara menekankan buak soal uang. Ini diyakinkan lewat jarangnya eksploitasi akan fitur premium. Mereka lebih fokus kepada dasar fiturnya yakni tentang koneksi semua murid, guru, dan orang tua untuk dunia pendidikan lebih baik.

"Kita hidup di hari di mana anda dapat mengklik tombol dan memanggil Uber, atau mendapatkan pizza disampaikan dalam dua menit. Tetapi jika anak anda gagal di sekolah, anda tidak mungkin menemukan selama tiga bulan," jelas Brett Kopf. "Dan kami ingin mengatasi masalah tersebut."

Artikel Terbaru Kami