Selasa, 22 September 2015

Tertipu Puluhan Juta Memaksa Nasib Sudarma

Biografi Pengusaha I Putu Ngurah Sudarma



Pengen jadi pengusaha sejak masih duduk dibangku kuliah. I Putu Ngurah Sudarma ancang- ancang buat cari modal. Dia masuk STIE Pariwisata Yapri Aktripa Bandung. Sudarma sadar disinilah akan jadi ladang bisnisnya. Hanya saja, ada satu fakta tak bisa dipungkirinya, membangun usaha butuh modal besar. Untuk itulah keinginan menjadi pengusaha ditahannya. Selepas kuliah hasrat terbesarnya menjadi bagian dari industri kapal pesiar.

Sebuah batu loncatan pikir Sudarma. Lewat berkerja di pesiar, ia akan mampu mengumpulkan uang, karena di sana uang gajinya sangat besar. Ia segera melamar ketika selesai sekolah. Sayangnya, apa yang sudah ia rencanakan tak sesuai harapan. Sudah puluhan lamaran dimasukan ke aneka perusahaan kapal pesiar tidak terbalas, dari Royal Caribbean, Holland America Line, sampai Carnival Cruise Line.

Sialnya lagi malah terkena tipu sampai 40 juta. Dia tertipu agen cruise line di tahun 2006. Mungkin karena pola pikirnya kala itu yang berpikir bisnis itu mahal. Menjadi pengusaha buktinya tak selalu mahal. Ambil saja contoh pengusaha kami disini. Uang 40 juta sebenarnya bisa menjadi bisnis. Tapi entahlah bisnis apa yang ia ingin kala itu tak tersampaikan.

"Sampai sekarang uang itu tak kembali," sesalnya, padahal uang itu ternyata boleh pinjam orang tuanya lewat rentenir. 

Ayahnya telah menjaminkan tanahnya buat membayar rentenir. Nasi telah menjadi bubur, maka Sudarma seolah lupa tujuan jadi pengusaha, namun tak menyerah untuk bekerja di kapal pesiar. Sudarma kemudian bekerja di spa milik temannya yang berwarga negara Australia. Menurutnya bekerja di spa sebenarnya iseng. Sambil menunggu kesempatan buat bekerja di kapal pesiar dan menunggu uang Rp.40 juta kembali. 

Selepas tujuh bulan bekerja di spa, pikirannya berbeda dan menyerah menunggu panggilan ke kapal pesiar. Sebelum bekerja di spa tersebut, ternyata Sudarma pernah bekerja di Singapura. Menurut berita dia pernah bekerja menjadi pelayan sebuah kasino di kapal. Cuma bertahan 2 tahun, ini karena bukan pekerjaan yang ia inginkan. Mencoba kembali melamar ke kapal pesiar, enam kali ditolak perusahaan, dan akhirnya ia masuk bekerja di spa.

Disaat bekerja di spa bertemulah ia dengan kekasih hatinya. Sosoknya seolah menjadi pelega disuramnya nasib hidupnya. "Untung saat stress itu saya tidak bunuh diri," kenangnya. Disaat galau tak menentu hadirnya sosok wanita membawanya damai. Akhirnya Sudarma memutuskan untuk menikahi sang pujuan hati. Disini keberuntungan seorang Sudarma seolah berubah.

Sang kekasih hatinya, Komang Astini, dinikahinya di awal 2007. Mereka berdua bersama bekerja di tempat yang sama. September 2007, ia memutuskan keluar dari tempat spa tersebut, alasanya karena dia merasa ide- ide bisnisnya ditolak sang pemilik spa. Ia pun memutuskan mengejar mimpi lamanya yaitu menjadi pengusaha. Sementara itu gajinya saja tak cukup membayar hutang ayahnya. Lantas mau modal berapa dia memulai usahanya.

Sang ayah mencoba membantunya kembali. Dia rela meminjamkan uang Rp.60 juta, bermodal pinjaman lewat tanah warisan sang ayah. Sebenarnya ini adalah beban tersendiri baginya. Modal Rp.60 juta digunakan buat menyewa tanah. Ia membangun tempat pijat sederhana. Yang cuma berisi peralatan dan perlengkapan seadanya. Bahkan tempatnya mendapat julukan spa kandang kuda. Sudarma membuka tempat spa di kawasan Ubud.

Alasan khusus adalah karena tempat itu berasa aura spiritual dan seni budayanya. Ubud baginya adalah desa internasional. Menurutnya hampir setiap orang menatap Ubud. Baik aspek bisnisnya, tempat bekerja, tujuan wisata dan istirahat, atau buat mereka yang menikmati masa pensiun ada di Ubud. Menurutnya bisnis spa menjadi sebuah penyalur imajinasi. Alasan lainnya? "Itulah tempat termurah," jelasnya lagi, yang disusul tawa berderai

Membuka usaha ternyata passion pria kelahiran Singaraja 10 Juni 1980 ini. Sang Spa berdiri di gang kecil di Jalan Jembawan, Ubud. Tempatnya tanpa polesan dinding, cuma punya dua ruangan, cuma punya dua terapis diawalnya yakni dirinya dan istrinya Astini.

Tak menyerah


Pulau Bali memang surganya bisnis spa. Tetapi, tak semua bisnis spa memiliki kisah menarik, seperti halnya kisah Sudarma. Menarik karena bisnis ini dimulai dari nol. Cuma bermodal sewa tanah lokasi yang seluas 3m x 6m. Bersama dia dan istrinya, yang juga mantan pegawai spa, keduanya bekerja untuk spa milik mereka sendiri. Uang sewa tempat dibayar Rp.10 juta selama 10 tahun. Pekerjaan spa dilakukan semuanya oleh mereka berdua.

Semuanya dimulai dari hal paling bawah, dari pembangunan gedung, layanan antra jemput pelanggan, dan pemberian treatment pijat, semuanya itu dilakukan oleh Sudarma dan istrinya tanpa bantuan. Bersama- sama pula mereka melakukan aneka promosi. Mulai membuat desain brosur sendiri. Hingga menyebar brosur pun bersama. Fokus awalnya ialah mempromosikan spa lewat restoran, hotel, villa, dan cottage di kawasan Ubud.

Usaha spa miliknya lantas dinamai Sang Spa. Sayang, Sang Spa tidak terlalu diminati meski keduanya agresif dalam berpromosi. Modal motor butut membantunya menyebarkan 1.000 brosur. Sebagian besar brosur dibuat fotokopi agar harganya lebih murah. Motor tua yang dikendarai Sudarma sendiri juga digunakan buat antar- jemput pelanggan. Hasilnya pengunjung cuma datang satu- dua orang maksimal lima orang saja per- hari.

Terkadang juga tidak ada pelanggan sama sekali. Layanan ditawarkan pertama kali begitu sederhana dan simple. Bulan pertama pendapatan Sang Spa cuma Rp.980.000 (tergolong rendah di Bali). Dia tak berputus asa mempromosikan spa miliknya lagi. Pada bulan ke dua, mulailah ia fokus lagi membesarkan kembali bisnis Sang Spa. Kali ini mereka berdua tak sendiri lagi, dibantu oleh sang keponakan dan adik sepupunya. Mulai lah tampak pelanggan mulai bertambah.

Pengunjung bertambah sampai kesulitan menangani. "... karena setiap hari dan bulan pelanggan yang datang ke Sang Spa semakin bertambah," jelasnya. Memasuki bulan kedua ini omzet bisnisnya melesat jadi Rp.5,6 juta. "Masih sangat jauh dari utang yang harus dilunasi," timpal Sudarma. Astini sendiri sempat merasa putus asa akan keadaan. Ia merasa ini akan sangat sulit, hingga memutuskan bekerja di tempat lain. Ini semua agar bisa membantu sang suami.

Mereka berdua masih terus mencoba melunasi hutang. Kalau dihitung- hitung total hutang mereka berdua sampai angka Rp.100 juta. Cinta sang istri terlihat begitu kuat membuat Sudarma semakin semangat. Inilah asal mula nama Sang Spa. Ini merupakan kepanjangan nama tiga orang: "S" dari nama ayah yang memberi mereka hutang, "A" untuk nama istrinya Astini, sedangkan "NG" berasal dari dirinya, Ngurah. Bulan ketiga akhirnya omzet bisa menembus Rp.15 juta.

Sudarma akhirnya berani mengambil satu pegawai. Sejak saat itu pula usahanya semakin tumbuh pesat saja. Di bulan Agustus 2009, ia memutuskan memutar uangnya kembali, yaitu lewat membuka satu tempat spa lagi. Sang Spa 2 didirikan di tanah sewa seluas 600 m2, yang hanya berjarak 100 meter dari Sang Spa 1. Dibulan sama, di tahun 2010, ia mengambi alih kontrak bisnis spa di Jalan Monkey Forest, dijadikannya Sang Spa 3.

Sukses Sang Spa karena pelayanannya memuaskan. Pelanggan rela merekomendasi Sang Spa ke keluarga dan teman. Melalui mulut- ke mulut bisnisnya menyebar ke seantero Bali. "Jadi dari mulut ke mulut," ujarnya. Beberapa tamu spa -nya juga mempromosikan Sang Spa lewat internet. Senang hati mereka menyebarkan lewat Blog, Facebook, Travel Pod, Tripadvisor, dll. Hal lainnya ada standar pelayanan wajib yaitu pelatihan tiga bulan.

Satu bulan pelatihan, terapis baru bisa lengsung praktik kerja dengan pengawasan satu terapis senior. Buat menyenangkan terapis baru, Sudarma bahkan rela membayari mereka meski masih di dalam masa training. Kalau mereka lolos pelatihan maka akan dikontrak dua tahun. Total sudah ada 68 terapis bekerja di tiga spa -nya. Bulan Agustus 2012, Sudarma sempat membuka Sang Spa 4 di Kuta, sayangnya, terpaksa harus ditutup.

Kini, bisnis Sang Spa menyebar, setiap harinya ada 70 orang atau 80 orang per- hari. Mayoritas pengunjung adalah para turis asing.  Mereka yang berlibur di Bali, asal Australia, Jepang, Taiwan, Malaysia, Singapura, Eropa dan lain- lain. Bisnis yang dirintis sejak Januari 2008 ini, mampu menghasilkan omzet Rp.3,5 miliar per- tahun. Sementara itu Sudarma dan Astini merasa lebih tenang hidup sederhana. Mereka tinggal di rumah kos sederhana sejak awal.

Dari cuma memiliki motor butut sudah berubah jadi dua minibus dan satu BMW. Untuk spa lamanya yang mirip "kandang kuda", dijadikan mereka tempat mengasuh 13 orang anak asuh. Mereka bersekolah formal dan diajarkan menjadi terapis. Layanan antar jemput area sekitar Ubud masih gratis. Sementara diluar Ubud ada tarif sendiri. Dibawah bendera PT. Ngurah Sudarma, tahun 2014, sejak itu fokusnya membengun sistem manajemen.

Hasrat lain, Sudarma ingin menjadi konsultan spa di tiga tahun mendatang. Tambahan dia membuka satu kafe disebarang Sang Spa 2. Kafe yang akan menawarkan minuman herbal. Selain itu ada pula satu vila yang dibangun di daerah Pejeng. Atas prestasinya tersebut I Putu Ngurah Sudarma pernah memanangkan ajang Wirausaha Muda Mandiri 2013. "Semuanya memang bermula dari mimpi, motivasi dan semangat," tutur penggemar buku biografi dan motivasi ini.

Artikel Terbaru Kami