Minggu, 25 Oktober 2015

Fotokopi Percetakan Xerography Layanan Prima

Profil Pengusaha Harjanto Sudarsono 


 
Nama Harjanto Sudarsono begitu asing diteling kita. Apasih bisnis pengusaha muda yang satu ini. Dia cuma seorang pengusaha fotokopi. Lantas apa hebatanya dari usaha tersebut. Usaha yang katanya merupakan satu warisan keluarga. Sebagai seorang penerus bisnis keluarga ceritanya sangat menarik. Dimulai ketika usia Harjanto masih 22 tahun di 1992.

"Saya mendapatkan warisan usaha itu setelah ayah saya meninggal dunia tahun 1992," kenang Harjanto lagi.

Terpaksa itulah kata pertama terucap dari mulutnya. Terpaksa dijalankan, awalnya usaha fotokopi ini ya seperti fotokopi biasanya. Tidak memiliki perbedaan dibanding pesaingnya. Orang tua Harjanto menyewa satu tempat di kawasan pasar tradisional di Bogor, Jawa Barat. Usaha fotokopi standar dimulai sejak 1987 dan benar- benar tidak menarik perhatian Harjanto.

Lebih- lebih dia harus meninggalkan bangku kuliah. Padahal masih ada dua orang kakak, yang pada akhirnya menyerah tanda tak sanggup. Ya, dia pun terpanggil melanjutkan, menghadapi tantangan dari bisnis sebagai orang super awam. Ditambah fakta sang ayah punya tanggungan hutang Rp.100 juta. Tidak mau patah arang mulailah dari nol lagi. Hal pertama dilakukan olehnya kala itu adalah membongkar sendiri mesin fotokopi tua.

Jadilah mesin fotokopi menghasilkan kopian bagus. Untuk menekan biaya produksi, dia memilih membeli mesin fotokopi bekas. Diperbaikinya sendiri kemudian dijadikan layaknya baru. Soal satu ini dia mau belajar sendiri karena terpaksa. Mau gimana lagi, Harjanto memang awam soal bisnis fotokopi, istilahnya kalau pun ditipu mekanik, dibelikan suku cadang palsu, ya alamat nasib sial. Untung semangat belajar Harjanto masih kuat.

Otodidak


Semua belajar otodidak dari menjalankan dan sampai bisa memperbaiki mesin fotokopi. "Saya terus belajar sampai bisa bongkar pasangs sendiri," jelasnya. Bisnis fotokopi memang masih menjanjikan kala itu. Dalam rentang waktu cukup singkat sudah bisa tumbuh stabil. Hingga, tahun 1996, Harjanto mantap membuka satu cabang di Cibinong, Bogor.

Terus berekspansi bahkan sampai ke luar kota. Dia resmi mendirikan perusahaan PT. Xerography Indonesia. Dilakukan bersamaan pembukaan cabang fotokopi pertama di Jakarta. Terus berekpansi sukses Xerography mampu meluniasi hutang sang ayah. Dia membayar melalui sistem mencicil. Barulah terlunasi ketika masuk ke tahun 2000 -an. PT. Xerography sendiri berkembang tidak cuma fotokopi. Bisnisnya telah merambah bisnis percatakan.

Kunci sukses bisnis fotokopi alanya: pelanggan harus terpuaskan. Layanan prima selalu ditonjolkan seorang Harjanto Sudarsono. Prinsip jujur pantang menyerah menjadi cara pemilik dari PT. Xerography ini. Alhasil, dia menakankan pelayanan menjadi modal utama. Ambil contoh kisah seorang artis yang datang ke tempatnya. Dia memintanya membuatkan buku mewah. Soal anggaran sang artis sama sekali tidak ambil pusing.

Soal anggaran tidak masalah asal hasilnya bagus. Terkejut, sang artis mendapati Harjanto menyarankan dia memakai kertas murahan. Kertas HVS berawarna kuning tersebut pasti membuat bergidik. Tetapi ia terus mencoba meyakinkan bahwa ini cocok. Pada akhirnya sang artis terkesan atas penjelasan Harjanto soal pilihan tersebut. Dia berpikira kalau buku perjalanan karir baiknya pakai kertas ini.

"...pakai kertas HVS kuning yang menimbulkan kesan kuno," kata Harjanto.

Tentu bukan serta mereta begitu. Awal dibuatlah dua versi buku yaitu kertas mahal dan HVS kunging murah tersebut. Ternyata terlihat "wah" justru kertas berwarna kuning tersebut. Dia meyakini meski pelanggan bisa mahal; harus bisa tidak berasa kemahalan. Intinya memberikan pelayanan meyakinkan. Kalau mahal tetapi ternyata cuma bua mengambil untung besar dan hasilnya jelek.

Sampai sekarang sang arti itu menjadi pelanggan tetap. "Intinya saya tidak ingin pelanggan merasa kemahalan dan memikirkan keberlanjutan," pungkasnya. Selain itu, ia juga menyampaikan layanan cek ulang file dicetak. Meyakinkan bahwa barang dibawa oleh pelanggan benar. Itu sudah termasuk satu layanan konsultasi bahan kertas paling tepat. Dia menuturkan proses awal ini penting karena 70% biaya tergantung bahan cetak.

Harjanto menyarankan bahwa desain mewah tidak tergantung bahan mahal. Efek mewah muncul kalau saja bahan itu sesuai penggunaan. Selain itu sudah termasuk aspek penghematan biaya. Pentingnya konsultasi jadi andalah usaha fotokopi miliknya. Usaha lain, dia menyiapkan tim tersendiri, yakni satu tim desain yang sudah punya pengalaman mendesain. Buktinya ialah kemanangan atas ajang desain bertingkat Asia kategori Art Fotobook.

Dia cuma berharap apa yang dilakukanya mampu memuaskan pelanggan. Layanan prima menjadi andalan utama seorang Harjanto. "Dengan begitu bisnis bisa berkembang," ujarnya singkat. Dia juga percaya diri bisa memenangkan sengitnya persaingan bisnis fotokopi.

Pegawai bukan aset


Kalau mungkin di bisnis lain pegawai adalah aset. Menurutnya pegawai merupakan rekan kerja yang harus diajak kerja sama. Dia pun tidak segan mengadakan pelatihan dan pendidikan bagi mereka. Bahkan sampai ke luar negeri segala. "Pernah dua orang, kami training sampai ke Singapura," paparnya. Adapula yang bisa sampai ke Jerman mengunjungi pameran mesin fotokopi. Sekitar 20% karyawan sudah menikmati aneka pelatihan ini.

Semua penting bagi perkembangan si karyawan sendiri dalam bekerja. Ia bahkan tidak memandang bulu tentang siap orangnya. Ambil contoh seorang office boy cerdas yang diberinya kesempatan belajar bahasa Inggris. Ini fakta bahwa pegawai bukanlah aset seperti didengungkan. Pria kelahiran Bogor 1969 ini sendiri turun tangan memberi penilaian. Ia tengah membayangkan tim kerja masa depan PT. Xerography Indonesia (XG).

Ia masih punya sejuta mimpi bersama XG. Itulah mengapa dirinya begitu getol memperkuat garis depan dari perusahaan. XG bukan sekedar tempat kerja jelasnya. Kebijakan memberika pelatihan dan pendidikan juga membuat kesal. Lantara pegawai yang sudah belajar malah bekerja di tempat lain. Ia mengaku hal tersebut sudah sangat sering terjadi. Termasuk pegawai yang sudah mendapat training mesin fotokopi di Singapura itu.

Dia sadar bahwa perlu pembenahan di SDM. Agar tidak siapa keluar dari XG akan merasakan rasa ingin kembali lagi. Sukses di bisnis fotokopi merambaha digital printing. Apalagi hal ingin dicapai seorang Harjanto adalah bisnis XG Cyber. Ia ingin mengembakan percetakan lewat dunia maya. Dia juga berancang membuka waralaba XG. Itu untuk jangka panjangnya sih. Tetapi dia sudah mempersiapkan betul semua kemungkinan tersebut.

"Kami akan fokus pada percetakan laporan tahunan perusahaan, majalah internal institusi, hingga pelbagai buku," tutupnya.

Artikel Terbaru Kami