Sabtu, 19 September 2015

Modal Percaya Diri Pengusaha Keripik Durian Tamita

Profil Pengusaha Tawardi Ramli


 
Dengan PD -nya, Tawardi bertanya kepada pengelola sebuah supermarket. Produk apa yang tengah mereka butuhkan. Memilih tak coba- coba, ia langsung saja bertanya kebutuhan pasarnya. Bertanya panganan apa yang mereka inginkan darinya. Ternyata jawabannya adalah kebutuhan akan keripik nangka. Mendengar itu langsung menyanggupi permintaan mereka. Padahal, perlu kamu tau, ia sama sekali belum memulai bisnisnya.

Bahkan bentuk keripik nangka pun tidak tau. Sebuah mall di Medan tersebut juga tak kalah aneh. Mereka mau saja "dibodohi" oleh Tawardi. Ini kejeniusan seorang pengusaha bukan penipuan. Menyanggupi langsung mengerjakan aneka bisnis apapun itu. Pria asal Deli Serdang, Sumatra Utara, akhirnya menjadi pengusaha dibidang aneka keripik buah.

"...bentuk keripik nangka saja saya tidak tau," jelasnya kepada Tribunnews.

Terlanjur menandatangani kontrak mau- tau mau haruslah mau. Terpaksa, akhirnya Tawardi mencari jalan dan menemukannya sampai di Malang. Dipesan keripik asal Malang dibawa ke Medan. Bukan pula untuk dijual malah dipelajari lagi. Diamatinya bentuk, terkstur, serta rasa khas si keripik nangka Malang tersebut. Sampai ia bisa memproduksi keripik nangka sendiri.

Bantuang datang dari LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), membantunya modal berupa mesin pemotong keripik. Ternyata bantuan tersebut ada prihalnya tersendiri. Tawardi menyebutkan dirinya merupakan korban konflik Aceh yang lari ke Medan. Dia pindah ke Sumatra sejak tahun 2000-an lalu. Sejak tahun 2004, ia sudah punya bisnis sendiri, yakni mengolah nangka menjadi keripik. Lewat nangka merambah ke kripik buah lain.

Tawardi punya keripik mangga, salak, cempedas, nanas, jamur tiram, tape singkong, hingga durian. Andalan pengusaha satu ini bukan keripik nangka. Justru keripik duriannya menjadi andalan karena menjadi keripik durian satu- satunya di Indonesia. Kemasan 60gram per- bungkus keripik durian dijual seharga Rp.30.000. Sementara itu keripik lain dijual Rp.20.000, itupun berisi 100gram. Ditambah olehnya keripik buatannya bebas pengawet.

Memakai pembukus alumunium foil membuat keripik awet sampai 4 tahunan. "Tapi saya tulis di kemasan expire hanya satu tahun," katanya. Keripik buah yang berlabel Tamita, diambil dari bahasa Aceh yang artinya yaitu "yang dicari", Tawardi berharap keripiknya memang menjadi incaran banyak orang. Sekali produksi, kini, ia menghasilkan 400 buah bungkus. Dibantu oleh kerabat dan keluarganya menjadikan bisnis ini lebih efektif.

Permintaan akan produknya memang banyak. Tapi dia belum bisa memenuhinya sendiri. Soal pemasaran pun baru di Sumatra Utara dan punya agen di Bandung. Ketika ditanya ekspor, ia mengaku tak sanggup, alasan karena tenaganya tidak ada. Keterbatasan modal dan peralatan menghalanginya. Namun tak mematahkan ia mengikuti pameran di Bangkok loh. Bukan perkara mudah ternyata berbisnis seperi ini.

Masa lalu


Menelisik lebih dalam, menemukan Tawardi dalam kenangan masa lalu. Dia mulai menceritakan kisah masa lalunya kepada pewarta. Akibat konflik Aceh membuatnya kehilangan harta sampai Rp.1 miliar. Sekitar 12 tahun lalu, dia bukanlah orang biasa, namun pengusaha kopi asal Aceh. Dia sudah terbiasa soal jual- beli. Bisnisnya sudah mencukupinya buat hidup layak. Hasil berbisnis kopi kala itu sudah lebih dari cukup untuk -nya.

Konflik Aceh memakan korban banyak penduduk sipil. Tak mau mengambil resiko nyawa, pergilah dia dari Aceh ke Medan. Dia mengontak sanak saudara disana. Sampai dia menyelamatkan diri meninggalkan harta, bisnisnya, dan kenangannya. Cuma menyisakan sepetak rumah sederhana di Kota Medan. Itulah harta yang tersisa dimana ia dan keluarganya tinggal. Meski sudah puluhan tahun masih tersisa gurat emosi ketika mulai bercerita.

Kisah konflik Aceh membuat keluarganya terseok- seok di tempat orang. Air mata masih mengalir sedikit dari matanya itu, ketika mengingat kembali beratnya memulai kembali. Dia punya passion dibidang bisnis. Tawardi jatuh cinta kepada bisnis kopinya hingga hilang. Ketika di Medan pikirannya cuma memulai kembali usaha. "Saya tidak punya apa-apa lagi ketika tiba di Medan, tapi dengan modal nekat," ujarnya.

Seketika didatanginya Carrefour menanyakan peluang usaha. Buat awalan cuma bertanya produk apa yang bisa ia pasok. Gayung bersambut karena mall besar itu memberikan kesempatan buat UMKM. Mereka butuh pemasok buat keripik nangka. Padahal kita tau Tawardi bukanlah siapa- siapa kala itu. Bisnisnya tidak bersisa, yang tersisa kemampuanya  meyakinkan orang lain.

Tanpa berpikir panjang diterimanya secarik kontrak. Ditanda tangani tanpa tau apa itu keripik nangka. Ia pun pontang- panting sampai ke Malang. Berkeliling mencari informasi mengenai keripik nangka. Tak dirasa akhirnya bisa mengisi kebutuhan supermarket. Pria yang bernama Tawardi Ramli ini tak menyerah. Dia bisa memproduksi sendiri dan menyuplai kebutuhan orang. Sayangnya, dia harus menelasn pill pahit kehidupan sekali lagi.

Pasalnya, olahan Tawardi tak cocok buat supermarket tersebut, bukannya untung malah merugi. Jadilah ia hanya memasok dua kali pengiriman. Prinsipnya pengalaman adalah modal sejati. Itulah dirinya, justru jadi semakin bersemangat. Memutar otak bagaimana agar bisa berproduksi sempurna. Maka lah, di tahun 2004, Tawardi secara intens melakukan komunikasi dengan LSM. Lembaga nirlaba Swiss Contack lah menjadi solusi bisnis.

Lembaga khusus yang membantu masalah Aceh ini memberikan bantuan. Khusus buat mereka warga korban konflik dan juga tsunami Aceh. Nah, Tawardi beruntung kebagian satu mesin vacuum frying. Cocok, mesin penggorang krispiy ini digunakan buat keripik nangkanya lagi. Seketika ia bisa memproduksi kembali aneka jajanan kripik. Satu mesin itu diberikan mereka secara gratis.

"Mulanya saya hanya memasok keripik nangka saja, tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai membuat inovasi lain," ujarnya.

Omzet bisnisnya meningkat sampai Rp.3 juta per- hari. Karena Medan terkenal akan buah duriannya. Maka ia berinisiatif membuat keripik durian. Inilah andalan bisnis aneka keripik Tamita. Nama itu bisa merambah ke seluruh Indonesia lewat keripik durian dan pewarta digital. Di tahun 2008 dibukannya pasar dari Jakarta, Yogyakarta, Makasar, hingga Bandung.

Sudah menjadi pengusaha lama membuatnya paham strategi. Dibuatnya harga bisnisnya bisa bersaing dengan produk sejenis. Hal unik dilakukannya yakni mengurangi pasokan di pasar ritel. Loh, bukannya banyak yang malah pengen masuk? Alasan utama karena sistem pembayaran tidak sesuai waktu produksi. Ia menyebut uangnya harusnya langsung masuk ke kas, diputar kembali jadi bahan, hingga bisnis bisa terus berjalan bukan lewat sistem konyasi.

Ayah gadis kecil bernama Mentari, lanta menjelaskan bisnis Tamita bisa naik 150% lewat musim Lebaran. Omzetnya mencapai Rp.4 juta per- hari. "Saya sangat bersyukur, dari tahun ke tahun usaha saya semakin meningkat deras," puji syukur Tawardi. Soal varian keripik baru? Ia tengah mengkonsep keripik berbahan ikan tawar khas Danau Toba. Kini, dia berharap bisnisnya makin besar dan berkembang dari sekarang.

Artikel Terbaru Kami