Kamis, 17 September 2015

Lampu Dari Bambu Untung 5 Juta Perbulan

Profil Pengusaha Roni Dwi Wijayanto


 
Inspirasi bisnis memang bisa datang dari mana saja. Kapan saja dan tentu buat siapa saja yang punya daya kreatifitas tinggi. Seperti kisah pengusaha asal Desa Pehkulon, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, yang mengaku bisnisnya terinspirasi seketika. Memulai usaha sejak dua tahun silam, idenya bersumber dari dapur rumahnya. Usaha tersebut tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Suami wanita bernama Sunarti ini, sedang makan di dapur rumahnya yang sederhana di kampunya. Ketika ia tengah menunggu makan ditemani tungku berbahan bakar kayu. Disana lah, di rumah sederhana miliknya, yang dapurnya masih memakai bahan bakar kayu; ide muncul. Disaat  mengambil satu potong bambu untuk dimasukan ke tungku. Ada kegelisahan seketika ketika melihat si bambu tersebut.

Sayang sekali kalau bambunya dibakar jadi abu pikir Roni Dwi Wijayanto. Terus bagaimana ya caranya agar bisa bermanfaat. Ia ingat betul bambu begitu melimpah di Desa Pehkulon. "Akhirnya saya mencoba membuat lampus hias," ujar Dwi.

Ditambah kreatifitas tinggi diubahnya sepotong bambu jadi lampu. Bambu yang berlimpah tapi sangat rendah nilai ekonomisnya itu; disulapnya kaya. Hasil kerajinan tangan Dwi ternyata berhasil menarik perhatian. Tak sedikit warga sekitar mau memesannya. Singkat cerita dibuatlah masal aneka lampu dari bambu. Berjalannya waktu bentuk dan ragam produk Dwi bertambah.

Hasil kerajinannya ini ternyata begitu populer. Modal mengikuti aneka pameran UKM membuka satu jalan kesuksesan. "Salah satu pemasaran ya lewat pameran- pameran," imbuh pria yang cuma lulusan STM ini.

Sukses itu buat siapa saja. Seseorang apapun latar pendidikannya bisa menjadi pengusaha sukses. Dijualnya aneka lampu bambu seharga Rp.25.000 sampai Rp.250.000. Total sudah ada 10 macam model lampu yang bisa dibuat Dwi. Dalam sebulan bisnis lampu mampu mengantongi Rp.5 juta. Ayah dari Mita (5 tahun) dan Afika (10 tahun) ini tak lagi perlu kerepotan memenuhi kebutuhan sehari- hari.

Akunya, dulu, dia tak punya pekerjaan tetap hingga sering di rumah. Dia cuma nguli angkut pasir itupun kalau ada permintaan. Mimpi besar seorang Dwi sebagai pengusaha, adalah bagaimana membesarkan bisnisnya. Di desa yang bambu sebagai bahan baku utama begitu melimpah. Soal tenaga kerja tingal mempekerjakan pemuda sekitar rumah.

"Saya berharap nantinya bisa ekspor kerajinan dari bambu ini," jelasnya singkat kepada Kompas.

Untuk kendala utama ialah kurangnya peralatan. "Sedangkan kendala saat ini adalah terbatasnya peralatan," jelas pengusaha berkacamata ini.

Artikel Terbaru Kami