Selasa, 13 Oktober 2015

Usaha Sampingan Tak Perlu Resign Pekerjaan

Profil Pengusaha Kartini 



Usaha sampingan yang awalnya cuma coba- coba. Lama kelamaan, Kartini keterusan mengerjakan usaha barunya tersebut. Bayangkan saja dalam dua bulan sejak dibuka. Dia sukses mereguk untung bahkan bisa balik modal  langsung. Usut- punya usut ternyata jiwa wirausaha itu sudah lama. Kini, modal itulah yang dibawa membesarkan usaha siomay Mommy's Kitchen.

Bukan hal baru bagi wanita kelahiran Tanjung Pinang, 21 Maret 1972 ini. Kartini sudah biasa berdagang sejak dini. Dulu ketika sekolah dasar sudah berdagang kue. Sejak SD, ia terbiasa bangun pagi, dibawanya kue- kue bikinan ibunya ke warung. Kemudian ketika sore tiba dikunjunginya warung lagi. Tangan kecil itu sudah biasa menghitung keuntungan. Tidak hanya berjualan kue. Ketika ibu membuka warung nasi, dia juga ikut membantu.

Kartini akan ditugasi berbelanja ke pasar. Sejak subuh, sebelum matahari tampak, anak seusia itu sudah ada di pasar berbelanja. Dia tidak merasa dipaksa oleh keadaan tersebut. Selepas belanja barulah berangkat ke sekolah. Ketika pulang sekolah, Kartini akan membantu sang ibu menjaga warung miliknya. 

"Kasihan tak ada yang menemani dia," kenang Kartini.

Dari usaha tersebut, Kartini kecil mendapat tambahan uang jajan. Dia mendapat beberapa ribu buat membeli buku cerita atau baju baru. Itulah awal jiwa wirausahaan Kartini terus tumbuh. Perasaan senang ketika kerja kerasnya dihargai. Bukan soal uang sih, tentu karena anak sekecil itu tidak paham soal untung rugi. Dalam benaknya ada kesenangan bisa membantu dan apa itu penghargaan.

Jiwa wirausaha membawa Kartini berbisnis kembali. Sambil berkuliah di Akademi Bahasa Asing Lampung, Kartini memulai berbisnis sendiri. Sambil sibuk berkuliah sambil berjualan kosmetik. Teman sekampus pun merespon baik. Itu membuatnya semakin besemangat. Ketika berkuliah di London School, Jakarta, dia lalu mulai berbisnis kembali. Prinsipnya jalankan apa saja asal menghasilkan. Alhasil tidak ada bisnis yang bisa berjalan awet. 

Kebanyakan berganti- ganti setiap ada kesempatan. Dia belum berpikir menyeriusi usaha apapun. Selepas kuliah dan bekerja, dia kembali mencoba berbisnis kembali cuma berbeda dari sebelumnya. Cuma dia sudah menyadari bahwa tidak bisa sembarangan. Kartini memilih untuk masuk seminar. Dia mencoba mencari tau ide bisnis sampingan awet.

"Dari seminar itu saya mendapatkan ilmu bahwa bisnis harus dilandasi dari hobi kita," terang Kartini.

Hasil seminar


Selain mengenai bisnis harus mengikuti passion. Kartini belajar banyak tentang manajemen bisnis UKMKU. Sekembalinya dari sana, Kartini mantap mau memulai usaha kembali. Ibu dari satu anak bernama Kanzie ini tidak menarik kata- katanya. Dia langsung membuat aneka makanan seperti mie, empek- empek, bakso, dan siomay. Pokoknya apa saja yang itu disukai masyarakat umum.

Sebelum dijual ke masyarakat umum. Hal pertama dilakukan Kartini menjualnya ke keluarga terdekat. Dia tidak percaya diri akan hasilnya. Dia sempat takut kalau- kalau makanan itu tidak akan laku. Untung respon mereka ternyata positif bisa dijual. Karini pun semakin bersemangat mengembangkan usaha ini. Enam bulan kemudian dijualah semua itu ke masyarakat. Marketing awal cukup membagikan brosur ke tetangga dan dekat kantor.

"Kebetulan tempat tinggal saya dekat dengan kampus," terusnya. Ia tidak meninggalkan kesempata tersebut. Dia mulai menjajakan daganganya disana. Ia memberi nama bisnis ini Mommy's Kitchen. Dari kos- kosan terdekat mulai mendatangi kosan teman. Begitu seterusnya menjalar jauh sampai ke berbagai arah. Di tempat kos 30 kamar tersebut dibagikan lah brosur lagi. Ternyata menghasilkan, terbukti melalui pesanan yang mulai ramai datang.

Modal Rp.7 juta kembali modal bahkan untung dibulan kedua. Sang suami ternyata juga membantu dia agar bisa begini. Dia ikut menawarkan makanan itu ke teman- teman kantor. Dari situ pulalah pesanan bertambah datang banyak. Berkat usaha tersebut rata- rata menghasilkan uang tambahan Rp.10 juta/bulan. Dia cuma mengerjakan aneka makanan/jajanan khas. Seperti hal pempek, lumpia, pisang goreng, bakso, tekwan, mie ayam, dll.

Untuk siomay paling mendapatkan sambutan baik. Seminggu saja orderan khusus siomay berkali- kali. Oleh karena itulah diadakan layanan kirim. Kartini memberikan minimum pembelian buat satu ini. Siomay akan siap diantar ke rumah kamu masing- masing. Minimal order mencapai 300 buah untuk perusahaan. Perorang minimal Rp.25 ribu tapi cuma kawasan Kuningan dan Sudirman.

Apakah dia berhenti bekerja?

Ternyata tidak sama sekali. Malah Kartini bisa membuka lapangan pekerjaan. Dia mempekerjakan empat karyawan sehari- hari. Tiga orang diplot menjadi juru masak dan satu orang menjadi kurir antar. Kedapan, apa lagi yang bisa dilakukan Kartini buat usaha sampingan ini, ia mau membuka bisnis kantin. Bayangkan kantin sekolah atau kantor khusus menjajakan masakan bikinan Mommy's Kitchen.

Artikel Terbaru Kami