Rabu, 07 Oktober 2015

Kripik Tempe Suka Bertoples Aneka Rasa

Profil Pengusaha Fransiska Sarwono 



Ide pertama bisnis Fransiska Sarwono tak perlu jauh. Cukup melanjutkan apa yang pernah ia lakukan dulu bersama ibunya. Usaha kripik tempe yang pernah ikut membantu biaya kuliah. Kala itu, Siska -panggilan akrab Fransiska Sarwon- masih ingat bagaimana sulitnya mencari uang. Tahun 1997 dimasa dimana ekonomi Indonesia tengah memburuk. Siska harus berpikir keras bagaimana bisa menghasilkan usaha sampingan.

Tempe memang sudah naik kelas. Sumbangsih Siska berupa kripik tempe bernama Kripik Suka. Alkisah, semua berawal dari krisis ekonomi. Membawa hidup susah semakin susah. Apalagi dia tengah menjalankan pendidikan kuliah di Yogyakarta. Ketika kembali ke Magelang, kota asalnya, bersama sang ibu merintis satu usaha sampingan. Modal seadanya dan peralatan dapur di rumah menjadi pilihan.

Berpikir keras usaha sampingan apa yang membantu studinya. Hingga nasib menuntun Siska membuat kripik tempe Suka. Pertama berproduksi masih sederhana dan sekala rumahan. Sewaktu itu di tahun 1997- 1998 dia bersama sang ibu berjualan kripik tempe di Magelang. Mereka berkeliling dari rumah- ke rumah naik mobil bak terbuka. "Susah sekali," ujarnya dalah satu sesi wawancara Ciputraentrepreneurship.

Sambil berkuliah di Yogyakarta, Siska ketika pulang ke Magelang akan membawa setumpuk kripik tempe. Dia mulai menawarkan itu kepada teman- teman kuliah. Istilahnya "menodong" mereka agar mau membeli kripik buatannya. Tidak berhenti disitu, dia juga mulai menitipkan itu ke salon- salon atau warung terdekat disekitaran kampus. Hasilnya ternyata cukup memuaskan. Meski begitu ada saja masalah menerpa bisnisnya.

Berusaha makin keras bukan berarti terhindar dari kegagalan. Suatu ketika kemasan kripik tempenya rusak semua dimakan tikus. Itu karena kemasan kripik masih sangat sederhana. Kantong plastik itu robek dimakan tikus tanpa sepengetahuan pemilik warung. Alhasil Siska rugi besar karena tidak terjual. Apalagi si pemilik warung tidak mau tahu dan meminta pengganti. Siska waktu itu menyanggupi ganti rugi dengan ikhlas.

Baginya warung itu masih punya prospek bagus. Bukan tidak laku malahan laku keras, hanya saja Siska sedang terkena apesnya.

"Ini saya jadikan pelajaran. Setelah kejadian itu kami masih terus titip barang ke sana karena kami lihat prospeknya bagus," ujarnya.

Dua pilihan tengah dihadapi oleh Siska sebagai pengusaha. Apakah memilih mundur atau tetap maju. Dan ia memilih untuk tetap maju apapun halangannya. Cara terbaik yaitu lewat mempelajari apa masalah utamanya. Keinginan kuat menjalankan konsep entrepreneur ada dalam benaknya. Memang, sejak dulu kala, Siska ingin menjadi pengusaha sukses dan itu lewat Kripik Tempe Suka.

Dia berpikir kegagalan adalah pembelajaran. Pelajaran pertama ialah bagaimana memperbaiki kemasan dari produk tersebut. Siska juga belajar untuk tidak terlalu banyak menstok barang. Selepas lulus kuliah ada ide bisnis baru yaitu pelatihan bahasa asing. Kedua bisnis itu dijalani olehnya tanpa beban. Namun, ketika sudah menikah lain soal, ibu dua anak ini harus rela harus ikut sang suami dan berhenti berbisnis.

Sekembali dari perjalanan luar kota saatnya berbisnis kembali. Siska fokus melanjutkan bisnis kripik tempe yang berkonsep beda. Lebih modern, variatif rasa, dan bagus kemasannya. Ia melakukan variasi rasa terdiri dari enam varian rasa, yaitu original, daun jeruk, kencur, pedas, super pedas, dan keju. Soal kemasan ada toples dan plastik. Untuk kemasan plastik seharga relatif murah Rp.7.500, kemudian ada kemasan toples Rp.19.000.

Melalui pembaharuan tersebut berharap pasar lebih tinggi. Dia mencoba memasarkan produknya ke gerai- gerai makanan di sekitar Jakarta. Siska juga mulai bekerja sama dengan pihak lain. Seperti menjual khusus di sebuah supermarket buah dan sayur. Kripik Tempe Suka juga mencoba masuk lebih dalam ke pasaran luar kota. Agar tidak monoton orang Jakarta saja, tapi juga bisa dinikmati semua warga Pulau Jawa.

"Kemarin dari Sulawesi sudah ada yang Tanya, mudah-mudahan bisa kita taruh di sana. Di medan juga kita sudah mau masuk," ungkap salah satu anggota komunitas TDA ini.

Dia berharap masuk bahkan ke supermarket besar. Merealisasik mimpi butuh perjuangan panuh. Pernah satu kali dia ditolak -dipandang sebelah mata salah satu supermarket besar. Ketika Siska menawarkan sampel ke mereka malah disuruh ditaruh di resepsionis. "Beberapa hari kemudian saya telepon orang purchasingnya, eh ternyata belum dilihat," ceritanya.

Tidak berhenti disitu, mimpi lainnya adalah menjadikan Tempe Kripik Suka ke luar negeri. Dia berharap bisa menjadi eksportir tempe kripik. Dirinya tertantang membawa makanan khas Indonesia ini sampai ke seluruh dunia. Produk luar negeri bisa laku kenapa dalam negeri tidak. Untuk hal ini benar- benar dicoba Fransiska Sarwono kedepannya.

Artikel Terbaru Kami