Sabtu, 19 September 2015

Biografi Cara Sukses Ucok Durian Medan

Kisah Pengusaha Zainal Abidin



Nama juragan durian asal Medan itu Zainal Abidin Chaniago. Atau, biasanya orang memanggil Ucok Durian. Apa halnya panggilannya jadi begitu. Karena dia adalah putra asli Medan, putra Batak. Berkat dia pula buah durian lokal tak sekedar menjadi hiasan. Dia sukses menjual aneka durian utuh. Itulah sebab adanya embel- embel nama durian di belakang namanya. Sebelum setenar sekarang perlu kamu tau perjalanan hidupnya tak mudah.

Menurut Kontan.co.id, sejak usia 14 tahun, terlahir dikeluarga yang kekurangan. Membuat Ucok terbiasa mencari uang sendiri. Memulai usaha dari nol sejak belasan tahun. Lantaran orang tua miskin membuatnya tak punya uang membayar sekolah. Pendidikan terakhir Ucok mentok dikelas 2 SMP. Ayah hanyalah tukang becak. Dan ibu membantu ekonomi keluarga menjadi buruh cuci. Itu masih tak cukup membiayai Ucok dan lima adiknya.

Ia memutuskan usaha sendiri. Memutuskan mandiri mencari uang sendiri, mencoba ikut membantu ekonomi keluarga. Di masa awal, Ucok bekerja menjadi karyawan di gerai penjualan buah durian di Kota Medan. Tak sekedar bekerja juga aktif belajar tentak seluk- beluknya. Bertahun- tahun bekerja di tempat orang, hasrat membuka usaha sendiri akhirnya tersalurkan.

Modal Rp1,75 juta ditambah pengalaman dan pengetahuan soal durian. Ucok memberanikan diri membuka bisnis sendiri. Uang tersebut digunakan membeli durian sebanyak setengah mobil bak. Lantas dijajakan di pinggiran jalan. Umur 24 tahun sudah punya usaha sendiri. Sebuah warung tenda sederhana di pinggir jalan. Jikalau durian sisa dan tak habis maka langsung dijualkan ke pasar. Untung jualan pertama cukup lumayan omzetnya Rp.300.000.

Omzet tiga ratus ribu per- hari dibaginya menjadi tiga. Pertama dibagikan ke teman sekaligus mitra bisnisnya. Lalu uang Rp.50.000 diberikan kepada keluarga. Sembari berbisnis, tak lupa belajar mengenai si buah durian ini. Caranya lewat menyambangi petani durian di berbagai tempat. Bahkan sampai ke Aceh cuma buat durian. Dedikasinya akan durian membawanya ke pusat durian Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, seluruh Pulau Sumatra.

"Tiap kampung bisa memiliki musim durian yang berbeda- beda," ujar Ucok.

Lambat laun kegiatannya itu membuahkan jaringan bisnis. Koneksinya ke para petani durian semakin kental dan kuat saja. Modal saling percaya digunakan oleh pria yang sekarang sudah berumur 45 tahun ini. Modal PD -nya atau percaya dirinya berani membeli durian lebih mahal. Dia menawarkan harga lebih mahal dari pedagang lain. Selain itu ketika ada petani membutuhkan uang karena kebutuhan mendesak; Ucok selalu ada disana.

Jaringan kuat


Ia bahkan rela meminjam uang untuk membantu petani. Hasilnya ketika mereka panen, hasil durian mereka akan menjadi milik Ucok. "Sebagai gantinya ketika sudah panen, durian-durian milik petani itu menjadi milik saya," kata dia. Berkat pendekatan itulah maka lapaknya selalu kebanjiran stok terus. Tidak ada matinya, ia bahkan mampu menjual durian 24 jam non- stop. Startegi "memanjakan" diterapkan kembali ke konsumen pula.

Baginya kepuasan merupakan kunci suksesnya. Pengusaha yang sudah 20 tahun melalang buana ini. Sudah tau betul persaingan semakin ketat. Itulah baginya pelanggan merupakan "mahal" seolah seperti pelanggan adalah raja. Memanjakan mereka, maka lapak Ucok menghadirkan durian dengan variasi jenis terbanyak. Berkat pemahaman akan durian Ucok membuat penjualan lebih efektif.

Sejak itupula lapaknya disulap lebih nyaman. Agar pelanggan bisa makan langsung di tempatnya. Guna memenuhi kebutuhan durian, setiap hari, ada enam mobil hingga tujuh mobil berisi durian berasal dari Aceh, Sumatra Barat atau Sumatra Utara. Menjalin hubungan baik dengan para petani masih dilakukannya. Seolah mereka sudah menjadi bagian keluarga. Berkat inilah sepanjang tahun Ucok bisa mendapatkan stok durian lengkap.

Bulan Juni, Juli, Agustus, dan September, menjadi bulan melimpah durian. Lalu Oktober dan juga November jumlah durian akan menyusut. Pada bulan Desember, maka durian akan mulai melimpah kembali. Karena sudah terbaca maka di bulan- bulan panen ramailah tempat itu. Berkat dedikasinya yang tinggi telah mampu membuat usahanya jadi legenda. Menjadi suatu keharusan kalau ke Medan harus mampir ke tempat Ucok Durian.

Ini sudah menjadi ajang pariwisata. Dari turis lokal dan asing pasti menyempatkan diri mampir. Sukses dalam membangun brand -nya maka tak ayal. Pada suatu hari, seorang President, yakni Pak SBY rela mampir ke tempatnya buat mencicipi.

"Saya merasa sangat terhormat toko ini pernah didatangi pak SBY. Momen itu sungguh tidak akan terlupakan sepanjang hidup," kenangnya.

Untuk seharinya Ucok Durian mampu menjual 7.000 buah durian per- hari. Soal harga berfariasi dari Rp.20.000- Rp.25.000 per- buah untuk ukuran kecil. Ukuran lebih besar, cukup murah kok yakni cuma Rp.30.000 saja. Dalam sehari ia mengaku mampu mengantongi omzet Rp.45 juta sehari. Kalau masuk di akhir pekan bisa mencapai omzet Rp.55 juta per- hari. Bisa dibayangkan dalam sebulan berapakah omzet dari Ucok Durian.

Dibantu 30 orang karyawan bekerja 24 jam non- stop berjualan. Ucok sendiri tak menyadari harapan bisnis durianya telah menjadi ikon pariwisata. Berkat usahanya durian juga, pria yang cumalah lulusan SD ini, telah mampu memberangkatkan kedua orang tuanya berhaji. Dia juga bisa menyekolahkan adik- adiknya menjadi sarjana.

Soal rencana membuka kebun durian. Ucok mengaku tak terpikirkan soal itu. Ia maunya fokus di penjualan durian saja. Soal stok diserahkan sepenuhnya kepada petani mitra. Kalau bicara ekspansi maka impiannya adalah memiliki pusat oleh- oleh sendiri. Ia ingin membuka lapak aneka produk yang khas dari Medan. Lapaknya nanti akan menjual ikan teri, ikan asin, sirup markisa, lapis legit, kemudian bika ambon,dll.

"Sekarang sedang mencari tempatnya, juga sedang diseleksi barang apa saja yang bisa di jual di toko tersebut," tutup Ucok Durian.

Artikel Terbaru Kami