Jumat, 11 September 2015

Mantan Buruh Korea Berjaya di Boneka

Profil Pengusaha Saipunawa Raepani



Korban krisis moneter malah sukses sudah sering kami bahas. Kembali lagi, kisah pengusaha sukses satu ini juga dari kisah krisis moneter 98. Kalau boleh kami menyebutnya dibalik krisis ada hikmah. Namanya adalah Saipunawas Raepani. Modalnya mesin jahit lima buah dan juga pinjaman uang Rp.12 juta. Kini, dia dikenal jadi pengusaha boneka. Bahkan namanya tercatat diberbagai media masa termasuk Kontan.

Seperti apakah kisahnya?

Hanyalah pria biasa kelahiran Bumiayu, Brebes, sekitar 45 tahun silaman dimana terlahir dari keluarga yang berkurangan. Ayahnya seorang petani dan ibunya cumalah penjahit. Makanya Saipun bisa menjadi sosok pekerja keras. Ketika kecil dirinya terbiasa hidup kekurangan. Ketika musim paceklik maka Saipun tak akan bisa membayar sekolah. Karena paceklik membuat ayahnya tak menghasilkan apa- apa.

"Kalau diomelin guru gara-gara belum bayar, saya sih ndableg saja," kenangnya.

Berbeda dengan anak- anak jaman sekarang. Sosok Saipun kecil justru malah suka namanya sekolah. Kalau dimarahi guru karena belum membayar sekolah; ia cuek. Bahkan terus berangkat ke sekolah menuntut ilmu. Ia baru berhenti ketika akan memasuki jenjang perguruan tinggi. Karena tidak bisa melanjutkan sekolah tinggi apa yang dilakukannya.

Pria yang akrab dipanggil Nawas ini kemudian menceritakan lebih lanjut. Dia memilih merantau saja ke kota Surabaya. Mengadu nasib di Kota Pahlawan aneka usaha sudah dilakoninya. Yang penting halal, dari jualan mie ayam, bubur ayam, pokoknya apa- apa saja yang halal dan bisa dimakan katanya. Di tahun 1986, ia putuskan memilih pindah ke Bekas bersama kakaknya. Mulailah ia jualan ayam potong ikuti jejak kakaknya sejak 1990.

Berjualan ayam potong dilakukannya saban hari di Pasar Bantargeban, Bekasi. Sayang, bisnis ayam potong sukses dijalaninya selama lima tahun itu bangkrut. Akhirnya Nawas menjadi pengangguran dan apalagi yang ia bisa lakukan. "Tapi saya di rumah enggak bisa diam," ujar Nawas. Bisnis apa saja, apa saja bisa dijualnya ya dijualnya. Semisal jualan boneka, alat elektronik, dan juga mesin jahit bekas.

"Nah, dari situlah saya mulai kenal dengan para perajin boneka. Barulah ada feeling ke sana (boneka)," tutur Nawas.

Di tahun 2000, akhirnya, dia diterima menjadi karyawan pabrik boneka di Korea. Mendapatkan ilmu disana dirasanya cukup barulah berani mandiri. Dia langsung membuka usaha sendiri. Bisnis dibawah bendera PD Dwi Putra Mandiri Toys, sayangnya, usaha patungan tersebut malah harus kandas ditengah jalan. Mungkin saja karena kekurangan modal dan masalah pribadi. Masalah tengah menguji ketekunan Nawas. Apakah ia akan berbisnis lain lagi atau memilih melanjutkan.

Akhirnya ia memilih melanjutkan usaha PD Dwi Putra Mandiri Toys sendiri. Tak punya modal, beruntung, ada seorang kawan mau membantunya. Kawanya memodali Nawas Rp.12 juta ditambah lima mesin jahit ditangannya. Dari modal tersebut menghasilkan produksi 100 boneka per- hari. Dia tak sendirian bekerja, dimana dibantu lima orang mitra bersama. Usahanya tumbuh, dimana pesanannya dari 100 boneka menjadi 3000 boneka/bulan.

Rumahnya sekaligus tempat produksinya di Bantargebang Barat sudah kwalahan. Tahun 2006, ia membuka ruangan tambahan, tepat dibelakang rumahnya jadi tempat pembuatan boneka tambahan. Luas bangunannya 550 meter persegi, mempekerjakan 55 orang karyawan, dimana mulai bekerja dari 08:00- 16:00 WIB. Tempat tersebut untuk proses produksi, meliputi pemotongan kain, penjahitan pola, memasukan dakron dan finishing.

"Dengan menggunakan 18 mesin jahit, dalam sehari kami bisa memproduksi sampai 500 boneka," sebutnya.

Pengusaha tak puas


Bertambahnya permintaan akan boneka karyanya. Membuat Nawas berpikir bagaimana mendapatkan mesin jahit baru. Untuk hal tersebut diselesaikannya lewat mesin- mesin jahit bekas pabrik. Kalau ada yang jual mesin jahit masih bagus kualitasnya; ia beli. Begitu dibeli akan diserahkan langsung kepada para warga di sekitar rumahnya. Mereka adalah mitra Nawas dalam hal produksi. Mereka ikut membantu perusahaan kecil miliknya berproduksi.

"Satu orang mitra bisa sampai lima mesin dan mereka boleh mengerjakan di rumah masing-masing. Hasilnya, produksi boneka kami pada 2004 secara kumulatif bisa mencapai 2.000 buah karena yang kerja banyak," bebernnya.

Dengan hormat, Nawas selalu menyebut mereka sebagai mitra kerja bukan karyawannya. Hasilnya, berkat bantuan mitra kerjanya, perusahaan PD Dwi Putra mampu menghasilkan 8.000 boneka per- bulan. Usaha miliknya masih terus berkembang. Berkat kepandaiannya bernegosiasi penjualan produknya menyebar. Tak cuma terbatas di Bekasi, tapi sampai ke Jakarta, Samarinda, dimana omzet bisnisnya telah mencapai angka Rp.600 juta.

Cukup memanfaatkan jaringan ketika berjualan ayam dulu. Kegagal berubah menjadi kesuksesan. Kemudian kakaknya yang berdagang ayam banting stir jadi pedagang boneka. Sukses Nawas membawa kebanggan bagi keluarganya. Sambil bercanda ia menyeletuk, "Jadi, kalau dulu kami keluarga ayam, sekarang keluarga boneka." Untuk model bonekanya perusahaan ini menghasilkan 500 model. Kisaran harga perbuah cuma Rp.7000- Rp.125.000.

Jika ditanya model paling laris, maka ada pilihan boneka lumba- lumba, panda, bebek, bentuk pisang, juga bonek Spongebob. Kalau bicara paling laris maka haruslah yang mengikuti pasaran. Ia menjelaskan produk miliknya selalu mengikuti kebutuhan pasar. Mengawasi tren karakter- karakter booming seperti halnya model tokoh kartun Shoun the Sheep.

Artikel Terbaru Kami