Kamis, 24 September 2015

Pengusaha Gila Segila Briket Kulit Kacang

Profil Pengusaha Edy Gunarto 


 
Pengusaha itu gila. Harus bisa merubah apapun menjadi peluang bisnis. Termasuk hal- hal paling kecil -remeh temeh semisal kulit kacang. Penulis barus saja menemukan yang namanya pembuktian. Bukti bahwa kamu musti harus cukup gila untuk menjadi pengusaha. Buktinya Edy Gunarto, cuma warga dusun biasa (awalnya), asli Dusun Plebengan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, dan Yogyakarta, mampu merubah kulit kacang menjadi briket.

Edy sudah bisa memasarkan produknya di berbagai kota, seperti Surabaya dan Jakarta. Lewat kulit kacang saja namanya dikenal diantara pengusaha kelas rumah tangga. Mereka adalah orang- orang yang butuh bahan bakar alternatif pengganti. Gagasan sederhana yang memulai keisengan. Mulai dari rasa terlalu banyak sampah kulit kacang di desanya. Sampah bertumpuk dibiarkan di pinggiran jalan atau begitu saja di kebun- kebun.

Di rumah Edy sendiri kulit kacang tak kalah banyaknya. Apalagi sang istri ternyata seorang pengepul kacang. Dimana istrinya menerima kacang hasil panen para petani. Setelah itu kacangnya dikupas oleh istrinya, dijual setelah bersih tanpa kulit. Kacang asal Desa Sidomulyo itu biasanya dijual di pasar tradisional, terutama di pasar Bringharjo, yang mana cuma menyisakan setumpuk kulit kacang di rumah.

Semakin menumpuk lagi berkat jasa Edy pula. Berkat mesin canggih buatannya yang mampu mengupas 2 kuintal dalam sehari. Alat tersebut semakin ganas selepas dimodifikasi ulang. Olehnya, kini, mesin pengupas kacang buatannya mampu mengolah 1,5 ton per- hari. Alat tersebut dijelasnya meniru alat perontok padi karena prinspinya hampir sama.

"Dengan bantuan alat pengupas, kacang tanah yang tertampung semakin banyak," jelasnya. Serta semakin banyak pula kulit kacang tertumpuk di rumahnya.

Berkat mesin itu keuntungan bisnisnya makin menanjak. Tapi bukan karena itu namanya menanjak, menjadi sosok pengusaha inspirasi kamu. Berkat mesin pengupas kacang, petani kacang datang tidak cuma berasal dari daerah Bantul. Tetapi juga petani asal Kulon Progo dan Gunung Kidul. Itu membuat usaha istrinya makin pesat saja.

"Dampak lainnya, ya semakin menumpuknya sampah kulit kacang di rumah kami," ujarnya.

Kulit itu bahkan terkumpul sampai bertruk- truk. Kulit itu dijualnya ke pengrajin tahu seharga Rp.30.000- Rp.35.000 per- truk. Kulit kacang tersebut digunakan oleh para perajin sebagai bahan bakar. Di sanalah ada terbersit ide bagaimana memanfaatkan kulit kacangnya. Kebetulan juga ada pelatihan pembuatan briket di kampung Edy. Ada pelatihan membuat briket serbuk gergaji, yang sayangnya, lebih mudah mencari kulit kacang dibanding kayu.

"... di tempat saya sulit dan yang tersedia kulit kacang, ya saya coba saja," ujar Edy, lantas dicarinya sumber bacaan tentang kulit kacang dan briket. Dia tertarik bagaimana cara membuat briket kulit kacang. Masa eksperimen dilakukan dengan mencampur kulit kacang dan serbuk gergaji. Lambat laun, akhinya Edy sukses menemukan cara 100% kulit kacang. Pada awal eksperimen, proses pembakaran tidak sempurna jika cuma memakai kulit kacang.

Kesimpulan eksperimen


Menurut hasil penelitiannya semua bahan organik bisa. Mampu dirubah olehnya menjadi bahan briket. Begitu pula bahan kulit kacang yang berton- ton tersebut. Cuma butuh diakali dulu sampai benar- benar bisa 100% dari kulit kacang. Hasil penelitian Edy ada cangkang jarak, tempurung kalapa, bahkan bonggol jagung bisa diolahnya jadi briket. Penggunaan bahan lain digunakannya jikalau stok kulit kacang menipis.

"Karena di daerah sini terkenal sebagai sentra kacang, stok kulit kacang praktis selalu tersedia meskipun pada masa-masa tertentu stok kulit kacang kadang memang agak berkurang," jelasnya.

Selain kulit kacang ada pula bonggol jagung sebagai alternatif. Pabrik briket kecilnya mampu menghasilkan 70kg briket. Setiap 1kg briket membutuhkan 2kg kulit kacang. Dalam sehari dibutuhkan 180kg kulit kacang setiap harinya. Selain sampah milik sendiri juga dibelinya dari masyarakat sekitar. Dibelinya Rp.50 per- kg, yang mana Edy menjual kemasan 2kg -an. Briket- briket tersebut kemudian dijualnya Rp.2.500 per- kg.

Produksinya masih rendah dibanding permintaan yang meninggi. Kendala paling utama bisnisnya adalah soal peralatan yang masih sederhana. Harapan akan adanya investor akan sangat membantu. Mungkin dia bisa berproduksi setingkat pabrikan. Mengingat potensi kulit kacang (organik) masih terbuka lebar. Pria lulusan STM 2 Jetis Bantul ini memodifikasi peralatannya sendiri. Ambil contoh pengaduk molen briket meniru kerja mesin pabrik.

Alat buatannya seharga Rp.2 juta, kalau beli bisa mencapai Rp.5 juta. Alat cetak briketnya? Tenang, Edy mengunakan alat pencetak genteng. Itupun sudah dimodifikasi pula Pemanfaatan briket cukup memakai tungku tanah liat seharga Rp.10.000. Memang ini khusus dibuatnya karena belum pernah ada. "Setelah saya bicarakan dengan para perajin, mereka lalu memproduksi tungku gerabah sehingga konsumen tidak kesulitan mendapatkannya," kata Edy.

Menyalakan briket dalam tungku juga mudah. Briket tinggal ditaruh didalam lubang yang atasnya sudah ada tungku. Dinyalakannya juga gampang cuma pakai secuil kertas atau kain (sudah menyala api). Tidak sesulit kalau memakai briket batu bara. Uletnya seorang Edy menghasilkan secercah harapan. November 2008, ia memenangkan perlombaan, juara pertama lomba yang diselenggarakan Universitas Indonesia dan Citi Peka.

Ia memenangkan ajang entrepreneurship. Berarti juga ada kesempatan mendapatkan bantuan dana. Atas hal prestasinya diatas briket kulit kacang memenangkan Rp.11 juta. Uang tersebut rencananya akan digunakan buat modal kembali. Usahanya dirasa akan semakin berkembang lagi. Pasalnya kala itu minyak tanah subsidi mulai langka dipasaran. Tanpa subsidi harga minyak tanah mencapai Rp.8.000 per- liter. Nilai ekonomisnya sudah melebih briketnya.

Ini bisa pula menjadi bahan bakar alternatif pemerintah. Sayangnya, briket ini kalah pamor dengan briket dari batu bara. Apalagi kalau bukan masalah "uang" menjadi hambatan. Briket kulit kacang atau bahan organik lain kalah seksi dibanding briket batu bara. Terlalu banyak orang masuk dibisnis batu bara dan bisa terusik.

Menggunakan briket organik nyatanya ramah lingkungan. Lebih irit kalau dibanding minyak tanah (meski tak secocok tabung gas). Cocok buat mereka yang memasak nasi, sayur, dan lauk, cocok lagi untuk mereka yang punya usaha pengolahan tahu atau tempe. Satu liter minyak tanah delapan ribuan, sementara briketnya cuma Rp.2.500 per- kg. Ini tidak pula menimbulkan asap mengepul mengotori langit- langit.

Kini, briket kulit kacangnya menjadi idaman industri ruma tangga. Salah satunya industri batik, yang mana nilai 3000 kg bisa buat memasakn satu jam.

Artikel Terbaru Kami