Minggu, 13 September 2015

Roti Bakar Bandung Paling Terkenal Madtari

Biografi Pengusaha David Maidy



Awal mula sebuah bisnis bersejarah itulah artikel terfavorit kami. Kami pernah membahas awal mula Cendol Elizabeth atau awal mula bisnis Lele Sangkuriang, atau yang terunik awal mula kasus Koperasi Langit Biru. Dan, masih banyak lagi kisah lain biografi para pengusaha tentang awal mula sebuah bisnis. Kali ini, diolah dari berbagai sumber, kami coba menawarkan kisah Kafe Madtari asli Bandung. Menurut sumber didirikan oleh seorang pria bernama David Maidy.

Merupakan sebuah kafe di kawasan Dago. Mempunyai cita rasa mak nyus berkat kejunya yang banyak. Ini sudah dirintis sejak 1997 oleh Om David. Awal usahanya bermula dari bisnis kaki lima. Ketika itu ia sadar telah menemukan peluang emas. Pria asli Garut melihat pisang begitu bejubel di kampungnya. Pisang- pisang itu tak punya nilai jual tinggi. Dalam benaknya ada ide gila bagaimana mengolahnya menjadi sebuah bisnis. Itulah awal mula bisnis pisang bakar Madtari.

Pergi lah Om David ke Bandung bermodal Rp.6 juta ditangan. Mulailah berjualan kaki lima bernama Pisang Bakar Madtari. Kala itu, ia masih berumur 36 tahun, dari cuma berbisnis pisang bakar saja berkembang jadi kuliner lain. Seperti menyediakan aneka mie goreng, kemudian terpopuler juga yaitu roti bakarnya. Menurut Om David nama Madtari berasal dari nama orang tuanya. Agar selalu mengingat kedua orang tuanya ketika berbisnis.

Adapula kepercayaan bahwa ini akan membawa hoki.

Bisnis sederhana


Meski terlihat sederhana pada jaman itu ceruk pasarnya mungkin masihlah luas. Om David sukses membuka usaha di kawasan Dago Plaza tahun 1997. Ketika ada penggusuran untuk pembuatan taman; Madtari juga ikut pindah ke BPRS. Kafe tempat favorit nongkrong anak muda itu lantas mengalami beberapa kali pindah tempat, dari Bank Bumi Putra, Dipatikur hingga sampai Ranggagading Dago.

Masa tersulit bisnisnya menurutnya ada di empat tahun pertama sejak 1997- 2001. Empat tahun pertama ia akui menjadi hal tersulit dalam hidupnya."Empat tahun pertama itu jangan bicara soal keuntungan dulu, yang penting cukup aja buat makan dan hidup," ungkap Om David. Ia menyebut apa yang didapatnya merupakan buah kesulitannya dulu. Bicara soal rahasia sukses kafe Madtari tentu orang bisa sudah membaca. David pun mengamini hal tersebut.

Harganya yang murah disebutnya menjadi faktor utama. Tapi bukan itu faktor satu- satunya menurut kami. Disisi lain soal pelayanan, tempat, dan kualitas disebutnya tak sebanding kafe lain. Meski begitu jikalau tidak punya cita rasa harga murah seberapapun percuma. Soal harga, Om David rela memangkas untungnya meski berada di tempat bersewa tinggi. Lebih murah dibanding pesaingnya di Kota Bandung. Siasatnya mengakali sewa tinggi cukup menjalankan bisnis buka 24 jam!

Soal keju banyak khas Madtari, ternyata, Om David sudah mengerjakan kerja sama dengan Craft. Produsen keju tersebut istilahnya mengendors usaha miliknya. Kerja sama sejak 2007 ketika jumlah penjualan dari kafe ini sangat tinggi. Meski didukung Craft dan harganya jadi super miring, bukan berarti Craft kena imbas dari segi penjualan. Keuntungan Craft memang jadi menurun jelasannya, cuma beberapa persen saja. Hasil bagi Craft adalah brand- awareness oleh pelanggan Madtari.

Meski tak memakai keju murah, meski tak diendors oleh Craft, Om David mengaku masih bisa mengambil untung. Tak lain adalah dari penjualan aneka minuman. Keuntunganya cukup besar loh menurutnya. Dalam hal pengelolaan keuangan tak menggunakan pembukuan. Oleh sebab itu dirinya tak tau pasti soal berapa ia dapat tiap harinya. Sambil bercanda Om David menyebut satu bulannya bisa buat membeli Alphard. Sayang sekali memang dan dirinya sadar akan hal itu.

Ia menyarankan buat kamu pengusaha baru aturlah pembukuan mu. Jangan dicontoh karena dia termasuk yang cuma beruntung. Modalnya kepercayaan dibayar kepercayaan kepada karyawannya. Dia yakin bahwa selama kita menghargai tiap keringat mereka; mereka tak akan berani macam- macam. Hal ini bisa dilihat ketika karyawannya sakit. Tak segan dirinya ikut sibuk memanggilkan dokter. Untuk marketing Madtari tak punya cara nyeleneh.

Tidaka ada namanya brosur atau iklan besar- besar. Modalnya adalah mulut- ke mulut, antara satu orang ke orang lainnya. Pria penghobi bikers ini juga menjelaskan buka tipikal ambisius. Dalam perjalanan baru ada tiga cabang dibuka Madtari. Dan, ketiganya tepat berada di tanah hak miliknya, ia memang memilih mencoba bermain aman yakni membeli asetnya total. Ketika itu sebenarnya tempat pertama miliknya sendiri adalah hasil sewa.

Yah, mungkin belajar dari kafe utamanya yang sewanya semakin mahal. Dirinya memilih meinvestasikan apa miliknya dalam bentuk tanah. Jadi istilahnya membangun candi- candi kecil disekitar candi utamanya. Jikalau nanti canti utamanya ditengah runtuh; candi kecil dipinggiran akan menahan.

"Jadi Madtari pusat adalah candi besarnya dan ketiga cabang adalah candi kecilnya. Jika Candi besar runtuh, setidaknya masih ada candi-candi yang kecil," ungkap Om David.

Untuk kedepannya dirinya tak menutup cabang baru. Jika ditanya apakah akan diwaralabakan. Sepertinya hal itu jauh dipikirannya.

Sajak 1999 berdiri wujud Mandtari menjadi sosok usaha tak lekang oleh jaman. Kafe roti bakar sederhana ini katanya menghasilkan ratusan juta. Kalau tanya Bandung dan roti bakarnya, maka inilah pilihan utama bisa kamu kunjungi langsung. Rasa kejunya menutupi rotinya (menggunung). Menurut sang Manajer sekaligus pemilik, David Maidy, menjelaskan konsepnya masih sama tak berubah. Yakni model warung kopi dimana pengunjung dinyamankan.

Namanya sebagai roti bakar rakyat belum lekang. Harganya dari Rp.5000 untuk roti biasa sampai termahal Rp.13.000 -an buat spesial. Bosan makan roti maka jawabannya ada pisang bakar. Masih tak puas bisa juga coba mie instan dan kopinya. Kalau badang meriang maka minumnya jahe kencod. Bisa menghangatkan tubuh dan mengusir penat. Ini terhitung murah kok cuma Rp.5000 sampai Rp.11.000. Fokus bisnisnya itu memang ada di pasar pelajar.

Artikel Terbaru Kami