Sabtu, 22 Agustus 2015

Tak Suka Diatur Atasan Memilih Toko Olahraga

Profil Pengusaha Randy Fitranadi


 
Gagal buka usaha batik tak membuatnya lantas surut. Malah semakin menjadi- jadi berbisnisnya. Dia lah Rady Fitranadi, awalnya merintis usaha pakain batik tapi beralih pakaian lain. Beda bukan pakaian distro tapi malahan pakaian olah raga. Dan, hasilnya, tak terlalu buruk pengusaha kelahiran Padang, 25 April 1980 ini bisa bernafas lega. Usahanya terbilang lancar jaya dibanding sebelumnya. Randy bahkan jadi sorotan karena bisnisnya tak biasa.

Randy cuma berjualan di kampusnya saja. Tiap berangkat ke kampus punggung Randy selalu terbebani. Tas ranselnya berisi barang dagangan aneka pakaian. Kemudian seiring waktu sedikit- demi sedikit mulai lah ia membangun toko perlengkapan olah raga sendiri. Ia memang suka sekali menjadi pengusaha muda. Berawal ketika mengikuti ajang Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) oleh Universitas Andalas. Berlanjut ke bisnis batik pertamanya.

Sukses dari ajang tersebut didapatkannya modal Rp.8juta. Ia lantas gunakan sebagai modal membeli batik. "Saat itu saya melihat batik sedang populer di Indonesia," ujarnya. Ada prospeknya bagus disana di bisnis batik ini. Sayangnya, dalam beberapa bulan malah tidak ada perkembangan berarti. Dia berpikir sederhana mungkin batik di Padang belum sepopuler di Jawa. Secepatnya ia banting stir memilih berjualan pakaian olah raga; seketika keburu modalnya habis.

Randy memulai usaha dari nol lagi. Uang modal digunakan membeli pakain olah raga dari Jakarta. Idenya muncul karena kebiasaanya beli peralatan olah raga. Ketika membeli perlengkapan olah raga di tempatnya, ia lantas berpikir kenapa tidak berbisnis pakain olah raga. Peniliaian akan prospeknya memang tak salah. Terbukti pembeli selalu datang mampir. Peminatnya tak surut utamanya buat olah raga futsal.

"Apalagi saat ini, olahraga futsal menjadi olah raga yang top di tengah- tengah masyarakat," jelasnya.

Usaha pria penghobi futsal ini semakin berkibar saja. Dari awalnya cuma menjual peralatan atau kaos olah raga seadanya. Ia tawarkan kepada teman- teman sekampusnya. Kini, usahanya sudah punya tempat tetap, padahal dulu modalnya cuma tas ransel. Ini membuktikan bisnis tak harus bermodal besar. Kawan- kawan pun mendukung Randy mengembangkan sayapnya. Kawan- kawanya jadi pelanggan pertama tetap toko kecilnya. Ini memberikan dorongan motivasi baginya.

Ia jadi lebih percaya diri. Kerja kerasnya berbuah ketika itu dihargai. Penghargaan itu salah satunya dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui pinjaman KUR. Putra ketiga dari pasangan Indra Nadhi dan Nursidah ini tak menyia- nyiakan. Toko pertamanya itu berdiri di Jalan Adinegoro No.11 Tabing di Simpang, tepatnya ada di arah ke kampus ATIP Padang.

Waktu telah berlalu dimana usahanya tak seperti dulu. Kini, Randy bisa bolak- balik naik pesawat Jakarta- Padang cuma buat menyetok barang. Jumlah pelanggannya juga sudah bertambah seiring waktu. "Saya tidak menyangka, saya sekarang sudah bisa bolak- balik Jakarta- Padang," ungkapnya. Ia merasa senang karena tak perlu lagi susah kesana- kemari mencari kerjaan. "Ternyata jadi pengusaha itu memang enak," tambah pria berbadan atletis ini.

Randy blak- blakan mengaku kenapa jadi pengusaha. Ternyata semenjak merasakan enaknya. Ia ketagihan karena memang tak ada batasan. Tepatnya dia tak perlu diatur- atur orang. "Saya tidak suka diperintah," jelasnya. Dirinya merasa gaji menjadi pegawai itu kecil. Padahal jika dibaca dari pengalamannya diatas dia belum pernah bekerja. Padahal dia belum pernah jadi karyawan tapi langsung pengusaha, "Jadi pegawai itu harus siap seperti robot, yang senang tiasa dikendalikan orang."

"Itu bukan tipe saya," sebut Randy.

Menurutnya menjadi pengusaha memberikan banyak manfaat. Bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Ia kemudian menjelaskan, kita tidak makan gaji pemerintah saja. Ini mungkin merujuk kepada pegawai negeri sipil. Malahan menurutnya pengusaha lebih berguna bagi negara. Tak makan gaji buta justru malah jadi sumber pajak negara. Mampu membantu masyarakat banyak.

Artikel Terbaru Kami