Kamis, 03 September 2015

Taman Kelinci Cisarua Cerita UR2farm

Profil Pengusaha Nuning Nurhayati



Tak masalah meski bisnisnya beda 180 derajat. Meski beda namun semangatnya itu loh. Nuning Nurhayati telah tak terbantahkan sebagai sosok inspiratif lain. Terinspirasi Menteri Susi, eh, kini Nuning menjadi sosok menginspirasi kita semua. Bisnisnya unik lain- daripada yang lain. Sebelumnya tak terpikirkan akan adanya model bisnis semacam taman kelinci. Pemilik Taman Kelinci UR2farm kemudian bercerita kisahnya kepada awak media Liputan6.

Ia mengaku terinspirasi kisah Susi Pudjiastuti. Meski bisnisnya beda seratus delapan puluh derajat; tak jadi masalah. Apa yang menjadi inspirasinya karena sosok Susi terlihat cuek. Mungkin dia perokok terkasannya acuh. Akan tetapi dibelakang kisah hidupnya sebagai bakul ikan menggugah hati. Itu menggugah hati seorang Nuning, mantan pegawai Bank. Dia yang kala itu barulah pensiun melihat sosoknya muncul di layar televisi.

"Saya pernah lihat dia diwawancarai di televisi," ujarnya. Kemudian tepikirlah kalau dia bisa kenapa dirinya tidak. Menjadi pengusaha berarti bisa buat siapa saja. Kebetulah dia adalah pecinta kelinci. Dimana ia sudah memelihara banyak sekali dan mulai kerepotan.

Kenapa tidak dibisniskan saja pikirnya. Awalnya cuma dua kelinci lantas berkembang biak jadi banyak. Itu lah jalan usahanya selepas pensiun. Sudah ditunjukan oleh Allah sendiri didepan matanya. Yang dulunya itu cuma dipelihara kini bisa jadi bisnis menjanjikan. Melebarkan sayapnya ke model bisnis ternyata baginya tak terlalu sulit. Dia bahkan sudah punya 900 ekor. Termasuk dari peternakan lain ditambah bisnis petshop.

Ia menjelaskan kelinci hias bisa dipelihara. Kelinci pedaging kemudian diginya bisa diolah menjadi aneka sajian. Masih Kurang maka urin dan dan bulu kelinci bisa dijadikan tas, baju dan lain- lain. Inilah potensi apa yang dilihatnya ketika memandang kelinci- kelincinya. Potenis bisnisnya sangat menjanjikan bahkan sudah bisa menghasilkan 10 juta per- bulan. Ini bahkan jauh dari modal awalnya yang cuma Rp.500 ribu. Cuma saja semuanya ini terjadi tidak lah sebentar.

Beternak sejak 2008 usaha kelinci benar- benar ditekuninya. Ia sudah paham betul tidak ada yang terbuang. Dari kulit, daging, bahkan urinnya sudah bisa dimanfaatkan. Urin atau kotorannya sekarang bisa digunakan menyuburkan tanah. Kemudian Nuning gunakan kembali tanahnya untuk menanam sayuran organik. Setelah tumbuh bisa dijualnya ke supermarket.

Hobi sukses


Awalnya tak menyangka, karena memang, ini cuma hobinya saja memilihara dan menternakan kelinci. Dari cuma dua ekor berubah jadi 900 -an. Pada 2008, ia mantap memindahkan kelincinya ke Cisarua hingga kini lahirlah obyek wisata beranama Taman Kelinci Cisarua. "Karena dari kecil itu suka kelinci terus sampai saya bekerja dan akhirnya pensiun dini dan saya akhirnya coba pelihara itu," jelas Nuning. Dia cumalah bermodal uang 500 ribu.

Uang tersebut digunakan buat kandang. "Kandangnya bisa pakai bambu saja pun bisa atau pakai bambu dan besi juga bisa. Kayaknya dengan 500 ribu pun bisa," jelasnya.

Bukan serampangan karena ia benar- benar mempelajari bisnisnya. Dimulai dari sebuah pesanan kelinci dari seseorang sampai 100 ekor. Gayung bersambut akhirnya bisa jadi pembuka bisnisnya. Ia pun tak segan buat terus mempelajari seluk- beluknya. Meski kelihatan mudah ada saja masalah mungkin terjadi. Oleh karena itu ia mulai memproduksi makanan sendiri. Makanan berbentuk pelet itu sudah bisa diproduksi oleh usaha miliknya UR2farm.

Beda kebanyakan orang memilih sayuran utuh, justru Nuning lebih memilih menggunakan makanan pelet. Kemudian lagi untuk menjaga kesehatan kelinci rajin- rajinlah membersihkan kandang. Lalu jangalah kita menaruh kelinci langsung kena matahari atau hujan. Alasan lain kenapa memilih pelet karena alasan bahwa jika memakai sayuran akan menimbulkan penyakit. Bayangkan sayur- sayur itu diinjak- injak, mungkin tak dimakan semua, kemudian dijadikan alas tidur.

"Kalau kita kasih sayuran mentah nanti juga akan dia injek-injek dan dijadikan temoat tidur, jadi akhirnya timbul penyakit bagi kelinci," jelasnya lagi.

Bahan peletnya cukup limbah ampas tahu organik. Modalnya cuma ambil dari masyarakat sekitar. Nuning juga memanfaatkan konsep petani plasma. Dirinya mempercayakan beberapa keluarga agar mau memelihara kelinci. Jumlah kelinci diberikan 15 ekor per- keluarga. Ada 13 jenis kelinci sukses diternakan Nuning. Hasil produksinya mulai dari daging mentah, nuget, bakso, sosis. Daging mentah diambil dari kelinci berumur 2- 6 bulan.

Namun, hanya kelinci yang sudah lepas menyusu dari ibunya saja, yang digunakan buat peliharaan. Harga dari dagingnya mencapai Rp.20 ribu sampai Rp1,5 juta. Tergantung yang ingin diambil mengacu pada jenis hias atau pedaging. UR2farm tak cuma menjual daging, kotorannya, bisa digunakan pupuk dan digunakan buat semprotan sayuran organik. Kulit kelincinya kemudian digunakan sebagai sarung bantal dan juga jaket.

Bisnisnya sudah menyebar ke penjuru Jabodetabek. Ia mengharapkan tidak ada yang terbuang. Semuanya ia harapkan bisa membantu kehidupan masyarakat. Mengelola bisnisnya dia cuma dibantu 15 orang karyawan. Selain itu Nuning punya 20 petani plasma. Kendala utama ialah pemahaman masyarakat bahwa kelinci bukan buat dimakan. Padahal kan beda antara kelinci hias dan kelinci pedaging. Oleh karena itulah Nuning masih rajin mengeduksi masyarakat.

Padahal kalau dihitung protein kelinci lebih tinggi. Selain itu juga rendahnya kolesterol bisa jadi pertimbangan. Nuning dengan senang hati memberikan pelajaran bagaimana berkebun dan beternak kelinci. Inilah alasan juga dibalik lahiranya tempat Taman Kelinci. Tugasnya agar orang bisa teredukasi tentang kelinci.

Artikel Terbaru Kami