Jumat, 07 Agustus 2015

Kesedihan Membawa Berkah Abon Bayi My Baby

Profil Pengusaha Oktavia Hasim




Karena kehilangan sang putra dalam satu pristiwa. Tak membuatnya menyerah berjuang hidup. Ada asa bagi kehidupan lain yang perlu dihidupinya. Dia lantas bangkit melimpahkan semua berbentuk usaha bisnis. Siapa menyangka, sang putra, yang meninggal 8 Maret 2011, itu membawa berkah tersendiri bagi keluarganya yang masih hidup. Dia seolah membawa kesuksesan bagi Oktavia Hasim. Yang sejak putranya meninggal, ia telah bertekat merubah nasibnya.

Kemenangannya menjadi Wirausaha Muda Mandiri 2013 di kelompok pasca- sarjana dan alumni kategori Boga, menjadi bukti bahwa dirinya wanita super- tangguh. Tak tenggelam dalam kesedihan justru membantu banyak ibu- ibu Indonesia. Pasalnya, berkat usaha abon My Baby, bayi bisa makan sehat berlauk ikan lele yang jadi lebih mudah dicerna.

"Usaha ini saya perpaksa, karena, satu, anak saya kebetulan meninggal, pada 8 Maret 2011, karena saya enggak ingin larut dalam kesedihan," ujar wanita 33 tahun ini.

Dia tak bisa memasak. Cuma saja merasa prihatin banyaknya usaha budidaya lele. Tapi masih sebatas buat dimasak biasa. Harga lele pun murah padahal nilai gizinya banyak. "Saya bereksperimen untuk menghasilkan satu produk," lanjutnya. Meski mengaku tidak jago memasak; Oktavia tetap berusaha. Segala percobaan ia lakukan berulang- ulang. Banyak kegagalan ditemui olehnya sepanjang jalan.

Bisnis tak sengaja


Memang daerah asalnya di Purbolingga, Jawa Tengah, memang cukup terkenal akan budidaya lelenya. Dan, hasil seperti yang dijelaskan diatas harganya jadi murah. Mudah didapatkan pula. Karena membuatnya dari bahan- bahan asli berkualitas. Jadinya abon lele buatannya justru jadi lembut. Sampai tetangganya nyeletuk abonya mirip makanan bayi.

Yah, itulah awal mulanya abon bayi My Baby, abon yang bertekstur lembut cocok buat balita diatas 8 bulan. Ia menjelaskan ini menjadi satu- satunya di Indonesia loh. Untuk meyakinkan olahannya tak sembarangan saja membuatnya. Selepas menemukan ide bisnis abon bayi. Oktavia langsung mencari- cari berbagai resep abon. Hingga sukses menemukan resep yang cocok pencernaan bayi. Kemudian bahan- bahan tak cocok buat bayi dihilangkan.

Tidak ada cabe atau merica dalam olahannya. "Saya hanya pakai ikan, bawang, garam dan gula," terangnya. Seiring waktu usahanya maju apalagi dibantu oleh marketing online.

Keberadaan abon membantu bayi 8-10 bulan memenuhi gizinya. Siapa sangka sosoknya bisa menjadi satu pengusaha sukses. Bahkan, ia mendirikan perusahaan sendiri, dibawah bendera Pradipta Jaya Food pada 8 Maret 2011 itu. Awalnya cuma menjual abonnya ke tetangga- tetangga sekitar. Wanita lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Malang ini, semakin mantap menjajaki jalannya sebagai pengusaha. Seiring waktu itu kualitas abonnya semakin mantap.

Jumlah penjualannya semakin banyak saja. Diminati oleh ibu- ibu muda buat anak- anak bayinya. Permintaan akan varian abon baru juga muncul; ada abon ayam, sapi, ikan patin, bahkan terakhir ada yang meminta abon ikan salmon. Jujur saja konsumen lah yang "memaksa" dirinya semakin maju. Mereka tak segan minta produk olahan baru. Ukurannya pun dibikin macam- macam sekaligus harganya bervariasi. Semua agar ia tetap bisa menawarkan abonnya terjangkau masyarakat umum.

Misalnya abon ikan lele, ikan patin, dan abon ayam, ditawarkan Rp.22.000 saja. Sedangkan paling mahal itu abon ikan salmon yakni Rp.50.000.

"Cara menggunakan abon bayi ini hanya tinggal campurkan adonan ini ke nasi atau bubur banyaknya tergantung selera ibu, atau juga bisa dicampur sayur lain," terang Oktavia.

Seiring waktu usahanya maju, pelanggan menyarankannya agar tak cuma membuat abon lele. Dalam sebulan dia bisa memakai 750 kilogram bahan baku. Usahanya juga sudah punya brand dan kemasan sendiri, yang mana semakin menunjukan profesionalisme. Ia menjelaskan abonnya tanpa bahan pengawet. Bisa bertahan 1,5 tahun berkat tingkat keringnya tinggi. Satu kemasan biasanya sudah habis dalam satu minggu.

Dia memanfaatkan jaringan reseller bermodal koneksi internet. Jumlah reseller -nya kemudian tersebar di penjuru Indonesia total sudah ada 75 orang. Dari Sumatra sampai ke Papua terangnya. Pada September 2011, produknya sudah tersedia di pusat retail, yaitu sudah masuk ke Carefour dan Ranch Market. Tumbuh pesat puluhan juta, total Oktavia dibantu 15 orang karyawan dan 150 reseller, dimana resellernya tersebar luas utamanya di Pulau Jawa.

Sukses nyata


Modal awal usahanya cuma Rp.5 2juta. Namun, sejalan berkembangnya usaha, usahanya abon My Baby sudah bisa meraup omzet sampai Rp.75- 80 juta per- bulan. Modal awalnya digunakan untuk membeli satu set peralatan dan bahan baku. Selama tiga bulan mencari- cari resep abon bermodal Internet. Resep abon lele biasa diutak- atiknya agar sesuai dengan pencernaan bayi. Setelah tiga bulan barulah mantap menemukan resep tepat.

Eit... jangan sembarangan kalau menilai abonnya asal- asalan. Faktanya setelah sukses langsung loh, Oktavia mengujinya ke Laboratorium Universitas Brawijaya Malang. Melalui pengujian itulah diketahui kandungan protein abon My Baby cukup tinggi. My Baby mengandung 48,9% karbonhidrat, lemak 20%, dan sisanya tentu protein itu sendiri. Agar awet makan My Baby kadar airnya harus dibawah 2%. Itulah sebabnya bisa awet sampai 1,5 tahun.

Awalnya ia hanya menjual produknya ke tetangga saja. Hingga responnya tenyata bagus. Maka mulailah ia masuk menjajakan ke toko- toko di Purbolinggo. Permintaan akan My Baby ternyata terus meningkat. Itu telah merembet ke Malang sampai ke Surabaya. Ia sendiri sempat ragu akan kemasan My Baby. Saat itu, produknya cuma dibungkus pakai kemasan plastik. Oktavia lantas berpikir ulang apakah bisa masuk ke pasar disana.

Butuh perubahan mendasar untuk usahanya. Dia lantas berkonsultasi dengan Dinas Perikanan Probolinggo. Karena memang perusahaanya Pradipta Jaya Food memang binaan mereka. Kemudian kemasan abonnya diganti alumunium foil agar tahan lama. Sementara itu kemasan luarnya dibuat dari kardus seperti kardus susu bayi. "Kami kemas secara higienis dengan alumunium foil," terangnya. Kemudian ia juga memanfaatkan situs online www.abonmybaby.com

Tenaga kerjanya cuma mengambil ibu- ibu lulusan SD tetangganya. Mereka diberi pembekalan dulu. Mudah saja cukup: ikan datang, masuk proses pencucian, perebusan, pengovenan, nanti hasil akhirnya ikan akan jadi lebih lembut. Ada sepuluh orang produksi dan lima SPG. Soal BPOM, karena memang usahanya masih kecil, maka prosesnya disana tidak cepat. Tapi berbekal surat laboratorium saja, menurut kami merupakan cara baik memulainya.

Dari lima varian abon, yang paling banyak justru abon sapinya, bukanlah abon lele andalan dari Oktavia sebelumnya. Kalau abon lele sendiri menjadi favorit justru dari luar Jawa. Tak lekas puas, Oktavia membidik Carrefour, dan hasilnya ada tiga bulan masa percobaan. Hasilnya produk abon My Baby bisa betahan terjual laris disana. Karena itulah hingga sekarang produknya bisa ditemui di pusat retail besar ini. Kemudian mulai dijual di Rach Market buat pasar Jabodetabeknya.

Artikel Terbaru Kami