Jumat, 25 September 2015

Biografi Luther Kombong Mantan PNS Sawit

Profil Pengusaha- Politikus DPR


 
Lagi- lagi kisah PNS jadi pengusaha membuat penulis. Kisah seorang Luther Kombong, nama yang mungkin sudah familiar untuk warga Kalimantan Timur. Biografi singkatnya, adalah pria kelahiran Rantapeo Sulawesi Selatan, 27 September 1950, yang dikenal sebagai pengusaha kaya raya dan salah satu kader terbaik dari Partai Gerindra. Seorang politikus, pengusaha terkenal, yang ternyata dulunya pernah mengecap rasanya jadi orang bergaji.

Untuk pengalaman politik selain pernah menjadi calon Gubernur Kaltim. Dia tercatat menjadi anggota DPR sejak 2004. Dua periode sudah dia menjabat menjadi anggota DPR Komisi IV -membadani pertanian, perkebunan, Kelautan, Perikanan dan Pangan. Selain pengusaha dan politik, ia juga mantan PNS di Dinas Kehutanan sejak 1985.

Pengusaha sawit


Sebelum menjabat direktur utama PT. Pancakarya Margabhakti dan PT. Dwiwira Lestari Jaya. Sosok Luther ya seperti kebanyakan orang biasa alias bergaji. Cuma bedanya dia cerdik dalam hal berbisnis. Ia bahkan sukses ketika masih berstatus pegawai negeri sipil. Pengusaha berdarah Toraja dan tumbuh besar di Kalimantan Timur. Merupakan pengusaha lokal bisnis sawit di Kaltim. Unik, jarang loh ada pengusaha lokal sukses di sawit.

Bahkan hampir tidak ada pengusaha lokal sukses disini. Menurut artikel sumber, pengusaha di Kalimantan, kelau pengusaha lokal cuma pemilik hak pengusahaan hutan (HPH). Jadilah cuma beberapa saja yang bisa punya tanah luas. Jarang sekali pengusaha lokal bisa sebesar Luther Kombong -kebanyakan merupakan perusahaan besar dari luar Kaltim. Sebut saja nama- nama perusahaan besar seperti Astra Argo Lestari, Lonsum, Sinarmas.dll.

Pengusaha yang memulai usahanya dari bawah. Setamat SMA, Luther tak mungkin kuliah karena masalah ekonomi, untungnya ia mampu masuk PNS di Dinas Kehutanan Kalimantan Timur. Berkat kerja kerasnya lah dia bisa mendapatkan pekerjaan. Terbukti selama bekerja di dinas, tak sedikit usaha sampingan dijalaninya sambil bekerja. Mulai dari berbisnis restoran kecil- kecilan, kantin sekolah, penyewaan mobil, sampai ikut proyek prasarana.

Justru dibisnis sampingan lah uang lebih besar berasal. Hingga ada seorang relasi nyeletuk kepadanya, "kalau jadi PNS terus, kamu tak akan bisa kaya atau cukup." Luther harus menjadi entrepreneur sejati. Seorang yang mampu melihat peluang bisnis. Soal mental sendiri sudah dianggapnya Luther punya. Tahun 1986, ia baru bisa mengajukan surat pengunduran diri. Disaat mengajukan surat itulah banyak kolega bahka atasan yang menahannya.

Sang atasan malah menawarinya cuti di luar tanggungan negara. Sayang, tekadnya menjadi pengusaha sudah bulat. Ia sempat mengikuti saran tersebut. Tetapi, hasratnya condong ke pengusaha tak tertahan lagi. Selepas tak lagi menjadi pegawai, Luther membangun bisnis konstruksi. Targetnya mengerjakan proyek pemerintah di bidang infrastruktur. Luther banyak membangun jalan- jalan antar daerah. Proyek pemerintah daerah yang fokus di kawasan transmigrasi.

Berjalan waktu ia lantas "bosan" akan tingkah Pemda. Menurutnya pemerintah daerah terlalu birokrasi dan bertele- tele. Kalau birokrasi mungkin bisa ditunggu, tapi menurutnya kalau soal bertele- telenya; ia tak tahan lagi. Udah bekerja setengah mati tapi uangnya susah keluar. "Kami bekerja tapi seperti pengemis," ujarnya. Perusahaan miliknya sudah tak mau lagi berurusan. Pilihannya cuma satu bekerja sama dengan perusahaan swasta muni.

Berkat kharismanya, kemampuan berbisnisnya memanggil perusahaan besar mendekat. Dia dipercaya oleh perusahaan besar macam Sumalindo. Ia lantas menjelaskan, "sukses dipercaya oleh perusahaan-perusahaan besar itulah yang membuat saya beranjak naik." Tak cuma naik tapi seperti halnya balon ditiup. Berkat hal apa namanya kepercayaan bisnis ayah dua anak ini moncer. "Seperti balon ditiup," ia menganalogikan.

Meski sukses berbisnis konstruksi justru memunculkan kegalauan. Lantaran fakta dia dan perusahaan sangat tergantung rekanan. Sistem kontrak karya membuat usahanya berhenti, ketika tak ada lagi kontrak kerja sama. "Ketika kami nggak dipakai lagi, maka kerjaan tak ada. Kami ingin bisnis yang long-term, bukan bisnis kontraktor seperti ini," Luther menjelaskan. Dibenak Luther cuma ada bisnis perhotelan, rumah sakit, perkebunan atau sekolah.

Pengusaha sawit


Meski banyak ide tak lantas semuanya cocok. Dia membaca itu lewat keadaan Kaltim. Secara umum buat bisnis perhotelan, rumah sakit, dan sekolah belum saatnya. Mau memilih batu bara yang sedang "booming" malah menurutnya terlalu banyak unsur perjudian. Kurang menarik baginya yang mencari kepastian jangka panjang. Akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa bisnis sawit lah.

"Saya pikir bisnis ini paling cocok untuk Kal-Tim karena alamnya memang memungkinkan," ujar Luther.

Idealisme Luther sebagai pengusaha dicoba seketika. Semasa itu, tahun 1998, dia sempat ditawari ijin HPH. Gampangnya, kamu tinggal tebang pohon atau jug bakar pohon, tanami tanaman sawit dan jadi duit dan begitu seterusnya. Ini tak menggoyahkannya karena fokus ada di tanah perkebunan. Tanah hak siap pakai tanpa ada jeda waktu. Jika pengusaha kebanyakan sukses di HPH, tidak seorang Luther, sekali lagi bisnis long- term bukan short term!

Ini baru kesampaian di akhir 1998 lewat hak pemanfaatan hutan. Total ada perkebunan sawit seluas 20 ribu hektar. Semenjak punya kebun sawit sendiri kiprahnya sebagai pengusaha bergulir. Di tahun 1999 mulailah proses penanaman. Untungnya waktu itu, ia mendapatkan bibit bagus asal PT. London Sumatera Plantation -yang gagal tanam karena didemo warga. Modal sendiri menjadi andalannya ketika membangun bendera PT. Dwimitra Lestari Jaya.

"Saya memakai tabungan sendiri dari hasil keuntungan bisnis-bisnis saya sebelumnya," katanya mengenang.

Karena modal sendiri pantas jikalau pertumbuhan bisnisnya tak cepat. Tak secepat pengusaha sawit yang sudah dimodali kredit bank. "Makanya pertumbuhan kami nggak bisa secepat mereka yang menggunakan kredit bank," lanjutnya merendah. Toh, akhirnya bisnis sawit itu terus berkembang, bahkan sudah mencapai 35 ribu ha di Sangkurilang dan Berau. Untuk konsesi kedua seluas 15 ribu ha dipegang oleh putra pertamanya.

Dari kebun pertamanya katanya sudah ditanami 8 ribu ha. Sementara yang sudah bisa berpanen ada 3 ribu ha. Kebun itu mampu mempekerjakan 1.600 pekerja. Sebagian pekerjanya datang dari desa- desan miskin di Pulau Jawa. Kemudian dibangun juga satu pabrik berkapasitas 30 ton per- jam. Yang mana rencananya akan meningkat sampai produksi 60 ton per- jam. Cerdasnya Luther mampu memanfaatkan perkebunannya. Ia sempat membangun pabrik kayu lapis dan vinil sekala sedang.

Usaha plywood atau pengolahan kayu agar tidak ada limbah. Ketika membuka lahan terlebih dahulu ada pemotongan kayu hutan diameter 20- 30cm. Agar tidak mengikuti aturan dari pemerintah bahwa tidak ada pembakaran atau limbah. Satu- satunya cara ya lewat adanya pengolahan plywood. Untuk itulah perusahaan bernama PT. Panca Karya Marga Bakti. Usaha kayu lapis yang telah mempekerjakan 400 -an karyawan.

Luther masih merasa dirinya bukan siapa- siapa. Tak hentinya ia bersyukur atas jalannya roda kehidupannya. Seorang anak cuma lulusan SMA sampai akhirnya menjadi pegawai negeri dan seterusnya. Usaha berkembang menurutnya tak melulu harus punya modal besar. Meski terlihat besar sekarang, parlu kamu tau awalnya ratusan alat pengolahan miliknya adalah hasil leasing. Semuanya berkat kemampuannya membaca meperhitungkan.

Ada aset properti dibelinya di Samarinda Seberang seluas 100 ha, dibeli semasa belum krisis, dan harganya baru Rp.15- 20 ribu per m2. Sekarang tanah tersebut ditaksir seharga Rp.500 ribu per- m2. Nilai asetnya naik sampai satu triliun bukan karena apa. Tapi karena ia pandai menyimpan uang dan berstrategi. "Padahal waktu krisis saya sempat mengira ini langkah bisnis saya yang salah," ujar Luther, yang rencananya akan membangu hotel disana.

Prinsip bisnis Luther sederhana kok, ada lima prinsip agar kamu bisa jadi the next Luther Kombong: (1) mau bekerja keras, (2) punya keberanian, yaitu berani mengambil keputusan, (3) jujur, agar menarik kepercayaan mitra, (4) memelihara lingkungan, (5) punya manajemen yang baik, termask manajemen uang kamu sendiri buat berinvestasi. Prinsip kejujuran menjadi andalan seorang Luther Kombong.

Istilahnya kalau kamu udah bisa dipercaya kamu telah kaya.

"Karena orang kalau sudah percaya akan berani meminjamkan barangnya atau uangnya kepada kami. Kalau kami tidak dipercaya maka hubungan itu akan putus," tutur Luther yang kini lebih sibuk berpolitik sementara putra pertamanya yang menjalankan bisnis. Meski bisnis sawit tampak megah diluar. Fakta menurut dia, iklim investasi dibisnis ini lemah.

Utama soal ada atau tidak kepastian hukum. Tidak ada political- will memajukan pengusaha. Pemerintah tak serius memilah mana pengusaha yang taat pajak, pengusaha yang membuka lapangan pekerjaan baru, dengan yang mana pengusaha yang sekedar spekulan. Ilegal dan legal menurutnya di Indonesia itu beda tipis. Birokrat sendiri lebih suka bisnis ilegal yang dilegalkan.

"Kita tertinggal jauh dari Malaysia," tambahnya.

Jaminan keamanan dinilainya lemah banyak perkebunan sawit dirusak warga. Padahal kalau mau pemerintah bisa membuat kebijakan pemberdayaan masyarakat. Belum lagi bunga bank masih cukup tinggi. "Kalau kondisinya kondusif, kami pasti sudah bisa tanam 20-30 ribu hektar sampai sekarang," tutup Direktur Utama PT Dwimitra Lestari Jaya ini seraya berharap. Sumber: Sudarmadi, Business Journalist and Researcher SWA.

Artikel Terbaru Kami