Sabtu, 17 Oktober 2015

Penemu Metode Jarimatika Septi Peni Wulandani

Kisah Penemuan Metode Matematika 



Dia bukan ibu rumah tangga biasa. Perempuan asli Salatiga yang menghabiskan sekolah menengah disana. Ia lantas hijrah sampai Semarang berkuliah di Universitas Dipenogoro. Septi Peni Wulandani mengambil jurusan Ilmu Gizi. Rencana menjadi pegawai negeri sipil sudah terbuka luas. Pasalnya, Septi masuk jalur kedinasan, dan sayangnya, rencana itu buyar gara- gara suami. Sang suami meminta agar fokus mengurusi rumah tangga saja.

Gagal menjadi PNS, Septi cuma menjadi ibu rumah tangga biasa. Pesan sang suami masih terngiang jelas di telingan perempuan berjilbab ini. "Anak itu mendapatkan pendidikan langsung dari orangtuanya, bukan dari orang lain" kenangnya. Keputusan mengikuti kehendak suami cukup menyentak. Terutama kedua orang tua Septi. Mereka menganggap PNS adalah pekerjaan yang terjamin di hari tua.

Tahun 1995, Septi diboyong suami yang pegawai bank ke Jakarta. Mereka harus menetap di Depok, Jawa Barat. Ia sendiri sebenernya selalu iri melihat kehidupan wanita karir. Sudah setahun tidak lagi bekerja, Septi masih ingin bekerja. Diskusi panjang pun terjadi diantara pasangan ini. Ia terngiang ucapan sang suami jelas waktu itu, "kesuksesan seorang perempuan dimulai dari dalam rumah tangga dan akan tampak hasilnya di luar."

Hasrat bekerja meredup ketika putri pertama lahir. Dialah Nurul Syahid Kusuma, mulai membuat Septi jadi menikmati peran ibu rumah tangga. Pekerjaan yang tidak bisa disepelekan. Tidak semua orang bisa menjadi ibu yang baik. Ibu menurut Septi bukan golongan second class. Mereka bukan yang cuma berpakaian daster seharian. Justru perempuan musti bangga ketika menjadi ibu rumah tangga. Ini profesi mulia dan alami bagi seorang ibu.

"Bayangkan kita harus mengelola semua urusan rumah," ujarnya.

"Bekerja" menjadi ibu rumah tangga bukan berarti diam. Dia aktif mencari tau soal beraneka macam. Tujuan akhirnya bagaimana agar menjadikan rumah kantor. Septi mulai menyusun jadwal kerja. Dia mulai banyak baca buku tentang parenting. Juga aneka buku inspiratif buatnya ibu rumah tangga. Dia bahkan ikut kuliah umum tentang pendidikan. Jadwal kerja tersebut dimulai dari pukul delapan pagi sampai empat sore.

Bahkan, kalau di rumah, Septi percaya diri berpakaian rapi layaknya wanita kantoran. Ia menjadikan rumah menjadi kantor. Di jam kerja termasuk belajar berbagai keterampilan buat sang anak. Bahkan, kala itu, jika tetangga mengajak mengoborol di jam tersebut; Septi menolak. Secara bertahap pula dirinya menumbuhkan jiwa entrepreneurship. Jiwa itu diuji ketika krisis ekonomi 1998 dimana banyak perbankan mulai gulung tikar.

Termasuk, tempat kerja sang suami, yang mau- tak mau turun tangan keluar dari zona nyaman.

Berbisnis


Hal pertama dibenaknya adalah berdagang. Berbisnis merupakan pilihan tepat. Untuk membantu ekonomi keluarga jadilah Septi berjualan pakaian muslim. Ini sesuai passion -nya di pakaian muslim. Wanita berjilbab ini mulai keluar berjualan door- to- door. Modal sepeda motor berkeliling sekitar komplek. Ia senidir dapat stok dari rekan yang memiliki toko di Tanah Abang Jakarta. Modal uang? Dia dapat dari sisa uang tabungan suami.

"Sampai kami pernah merasakan rekening yang ada di bank semua zaro," kenang Septi.

Sang anak pertama sebenarnya telah membuka kesuksesan. Lewat putri pertamanya menjadi jalan pembuka lahirnya Jarimatika. Ya siapa Septi Peni Wulandari adalah penemu metode Jarimatika. Ketika Enes (nama panggilan putrinya) mulai dewasa dan mampu menggerakan jarinya. Ia mulai berpikir tentang bagaiman cara mengajar agar lebih mudah. Sebagai seorang ibu rumah tangga profesional harus memperlihatkan hasilnya.

Septi memilih berdagang baju muslim. "Karena passion saya di busana muslim, saya berjualan baju muslim," terangnya. Dimana barang tersebut dibawa dari seorang teman yang punya ruko di Tanah Abang Jakarta. Ia mulai berjualan lewat door to door. Berkendara motor berkeliling komplek menawarkan baju muslim. Modal uang didapat dari sisa tabungan suami. Dia mengaku semua tabungan mereka ludes.

"Sampai kami pernah merasakan rekening yang ada di bank zero," beber dia.

Sambil berdagang sambil mengajari anak. Dia mengajari Enes membaca menghitung. Enes menggerakan jari- jari kecil itu mengeja angka. Langkah awal ialah bagaimana menghitung angka satuan. Masalah muncul ketika mulai menghitung puluhan. Meski berhitung jari lebih menyenangkan. Butuh solusi lebih lanjutan agar  anak bisa menghitung lebih banyak. Itulah mengapa terbersit ide membangun Jarimatika darisana.

Perjalanan tiga tahun lewat trial and error. Aneka cara sudah pernah dicoba seorang Septi. "...tapi kami tetap semangat," kenang dia. Tahun 2000 barulah konsep Jarimatika mulai diajarkan. Jarimatika terlahir dari rasa sayang terhadap sang anak. Untuk mencukupi kebutuhan ekonomi Jarimatika mulai dipasarkan. Awalan dipasarkan ke tetangga dan teman yang tertarik. Bermodal pengalaman berdagang, Septi menyusuri jalanan ibu kota.

Dia naik turun bus berkeliling kota. Keluar masuk sekolah atau lembaga pendidikan. Adapun prinsip metode ini ialah belajar bertahap. Tahap awal, anak Septi diajarkan metode membaca menyenangkan. Anak tidak diajarkan membaca, duduk, kemudian membaca lagi. Benar menyenangkan sampai tidak terasa anak bisa membaca di usia 9 bulan. Usia dua hingga tiga bulan sudah bisa membaca koran. Ini merupakan proses yang menyenangkan.

Metode membaca tersebut lantas dikembangkan lebih lanjut. Nama metode ini adalah Abaca Baca. Kini ibu lebih gampang mengajarkan membaca. Tahap kedua yakni mengajarkan berhitung. Inilah awal metode utama Jarimatika. Kalau kamu bertanya Jarimatika atau Abaca Baca duluan? Jawaban ada di Jarimatika, untuk satu ini lebih sulit pengembangannya, butuh waktu lama bahkan mencoba aneka metode terlebih dulu.

"Setiap ada ide baru, kami tulis diatas kertas dan ditempel," jelasnya.

Septi selalu mengganti cara berhitung anak. Banyak metode telah digunakan termasuk lewat peraga. Cuma masalahnya si anak itu tidak aktif. Ketika alat peraga rusak anak akan enggan memakai lagi. Ketika jari anak mulai terlihat aktif. Ia dan suami melihat sebuah cara mengajar. Ingin mengoptimalkan jari sebagai alat bantu hitung. Rumus- rumus mulai dieksperimen lewat jari jemari.

Dia bahkan membawa atribut Jarimatika lengkap. Dari satu bus ke bus lain menyusuri lembaga pendidikan, menawarkan metode ini. Di rumah, Septi menerapkan metode home schooling dulu buat anaknya. Menurut pemikirannya inilah saat membangun karakter si anak. Di sekolah justru tempat anak bersosialisasi. Karakter menurut dia adalah kemampuan agar si anak percaya diri. Diumur 1 tahun bisa membaca pasti anak semangat.

Usia nol sampai 12 tahun masa tepat membangun karakter. Terutama diawal ketika kita masih bisa pegang sendiri. Umur 13 tahun anak sudah siap bersekolah di luar rumah. Singkat, anak akan bisa hidup mandiri jika sudah berumur 15 tahu. Prinsip lain adalah anak harus ditangani ahlinya. Hasil kerajin datang ke seminar- seminar pendidikan membuahkan hasil. Agar bisa mengikuti seminar di kampus bahkan membubuhi jabatan dia.

Dia menulis "ibu rumah tangga profesional". Lewat kartu nama unik inilah bisa mengikuti sampai anaka kuliah umum. Tambahan lain menurut dia kalau anak dari kelas 1-6 di SD sama; ini bukan sosialisasi. Menurutnya anak akan minder jikalau masuk ke lingkungan baru. Sebuah komunitas sama dalam waktu lama itu dianggap tidak efektif. Padahal konsep tersebut dijalankan baik di desa sampai di kota.

Melunasi hutang


Melalui marketing dibukukan Jarimatika menyebar. Bak virus tanggapan masyarakat luas ternyata antusias. Tapi apakah menguntungkan? Tentu, lewat buku tersebut metode ini menjual, di tahun 2003 bertemulah dia dengan seorang wanita. Inilah awal Jarimatika menyebar lebih ke tingkat selanjutnya. "Kita enggak kepikiran sampai sejauh itu," ujarnya. Dia sendiri waktu itu bahkan tidak punya komputer. Mulai satu per- satu rumus dijadikan satu.

Dia mulai mengumpulkan flip card berisi rumus. Jadilah sebuah buku dan mulai dijual ke masyarakat luas. Sampai kita sekarang mengenal apa itu Jarimatika. Lewat buku Jarimatika, Septi mulai diminati untuk maju menjadi pembicara aneka seminar. Bukut Jarimatika bahkan terjual 130.000 eksemplar di pasar. Namanya sudah wara- wiri di aneka seminar Jabodetabek. Tahun 2005 Jarimatika sudah dipatenkan buat melindungi hak cipta.

Di tahun 2006, kabar tidak enak datang, ketika itu sang ibu mertua sakit. Dia harus dibawa ke rumah sakit Elizabeth Semarang. Didasari karena keluarga Septi lebih mudah bergerak. Septi kembali ke Salatiga untuk merawat sang ayah selama satu bulan. Tinggal di Salatiga usaha miliknya mulai dari nol kembali. Pasalnya uang tabungan habis untuk merawat ayah mertuanya. Ia mengalami keraguan akan masa depan Jarimatika.

Beruntung media mulai meliput sukses Jarimatika. Beruntung lagi, suami menenangkan berkata, "Bersungguh-sungguhlah kamu pada Allah, Rasulullah, bapak dan ibu. Ketika kamu bersungguh-sungguh, maka masalah dunia, Allah yang mengatur." Berkat media masa nama Jarimatika masih bergaung. Menggaung sampai ke Pantura, dari Solo, Bali dan Nusa Tenggara Barat. Bisa diterima siapa saja, bisa cepat tersebar 33 kota (saat itu).

Waralaba tidak pernah terpikir oleh Septi. Untuk itulah biaya waralaba Jarimatika sangat murah. Namun ada hal untik terjadi ketika biayanya terlalu murah. Ketika waralaba cuma 3 jutaan malah komitmen mitar turun. Bahkan dianggap bukan lagi investasi bisnis. Ini membuat mereka bekerja setengah hati. Justru ketika naik sampai Rp.9 jutaan malah berbalik. Melalui waralaba sudah bisa membantu jalan dan bahkan membayar hutang.

Hutang bank untuk pengembangan Jarimatika terbayar lunas. Dia berani mempersentasikan bisnis ini ke bank untuk menutup hutang. Tiga bank dikunjungi olehnya dan dua menolak, alasannya apalagi kalau bukan Septi tidak punya agunan. "Saya tidak menyangka bunga bank sangat memeberatkan," ujar Septi. Dia bisa bolak- balik Salatiga- Semarang. Tidak perlu modal proposal cukup kliping media masa. Hingga ada satu bank yang mau.

Bahkan bank tersebut memberi bantuan tanpa agunan. Utang sudah tertutup tinggal bagaimana membesarkan Jarimatika. Inilah jalan penemu Jarimatika yang menjadi pengajar dan sekaligus pengusaha sukses.

Artikel Terbaru Kami