Senin, 07 September 2015

Minuman Tradisional Cendol Khas Kraton

Profil Pengusaha Lai Moi



Cari resep warisan kuliner nusantara bisa jadi alternatif. Buat kamu para pengusaha ada baiknya mulai aktif buat mencari- cari resep lokal, resep kuno. Apapun istilahnya tinggal kita praktikan dan ditambah sentuhan dari tangan inovasi. Memang gak gampang tentu gak gampang jadi pengusaha. Ini kisah Lai Moi, seorang wanita paruh baya, umur 54 baru memulai usahanya terinspirasi sang suami yang suka cendol. Ia tengah aktif mencoba menaikan derajat minuman ini.

Ternyata orang bisa kaya berkat kuliner masa lalu. Memang Indonesia menyuguhkan aneka resep turun- temurun dari orang tua. Tinggal bagaimana kita anak muda mengemasnya. Contoh sukses pengusaha muda ya itulah Randol kepanjangan dari Raja Cendol. Kisah sukses pengusaha muda bermodal tipis. Modalnya itu cuma 13 juta -an tapi bisa sukses. Lain halnya dengan Lai Moi karena menurut sumber Kompas, dia bukan wanita sembarangan.

Susahnya bisnis


Sudah makan garamnya menjadi karyawan itulah dirinya. Dia, sekitar 7 tahun silam, adalah karyawan biasa di sebuah indutri garmen. Dia sama sekali belum pernah menyentuh bisnis kuliner sebelumnya. Bisnis pertama ialah bisnis garmen itu sendiri. Tepatnya dia pernah bekerja di sebuah garmen milik perusahaan asal Taiwan di Bogor. Lantas setelah jenuh memulai usaha garmennya sendiri. Usaha yang dirintis di tahun 1996, ia dan juga suaminya memutuskan membangun usaha.

Mereka bekerja di sebuah perusahaan yang sama. Akhirnya memutuskan membuka usaha garmen sendiri bersama seorang teman asal Taiwan. Empat tahun berselang selepas bisnisnya berjalan; Lai Moi memutuskan hengkang. Dia hengkang dari usahanya sendiri karena perselisihan usaha. Sukses membangun bisnis garmen membuat keduanya punya cukup uang. Mulailah sang suami, Agung Wiyono (52 tahun), berusaha sendiri yakni lewat bisnis kristal.

Sayangnya, permintaan akan kristal itu tak menentu, akibatnya mereka tak mendapatkan penghasilan tetap di tiap bulannya. Padahal keduanya sudah membuka gerai di kawasan Sukasari, Bogor Timur. Permintaanya itu terbatas orang- orang tertentu yang gemar kristal. Sudah lima tahun berlalu bisnisnya masih dipertahankan. Hingga suatu ketika Lai Moi diajak sang suami menyantap es cendol. Kenapa gak membuka usaha cendol saja.

"Suami saya mendukung karena sense bisnisnya juga bilang bidang ini bakal bagus. Ini bisa jadi uang," jelas Lai Moi

Nah, kebetulan ada seorang teman memberinya resep cendol. Bukan perkara mudah ternyata mengerjakan bisnis ini. Meski terlihat sepele ternyata ada masalah juga. Dia berulang kali gagal membuat cendol. Ia cuma bermodal resep karena tidak pernah membuatnya sebelumnya. Idealisnya juga menuntunya untuk membuat bisnis sehat. Membuat cendol bebas pewarna buatan. Sukses Lai Moi selepas menggunakan daun suji jadi bahan pewarna hijaunya.

Sukses nyata


Cuma bermodal resep kuliner bisakah sukses. Akhirnya Lai Moi sudah bisa membuat cendolnya sendiri. Ia bermodal daun suji yang dia dapat dari pagar tetangganya. Kemudian disewanya sebuah lahan seluas 1.000 meter di Ciherang, Kabupaten Bogor, cuma buat ditanami daun suji. Awal- awalnya minuman cendolnya tak menarik pelanggan. Bahkan banya tersisa bahkan harus diminum sendiri. Atau, jika tidak ia akan membagi- bagikannya ke orang- orang gratis.

Beda orang sukses dan orang gagal adalah berani menjalani prosesnya. Itulah sosok Lai Moi kembali buat usaha lagi. Orang sukses sadar harus ada harga dari sekolahnya. "Sekolah pengusaha" membawanya jauh ke apa yang belum digapainya. Usaha cendol bernama cendol Kraton tersebut tak surut. Dia punya cara sendiri buat memasarkan produknya. Ia memilih buat mengunjungi Institut Pertanian Bagor.

Dicarinya informasi tentang kandungan kolesterol pada santan. Eh, ternyata kandungan kolesterol jahat tidak ada, selama santannya tak dipanaskan. Selama santan tak memasuki proses pemanasan maka akan baik- baik saja. Untuk itulah ia memilih tak memasak santannya. Oleh karena tidak dipanaskan, sebagai hasilnya, ia memilih mencuci kelapanya dengan air panas. Selepas itu dicuci bersih barulah diperas santannya. Ia tak kunjung menyerah.

Dibantu oleh seorang karyawan mencoba menjual cendolnya lagi. Kali ini, dijualnya cendol di tempatnya berjualan kristal. Hasilnya ternyata tak membaik cuma laku 20 gelas cendol saja. Sisanya lagi- lagi diminum sendiir atau dibagikan ke tetangga. Karena hasilnya tak kunjung membaik. Sang karyawan satu- satunya memutuskan buat berhenti bekerja.

"Dia bilang, kasihan kalau usahanya enggak jalan, tetapi saya tetap harus membayar gaji bulanannya," ujar Lai Moi.

Usahanya terus dikerjakan terus- menerus. Hingga akhirnya membaik dalam perjalanannya. Cendol bernama de Kraton itu mulai mendapatkan pelanggan. Ia kemudian menawarkan cendonya ke pusat perbelanjaan di Kota Bogor. Hasilnya ternyata memuaskan. Memasuki tahun ketiga mulailah merubah konsep bisnisnya. Dia tak segan membuka konsep waralaba.

Dengan modal investasi cendol Rp.6 juta sudah bisa mendapatak satu set perlengkapan dan 50 sajian pertama. Cendolnya terdiri dari rasa orisinal, nangka, durian, float, yang terbaru adalah cendol rasa jahe. Dulu cuma punya satu karyawan, kini, di rumah produksinya sudah ada 40 orang karyawan. Terdiri dari karyawan di bagian produksi, mulai dari pembuatan sendol dan santan, kemudian memasukannya ke gelas kemasan.

Ia juga mewajibkan mereka mengenakan masker. Fungsinya agar mereka yang besentuhan langsung dengan si cendol menjaga higienitas. Penjualan cendol naik sampai 1000 gelas untuk wilayah Jabodetabek dan juga di Bandung. Kalau pada akhir minggu penjualan akan naik sedikit seperti dilansir oleh Surabaya Post. Soal masalah -selalu ada masalah tapi tak membuatnya jatuh. Lai Moi memang sosok pekerja keras sejak mulai bekerja di garmen.

Dia pernah bekerja berhari- hari. Bahkan sampai tak meninggalkan kantor karena mengejar target ekspor. Lain menjadi karyawan, hatinya jauh lebih gembira ketika melihat anak- anak mengantri cendolnya. Artinya hasil kerja kerasnya terbayar. Dan, membuktikan bahwa minuman tradisional masih diminati oleh anak- anak jaman sekarang. Minuman tanpa bahan kimia ini benar- benar masih disukai.

"Kan banyak anak yang suka minuman instan berbahan kimia. Saya senang bisa memberikan pilihan yang sehat untuk mereka," tuturnya.

Ia kemudian cepat menimpali, "saya juga senang bisa menyebarluaskan minuman tradisional Indonesia ini."

Kunci sukses cendol Kraton menurutnya ada di kegigihan, inovasi, serta pengendalian mutu. Karena itulah ia bahkan sudah menyiapkan diri go international. Dia sudah mempersiapkan satu gerai di luar negeri. Sudah ada seorang patner mau menawarkan cendolnya. Lai Moi salah satu sosok yang menaikan pamor kuliner ini. Kuliner tradisional ternyata bisa diolah sedemikian rupa. Melalui manajemen modern apapun produknya pasti bisa dipasarkan.

Website: www.cendoldekraton.com

Artikel Terbaru Kami