Sabtu, 10 Oktober 2015

Inovasi Mesin Pemanas Pengusaha ITB

Profil Pengusaha Nafi Rasyid Parikesit 



Lulus ITB membawanya berpikir apa yang bisa dilakukan. Keinginan mengaplikasikan ilmu itu semakin besar ketika melihat masyarakat kesusahan. Mereka adalah para perajin tahu di Desa Cibuntu, Garut, Jawa Barat, membutuhkan penyelesaian. Ilmuan asli Indonesia ini lantas memilih konsep entrepreneurship. Bermodal uang sendiri membuat mesin pemanas atau boiler untuk mereka.

Sekarang Nafi Rasyid Parikesit menjadi incaran pengrajin tahu seluruh Indonesia. Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini tidak menyangka bisa begini sukses. Modal awal Rp.5- 10 juta, dalam perjalanan mesin boiler itu terus dikembangkan sampai sesempurna mungkin. Estimasi total modal dikeluarkan sampai total Rp.700- 800 juta. Terus balik modalnya? Per- mesin  dijual  Rp.45 juta dan dibeli oleh 50- 100 perajin satu gang.

Dimulai delapan tahun lalu, tepatnya tahun 2004, dimana Nafi tengah kebingungan soal tugas akhir. Dia tidak punya ide tentang inovasi teknologi apa. Hingga dia bersama seorang teman memutuskan membuat mesin boiler (pemanas). Konsep teknologi lama yang coba didaur ulang. Ia ingin menciptakan alat sederhana yang bisa digunakan masyarakat luas. Pengembangan pun terus dilakukan oleh pria yang akrab dipanggil Naf ini.

Tepat selepas lulus kuliah di tahun 2008, ia intensif terus melanjutkan pengembangan mesin boiler. Di tahun 2012 resmi mesin boiler bisa digunakan umum. "Saya buat desain sendiri, dari stainless dan las sendiri," ujar Naf. Soal biaya pembuatan memang tergolong mahal. Di tahun 2007 sampai tahun 2008 -an sudah keluar uang Rp.800 juta. "...karena pengembangan kita setiap tahun," jelas Naf.

Jadilah tidak begitu terasa biaya telah dikeluarkan. Tahun 2013 sudah dipasarkan di kampung perajin tahu Desa Cibuntu, Jawa Barat. Harga jual Rp.45 juta dan kebutuhan mesin boiler tersebut terus meningkat. Dia sendiri cukup kesulitan akan pesanan. Ada 19 pekerja mampu memproduksi 4 mesin sebulan. Pemesanan mesin sudah mencapai 1 gang atau 50- 100 orang perajin tahu. Untuk tenaga digunakan bahan bakar batu bara.

Tapi tidak memungkinkan sumber energi lain. Naf sendiri mencontohkan cangkang sawit, kayu atau ranting kayu, batok kelapa, juga bisa memanfaatkan biomassa. Kemudian bahan bakar tersebut dimasukan kedalam mesin blower turbo. Kalau energi kurang itu bisa digantikan tenaga listrik berenergi 750 watt. Lantas siapa saja pengguna mesin buatan Naf.

"Kebanyakan yang pesan itu di Bandung, Cimahi, Garut dan ada yang di Bantul, Solo, Cirebon," jelas Naf kepada Detik.com

Tidak cuma perajin tahu, ada perajin krupuk, kembang tahu, bahkan pengusaha agar atau minuman nata- de coco. Juga bisa digunakan oleh pengusaha jamur. Sebuah mesin yang hemat bahan bakar dan punya panas bagus. Kalau pakai gas menyerap panas 20%, mesin buatannya mampu menyerap panas 90%. Berkat mesin boiler tersebut banyak penghargaan dibawa pulang Naf. Yang paling bergengsi adalah penghargaan Bank Mandiri.

Nafi Rasyid memanangkan ajang Wirausaha Muda Mandiri. Juara pertama dari ajang tersebut untuk kategori Young Mandiri Technopreneur. Masuk kedalam kategori Teknologi Non Digital atas produk mesin boiler pembantu UKM ini.

Artikel Terbaru Kami