Senin, 26 Oktober 2015

Piyikan Juara Sangsang van Fajar Rajai 20 Juta

Profil Pengusaha Fajar Wijayanto 


 
Punya hobi pelihara burung buat Fajar menjadi pebisnis. Pasalnya dia bukan sekedar hobi pelihara tetapi budidaya. Terutama budidaya burung merpati utamanya merpati balap. Tanya saja Fajar Wijayanto, maka senyum sumringah terkembang manis, ketika bercerita tentang bisnisnya. Fajar bermain merpati balap cukup lama dan berhasil budidaya. Bisnisnya ya berternak anakan merpati balap kelas super.

Apalagi untungnya didapat semakin tebal bila anakanya juara. Apalagi kalau memenangkan balapan tingkat nasional. Omzet burungnya mencapai ratusan juta rupiah loh. Sepadan uang yang harus Fajar keluarkan tentu lah. Berapa sih modalnya? Ia menuturkan sekitar Rp.60 jutaan. Dimana 20 juta digunakan untuk menebus marpati juara. Waktu itu uang tebusan segitu diperuntukan untuk sang merapati legenda Bandung, Sangsang.

Sedangkan 40 juta dikeluarkan untuk membeli dua ekor merpati jantan; ditambah lima ekor betina. Modal segitu dimaksudkan melahirkan burung merepati legenda lain. Mengembangkan keturunan legenda Sangsang butuh waktu dan ketelatenan. Ia harus memastikan piyikan atau anakan sehat. Belakangan, impian menjadi kenyataan, dimana setiap ekor anakan Sangsang van Fajar dihargai Rp.1,5 juta- Rp.2,5 juta.

Durian runtuh seketika ketika akhinya menjadi juara. Tahun 2007, Fajar berhasil mengangkat salah satu dari anakan legenda menang. Anakan ke- 29 yang diberinya nama Road Star merajai berbagai acara tingkat nasional. Total Road Star memenangi 13 lomba tingkat lokal dan nasional. Yang paling bergengsi ialah sukses menang Juara 1 Lomba Utama Nasional di 13 Mei 2007. Sukses Road Star melambungkan Davinci Faram miliknya.

"Ada penggemara merpati yang menawar Road Star dengan Rp.100 juta, tapi saya enggak lepas, karena saya minta Rp.175 juta," ujarnya singkat.

Pemilik Davinci Farm ini mulai menikmati nikmat berbisnis marpati. Laba utamanya adalah berjualan piyikan dari sang pemenang seharga Rp.1,5 juta- Rp.2 juta per- ekor. Sebulan setidaknya bisa melego jual sampai lima anakan. Omzet menurutnya mencapai Rp.20 juta setiap bulan. Padahal, perlu kamu tau teman, dia tidak fokus total di usaha tersebut. Ternyata Fajar mengerjakan ini sebagai bisnis sampingan saja.

Pekerjaan utamanya ya menjadi pegawai kantoran. Karena sifatnya sampingan bisa dipastikan Fajar tidak akan meninggalkan pekerjaan utama. Disisi lain, dia juga tidak akan meninggalkan bisnis budidaya merpati balap ini karena hobi. Dia menjelaskan apalagi merpati terbilang mudah dikembangkan. Fajar cukup selalu menyediakan pakan jagung serta kacang hijau. Ia dibantu lima pekerja setiap bulan yang dibayar Rp.2 juta per- bulan.

Satu pesan dari sang maestro merpati balap ini: kamu harus punya cita rasa akan merpati kamu. Pria yang sudah akrab dengan merpati sejak 1972 ini, memang punya ketertarikan khusus. Kalau mau eksis ya kamu musti punya hobi ini. "Kalau enggak hobi enggak akan jalan," terangnya. Enggak hobi merpati berarti enggak paham soal perawatan. Harus pula disertai pengetahuan mapan. Karena pada dasarnya anakan membawa watak induknya.

Indukan juara anak pasti bisa menjadi juara.

Artikel Terbaru Kami