Sabtu, 24 Oktober 2015

Strategi Asuransi Generali Garap Pasar Indonesia

Profil Pengusaha Edy Tuhirman



Wajah Generali Indonesia berada disosok satu ini. Direktur utama sekaligus penguat keberadaan perusahaan di negeri Indonesia. Dia adalah seorang mantan engineering di Papua sana. Sampai akhirnya, Edy Tuhirman tersesat masuk ke dunia perbankan dan asuransi. Pria kelahiran 19 Maret 1964, yang punya trik jitu membangun ide baru.

Dia mensarankan kamu perbanyakkah traveling dan ide itu akan datang sendiri. Hasilnya bisa dilihat dari kinerja asuransi Generali Indonesia. Meski persaingan asuransi Indonesia terbilang ketat. Generali termasuk terkuat. Salah satu ide bisnisnya yaitu lewat asuransi traveler. Enaknya menurut Edy besar premi tergantung panjang perjalanan. Lewat iTravel ini diharapkan mampu mengkover traveler. Ini sejalab dengan hobi travel Edy.

Layanan iTravel meliputi layanan rawat inap, perawatan gigi paca kecelakaan, evakuasi, pemulangan, dan lain- lain.

"...pemegang polis dapat langsung menghubungi nomor telepon yang kami berikan dan orang kami akan memandunya," kata Edy.

Tahun 2008, ketika dirinya dan keluarga jalan- jalan, dari sana ditemukanlah produk unitlink. Lewat traveling Generali Indonesia mampu maraup untung besar. Traveling juga termasuk caranya menatap masa depan dari ekonomi Indonesia. Istilahnya semakin baik ekonomi semakin banyak orang berpikir membeli asuransi. Nah, selain mencari ide bisnis, traveling menurut Edy juga hobi. Disana dia belajar tentang fotografi dan menikmati hidup.

Awal baru


Generali Indonesia sebenarnya sudah berdiri sejak 1994. Dimana namanya saat itu masih Asuransi Jiwa Arta Mandiri. Hingga 1999, nama perusahaan berubah Asuransi Jiwa AMP Panin Life. Kemudian berubah lagi ketika diambil alih oleh Generalis Asia N.V. Sosok Edy sendiri menjadi dibalik bangkitnya Generali dari nol. Dia dulunya adalah mantan teknisi di Papua. Masuk ke perbankan dan Asuransi dipercaya ekspansif untuk Generalis.

"Saya mulai di industri asuransi sejak 6 tahun lalu, memulai Generali dari nol hingga membesarkan sampai sekarang," tuturnya.

Dia menyebut sukses bisnis dimulai dari bermimpi. Kemudian kamu harus punya sebuah bisnis model. Apa yang tengah kamu kerjakan dan akan capai kelak. Edy mengibaratkan usahanya seperti tim sepak bola. Ia lantas menambahkan, "cari orang yang tepat di posisi tersebut." Prestasi terbesar? Dia mengisahkan tentang kisahs seorang pengusaha siomay asal Semarang. Berkat Generali, dia sekarang bisa sukses bahkan punya mobil.

Mimpi Edy layaknya CEO lain yakni membesarkan perusahaan. Utamanya tentang bagaimana asuransi bisa mengkover semua hal. Dia meyakini lewat asuransi keluarga akan kuat. Jikalau keluarga telah terlindungi dari asuransi maka Indonesia akan kuat.

Perusahaan asuransi asal Italia ini memang bertumbuh pesat. Sejak mulai masuk 2009, lewat tangan dingin dari Edy, peringkat Generali masuk enam besar dan premi tumbuh sampai Rp.500 miliar. Tumbuh dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Dari September 2011, menurut Edy kepada Majalah SWA, pendapatan premi dari Generali mencapai Rp.400 miliar. Atau itu tumbuh 95% dibanding harapan Edy Tuhirman dari tahun sebelumnya.

Untuk mencapai angka lebih tinggi. Dia mengatakan Generali akan fokus mengambangkan satu- per satu. Ia tidak langsung menggarap saluran distribusi yang sudah ada. Untuk pertama kali, Generali langsung tancap gas lewat asuransi kesahatan employee benefit. Cuma bermodal fokus itu saja sudah bisa masuk ke 6 besar perusahaan asuransi. Tahun 2010 Generali mulai menggarap channel asuransi seperti kerja sama dengan satu bank.

Melalui strategi cabang asuransi lewat bank terbukti manjur. Kerja sama ini menaikan premi 55% dari pihak mitra banka. Untuk saat ini, Generali fokus bermitra dengan empat bank, utamanya yaitu ANZ, DBS, dan BTPN. Edy menekankan ini bukan kerja sama jangka pendek. Generali aktif menyeleksi calon mitra bank sendiri. Tahun 2011, konsep agensi asuransi dikembangkan dan booming besar. Total 2000 agen berlisensi resmi.

Artikel Terbaru Kami