Senin, 19 Oktober 2015

Jual Kerupuk Ceker Tanpa Merek Gurih Untungnya

Profil Pengusaha Nyoman Wahyuliani


 
Kreatifitas memang tidak berujung. Bisa menjadi penopang kehidupan kita sampai esok. Tidak sedikit jiwa kreatifitas terlahir dari kesederhanaan. Bisnis kreatif yang mengambil ceruk pasar meski dalam kekurangan. Contoh nyata ya Nyoman Wahyuliani, seorang ibu muda yang bertahun- tahun menggeluti satu usaha sendiri; usaha pembuatan cemilan kerupuk ceker.

Melalui sentuhan tangan Wahyuliani menjadi epik. Usaha turun- temurun yang diwariskan oleh sang mertua bisa tetap bertahan. Jika dilihat kemasannya sederhana, tetapi tidak pernah tidak laku di pasaran. Pasar tidak jenuh akan produk kerupuk ceker ini. Bahkan permintaan terus meningkat setiap tahun. Serbuan cemilan asing atau lokal berkemasan modern tidak menyurutkan. Mereka tidak mampu menggeser gurinya kerupuk ceker.

Selama kualitas produk terjaga dan tidak tergantikan. Kemasan memang tidak masalah, jika kamu pandai- pandai mengambil pasar. Wahyuliani memilih berjualan dari warung ke warung. Menjual kerupuk ceker tanpa ada merek dagang. Usaha tersebut menyasar mereka kelas menengah ke bawah. Hasilnya? Dia tidak pernah telat mendapat bayaran.

Pasar modern



Wahyuliani tidak memaksa harus masuk ke supermarket. Dalam benaknya masuk pasar supermarket butuh modal besar. Tetapi keluarnya tidak mencukupi kebutuhan produksi. Harus memasang merek dan membuat kemasan baik. Tetapi disisi lain, dia tidak bisa mendapatkan uang sebelum dagangan laku. Bahkan meski ia dibujuk bantuan modal; tidak bergeming. 

Koperasi Srikandi pernah menawari ibu emapat anak ini modal. Dengan syarat harus mau memperbaiki dari segi kemasan. Namun itu belum juga kesampaian. Soal modal sendiri tidak menjadi kendala. Sekali produksi membutuhkan modal Rp.120 ribu. Itu untuk membeli 10- 12kg ceker ayam. Juga sudah termasuk pembelian bumbu. Ia juga cukup memakai peralatan dapur biasa. Untung yang bisa didapat sekali berproduksi Rp.100 ribu.

Mendapatkan bahan baku ceker ayam tergolong mudah. Dia mendapat dari tempat pemotongan di sekitar Paguyungan. Bahan baku sudah tersedia dalam jumlah cukup. Harga bahan baku juga sudah terjangkau. Dia membandingkan dengan harga daging ayam; ceker ayam jauh lebih murah. Ditingkat pengecer harga jualnya kisaran Rp.10 ribu per- kilo. Harga semakin murah jika punya koneksi membeli langsung.

"Bahan baku selalu saya dapatkan di tempat pemotongan ayam. Dalam sekali produksi saya hanya bisa mengolah 10-12 kg ceker ayam mentah," tutur Wahyuliani.

Pembuatan kerupuk ceker akan dikerjakan oleh dia dan kaluarga. Dari proses paling awal hingg akhir sudah dihafal diluar kepala. Dimulai dari membersihkan ceker dari kotoran, kuku, kulit yang berwarna kekuningan, yang terkadang terbawa dikulit ceker. Usai dicuci bersih tinggal masuk tahap perebusan. Tahap inilah yang menjadi tahap penting dalam proses pemasakan. Ceker ayam musti direbus dengan tingkat kematengan pas tidak kurang.

Kalau kurang matang maka akan susah memisahkan tulang. Kalau terlalu matang Wahyuliani mengingatkan itu akan hancur. Selepas direbus kemudian ditiriskan sambi diangin- anginkan. Barulah selepas itu masuk ke tahap pemisahan tulang. Menurut wanita 38 tahun ini, menjadi bagian tersulit dan memakan tenaga lebih banyak. "Biasanya saat mengerjakan proses ini saya dibantu oleh suami," tuturnya.

Proses pembubutan tulang itulah paling susah. Dia menyebut bahwa ini tersulit, apalagi ketika pesanan datang banyak. Ceker ayam yang telah bersih dari tulangnya diberi bumbu. Proses pembumbuan gampang loh cuma pakai bawang putih, garam, dan penyedap. Setelah dibumbui kemudian dijemur. Kemudian kamu campur itu dengan tepung beras agar teksturnya lebih baik. Usai itu tinggal digoreng, dikemas, kemudian bisa langsung dijual.

"Ceker tidak bisa langsung digoreng dihari yang samam," tutur Wahyuliani kepada Tabloid Galang Kangin.

Ketika direndam air bumbu maka baru besoknya digoreng. Tujuannya apalagi kalau bukan agar bumbunya meresap. Dia menjual kerupuk ceker ayam itu ke warung- warung terdekat. Disekitar tempat tinggalnya, namun kerap juga Wahyuliani menerima pesanan, yang mana akan diambil langsung oleh konsumen di rumahnya. Meski dijual tanpa merek tetap berjaya.

Artikel Terbaru Kami