Sabtu, 05 September 2015

Pernah Dilarang Jadi Pengusaha Melia Laundry

Profil Pengusaha Fen Saparita


 
Menjadi pelopor bisnis memang sulit. Ada kerja keras ektsra harus dibayar olehnya. Dia lah Fen Saparita, sang pemilik Melia Laundry, berkisah bagaimana awalnya membuka bisnis ini. Terinspirasi oleh gaya hidup masyarakata urban dimana rutinitas sangat tinggi. Jadilah kebutuhan akan cuci- mencuci pakaian jadi hal merepotkan. Disisi lain, mau menyewa pembantu tak semua orang bisa. Seperti halnya para mahasiswa dari perantauan yang hidup berhemat.

Sibu- sibuk itulah masyarakat perkotaan. Pada masanya, Fen cukup kesulitan mengingat saat itu belum lah setenar sekarang. Bisa dibilang dia menjadi salah satu pelopor bisnis laundry. Khususnya buat masyarakat di Jogja yang belum terlalu mengenal. Tahun 1996 tepatnya usaha itu didirikan dimana ia adalah karyawan biasa, ya, seorang yang berani mencoba keluar dari zona nyamannya.

Bisnis nekat


Jabatannya kala itu staff keuangan di Semen Gresik ditinggal. Ia malah memilih memulai bisnis laundry sendiri. Meskipun begitu keluarga besarnya mengaggap ini taklah serius. Mereka meragukan -protes ketika Fen memutuskan keluar. Tapi tak membuatnya nyalinya berbisnis surut. Butuh modal? Tak perlu, cukup menjual rumahnya sendiri di Jakarta, lantas mantap menetap di Yogyakarta. Jadilah sebuah bisnis Melia Laundry & Dry Cleaning di 9 Maret 1996.

Lokasinya sederhana saja. Pemilihan kata Melia memiliki arti mengalir menurutnya. Merek dagang yang ia harapkan akan mengalir untungnya. Termasuk mengalir tanpa hambatan apapun. Tiga bulan membuka usaha sendiri faktanya malah sepi. Tiga bulan semenjak buka tak ada satupun. Fen masih optimis akan usahanya. Ia bahkan semakin ngotot memperkenalkan "apa itu laundry".

Kondisi sulit tak membuatnya lantas menyerah. Dibukalah sebuah counter tanya jawab. Tujuannya yaitu mempromosikan apa itu laundry. Sejak dibukanya sebuah counter di depan Supermarket Hero, sudah mulai banyak orang berminat. Lambat laun masyarakat Yogyakarta mulai paham apa itu laundry. Konsumen pun mulai datang ke Melia Laundry. Mereka membutuhkan jasa binatu cuci- cuci baju kotor mereka. Lantas, ia mulai membidik pasarnya sedikit- demi sedikit.

Beda dari jasa laundry sekarang, kala itu, pasar targetnya ialah para masyarakata kelas menengah- atas. Dia memberikan layanan ekslusip buat mereka. Sementara itu menjamurnya bisnis laundry setelahnya tak juga menggoyah pasaran Melia Laundry. Prinspi dasarnya adalah menjaga loyalitas pelanggan setianya. Fen selalu memperhatikan kepuasan konsumen. Tak ayak ketika permintaan jasa laundry meningkat. Dengan percaya dirinya membuka peluang baru.

Menawarkan konsep kemitraan atau franchise. Setelah 8 tahun melewati asam garam bisnisnya. Berkat cara inilah Meli Laundry bisa menyebar hingga Semarang, Jakarta, Cirebon, Makassar, Bireun Aceh, Bengkalis Riau, Bali, Jambi, Medan, Padang, Surabaya, Samarinda, Bekasi, Banjarmasin, Kendari, Cepu, Bogor, Pasuruan, Pekanbaru, Balikpapan, Magelang, Palangkaraya, Ambon.dll. Konsepnya matang dan modern membuat usahanya bertahan di ramainya binatu.

Prestasi sudah pasti didapatkan olehnya. Dia tercatat menjadi salah satu entrepreneur terbaik. Lelaki paruh baya ini mempunya kegigihan.

Artikel Terbaru Kami