Jumat, 02 Oktober 2015

Prospek Slondok Renteng Bisnis Kuno

Kisah Sukses Pengusaha Purwanto



Usaha slondok renteng Pak Mul ini memang sudah ada sejak lama. Syukur ada internet mebawa namanya semakin terlihat. Mulai sangat terkenal semenjak becana Merapi 2010. Usaha ini yang sebenarnya sudah ada sejak tahun 1960. Waktu itu masih dikerjakan oleh kakeknya, kini mulai gencar dipasarkan kembali oleh sang generai ketiga. Dialah Purwanto yang memasarkan kembali slondok renteng itu kembali.

Meski di era modern, soal cara pembuatan dan bahan- bahan slondok masih dipertahankannya. Ia menyebut agar cita rasa tidak berubah. Memang secara cita rasa memang khas sekali. Agar ciri khas yang membuat ini menarik semakin diperjelas. Tetap dipertahankan berenteng- renteng seperti dulu. Meski sekarang sudah ada pembungkus plastik. Purwanto tetap merentengnya dalam satu ikatan.

"Jadi kenapa dinamai slondok renteng? Dulu saat jualan kanjarang ada plastik. Jadi kakek menjualnya dengan direnteng memakai ikatan bambu," tutur Purwanto.

Sudah setengah abad umurnya dan masih terjaga. Dan kini, Kuliner legendaris ini siap mengguncang selera kamu. Purwanto menyebut proses pembuatan slondok renteng masih sama. Terjaga mulai dari pemilih bahan baku singkong, pengkukusan, dan kemudian dimasukan ke mesin penggiling. Dibutuhkan setidaknya dua hari untuk proses pembuatannya.

Purwanto mengambil singkong langsung dari petani di Turi. Cuma dibumbui bawang putih dan garam. Tanpa ada penyedap rasa sudah siap slondok singkong. Untuk mengawetkan jajanan ini dibutuhkan sinar matahari panas. Dijemur sampai benar- benar kering, baru dipelintir- pelintir sampai membentuk cincin, "Lalu dikemas dan digoreng," jelasnya kepada Sindonews.

Jika dijual perenteng harganya Rp.11.000/bungkus berisi 30 renteng. Sementara kalau kamu membeli tidak direnteng seharga Rp.22.000/kg. Penjualan sendiri tidak ada di warung atau toko oleh- oleh. Purwanto pun mengajak ke Boyong, RT 01/10, Hargobinangun, Pakem, Sleman. Atau, kalau kurang paham, masuk ke arag barat menuju Museum Gunung Merapi. Lewat museum itu berjalanlah sekitar 100 meter atau tanyakan orang.

Pamor slondok renteng ini yang makin beken. Bahkan mampu menarik pemilik toko oleh- oleh rela datang. Banyak sekali pesanan mendatangi Purwanto di rumahnya. Toko oleh- oleh Yogya sudah hafal betuk karena sudah sering mondar- mandir. Meski tempatnya agak tersembunyi, tetap saja berbondong- bondong mereka datang. Selain pemilik toko oleh- oleh, adapula rombongan wisata atau anak SD yang tertarik untuk melihat langsung.

Mereka ingin melihat langsung cara pembuatan. Udah banyak, ada juga rombongan wisatawan atau anak sekolah kesini untuk sekedar melihat langsung proses pembuatannya," ceritanya lagi. Meski mereka juga jadi mengetahui cara pembuatannya bahkan resepnya. Purwanto mengakut tak pernah khawatir. Prinsip dipegang olehnya, "Tongseng saja dengan bumbu yang sama, tapi pembuatnya berbeda, rasanya juga berbeda," jelas Purwanto lagi.

Bisnis parsel khas


Purwanto pemilik slondok renteng Pak Mul merasakan betul. Merasakan betul dampat cepatnya informasi tersebar lewat internet. Meski tidak secara spesifik memasarkan produknya. Dalam waktu beberapa tahun belakangan penjualan slondok naik. Ia mengaku naik sampai 10 kali lipat. Kalau biasanya Purwanto cuma bisa membuat 10- 20 bungkus.

Kini, slondok yang diproduksi di Dusun Boyong, RT 01/10, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, telah memproduksi 70- 100 bungkus. Banyak wisatawan berkunjung dan membelinya ketika melewati Kaliurang. Mereka wisatawan Kota Yogyakarta pasti akan menyempatkan mampir. Purwanto menyebut peningkatan siginfikan ada di bulan Ramadhan. Jika biasanya membutuhkan 2 kuintal bahan singkong naik jadi 20 kuintal plus 5kg.

Tidak cuma slondok renteng Pak Mul yang ada di Sleman. Purwanto bersama warga satu kampunya tengah mencoba berkolaborasi. Bersama warga Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman, mencoba bekerja sama di bidang kuliner khas bertema "Parsel Lereng Merapi". Lewat parsel- parsel anyaman bambu cantik yang siap diisi aneka jajanan khas. Inilah cara terbaru meningkatkan brand khas jajanan lokal.

Apa saja bisa didapat dari satu parsel?

Ada jajanan ampyang, susu bubuk kambing ettawa, kopi khas yang ditanama di lereng merapi, peyek, madu, jamu godok, dan banyak lagi. Dan, yang paling menarik perhatian apalagi kalau bukan ada slondok renteng. Purwanto selaku pemilik slondok renteng Pak Mul menyebut ini cara baru. Menawarkan paket sekaligus menaikan nama Sleman. Parsel sendiri dibandrol seharga Rp.250- 500 ribu. Ini belum termasuk ongkos kirim.

Artikel Terbaru Kami