Minggu, 06 September 2015

Bayu Dimsum Pernah Dicemooh Karena Usaha Sendiri

Profil Pengusaha Bayu Trisnoaji



Namanya Bayu Trisnoaji, pengusaha belum banyak disorot, kebetulan penulis menemukan profilnya. Sangat saingkat tapi mampu menginpirasi pagi kamu. Hobinya memang menyantap dim sum. Makanya bisnisnya ya juga tentang kuliner satu ini. Bayu pun rajin berburu kuliner dim sum di semua tempat. Kalau dihitung- hitung mungkin saja sudah seluruh isi Jakarta diputarinya. Makanan khas China ini memang membuatnya ketagihan luar biasanya.

Sampai- sampai hobinya tersebut masuk ke tahap berbahaya. Bahkan sang Ibu mulai khawatir kepada anak laki- lakinya ini. Ada apa dengan dim sum? Apalagi katanya hobi makan dim sum sudah mulai mengganggu kuliahnya. Kemudian Bayu secara tersirat menjawab kekhawatiran ibunya. Dia tak lagi cuma penghobi dim sum; ia adalah pengusaha muda dim sum.

Dibuatnya hobi makan dim sum menjadi usaha menjanjikan. Sebelumnya tak lupa ia meminta ijin membuka usaha terlebih dahulu kepada ibunya.

"Karena ibu saya pintar memasak memberikan resep dim sum buatannya," jelasnya.

Modal bisnis dim sum cuma 300 ribu saja. Berbekal resep ibunya dimulailah perjalanan seorang anak muda, alumni Fisip Hubungan Internasional, memulai apa itu membuka usaha sendiri. Tak perlu berlatar belakang suka berdagang. Bayu juga tak tercatat pernah membuka usaha sebelumnya. Mengalir seperti air bermodal kemampuanya menilai masakan.

Ia memulai usaha dim sum -nya pada September 2008. Modal segitu cuma menghasilkan 25 porsi dim sum siap jual. Dia pun memulainya dengan mengikuti bazar sekolah. "Pada awalnya saya menjalankan usaha saya mengikuti bazar ramadhan di sekolah al zara," kenang bayu. Cuma buat memperkenalkan produknya saja. Itu ternyata berhasil.

Pilihan mengikuti ajang bazar ternyata tepat. Di empat tersebut masyarakat beramai- ramai memborong dim sum -nya.Variasi dim sum -nya meliputi rasa ayam, wortel, beef, kepiting, cumi, hakau, dan juga ceker ayam. Berkat inilah permintaan dim sum -nya meningkat. Lebih mantapnya ternyata dim sum miliknya cuma seharga Rp.8 ribu isi 4 dim sum. Melihat pasarnya sudah terbentuk. Dia yakin menjual dari 25 porsi jadi 100 porsi per- hari.

Modal gerobak


Jangan salah kisah suksesnya Bayu belum selesai. Mulailah berpikir bagaimana konstan berjualan. Dia nekat menyewa grobak buat jualan. Gerobak modal sewaan digunakannya buat berkeliling kampung. Kendala dari bisnisnya adalah panasnya matahari. Selain itu dim sum sulit jika dijual keliling layaknya bakso. Dulu mungkin bisa laku 100 porsi. Namun, saat memilih bergerobak, malah jatuh terpuruk cuma menjual 5 porsi per- hari. Saat itulah cemooh datang bertubi atas keputusannya.

Dia mendapatkan cemooh dari teman. Terasa berat karena mereka teman- teman dekatnya. Alasan mereka itu ya apalagi karena ia berlatar belakang S- 1. Dia sempat merasa goyah. Tapi semangat entrepreneurship itu masih membara. Bayu tak berhenti berjualan dim sum. Semangatnya masih membara optimis bahwa kelak akan ada jalannya.

"Melihat latar belakang pendidikan saya yang S1 banyak teman yang menyarankan saya untuk berhenti berjualan Dim Sum, namun saya tetap optimis bahwa usaha yang saya jalankan ini akan maju," ujar Bayu.

Pengalaman adalah guru yang baik. Begitupula baginya hingga akhirnya memutuskan buat berhenti berjualan berkeliling. Dia memilih berjualan di kios. Pilihan jatuh di sebuah kios sederhana. Tak besar cuma strategis buat berjualan. Kios dim sum -nya ramai dikunjungi pelanggan. Dalam satu hari, selepas berbisnis di kios, ia mampu menjual bahkan 500 porsi sehari. Kini jangan ditanya berapa omzet bayu tiap bulannya. Sukses dari dim sum membuatnya jadi jutawan.

Omzet Bayu mencapai Rp.150 juta. Ini sebuah pencapaian luar biasa. Berkat kerja keras serta rasa percaya tinggi membuatnya tetap berbisnis. Bahkan bisnisnya bisa berkembang hingga sekarang. Saat ini Bayu cuma dibantu 6 orang karyawan. Sukses Bayu menurutnya sendiri adalah karena sang bunda ternyata selalu ada. Ia selain menjadi sumber resep, ibunya juga selalu menyemangatinya meski dalam susah.

Bicara strategi khusus ialah menjaga kualitas produk. Adapula pelayanan prima kepada pelanggan. Beranilah buat mengerti apa yang diinginkan pelanggan.

Berkat kerja kerasnya ia kini sudah punya serangkaian aset pribadi. Meliputi 3 sepeda motor, 1 unit mobil Avanza, kemudian satu buah rumah bertingkat. "Serta saya berniat ingin membuka cabang di kota lain seperti Bandung," ungkapnya. Pengusaha muda ini sangat bersyukur karena berkat hobinya. Kini kehidupan dari keluarganya semakin membaik. Dulu keluarganya sederhana bahkan terhitung susah telah berbeda. Bentuk dari rasa syukur lainnya ialah ia mengangkat adik.

Dia mengangkat seorang pengamen cilik. Anak kecil yang sering mengamen di tempatnya itu dijadikan adik angkat. Dibiayai sekolah dan kebutuhan sehari- harinya dari keuntungan bisnisnya.

"Saya selalu tidak lupa saya dulu seperti apa sehingga sekarang menjadi seperti ini, alangkah baiknya saya mencoba membantu orang yang sangat membutuhkan," lirihnya

Artikel Terbaru Kami