Kamis, 13 Agustus 2015

Aplikasi Curhat Bullying Menang Ajang Internasional

Profil Pengusaha William Lautama


 
Bisnis tidak selalu soal uang saja. Definisi entrepreneur sudah beralih dari mereka pencari untung semata. Kisah kali ini datang dari seorang mahasiswa Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia telah mengharumkan nama Indonesia di aneka kancah internasional baru- baru saja ini. Tahun 2013, ia bersema beberapa orang, memberikan kejutan karena menemukan aplikasi unik. Dia adalah pemuda bernama William Lautama.

Dia menceritakan pengalamannya memenangkan sebuah kompetisi. Sebuah kompetisi entrepreneurship yang diselenggarakan oleh 4Entrepreneurship, sebuah institusi gabungan empat universitas di Munich, lewat  kompetisi Global Entrepreneurship Summer School (GESS). William kala itu masih berkuliah loh disaat menjalankan proyeknya.

"Saya adalah satu dari 35 peserta yang lulus seleksi dari mahasiswa dunia. Kebetulan saya satu- satunya perwakilan Indonesia," ujarnya.

Sukses internasional


GESS sendiri mengusung aneka konsep entrepreneurship. Tak cuma masalah uang tapi juga sosial. Fokusnya bagaimana agar merubah kehidupan orang banyak, membantu lebih banyak. GESS sendiri waktu itu tengah mengangkat konsep Rethinking Education. Kemudian membagi 35 orang ini terpilih membentuk kelompok- kelompok sendiri. Beranggotakan 5-6 orang sosok William lah menjadi pelopornya.

"Seru sekali mengingat diskusi saat ini. Sebab, anggota tim kan berasal dari negara- negara yang berbeda," ujarnya.

Persoalan pendidikan perlu sentuhan khusus diulik. Uniknya, karena ke tim -nya sendiri juga memiliki latar belakang dari dunia pendidikan berbeda. Persoalan bahasa menjadi masalah tapi akhirnya bisa bertemu di satu titik. Pemuda kelahiran 7 Januari ini lantas melanjutkan ceritanya. Mereka kemudian menjabarkan apa- apa masalah pendidikan di negara masing- masing.

Pemuda 26 tahun ini lantas menawarkan konsep bullying. Permasalahan pendidikan Indonesia disaat- saat ini yang jadi semakin menghawatirkan. Awalnya ia mencoba menawarkan masalah kekurangan guru, sarana prasarana, tapi kesemuanya tidak sesuai bagi teman satu tim -nya. Mereka merupakan pemuda asal negara maju. Tapi jika berbicara tentang bullying atau intimidasi di pendidikan; mereka punya pemikiran sama.

Anggota tim nya antara lain Priscillia (Argentina), Yara (Ukraina), kemudian dua Christian dan Melenie (Jerman). Bullying merupakan masalah global bagi semua negara- negara. "Bullying ini sudah menjadi isu internasional. Bahkan, di Indonesia banyak terjadi," ujarnya. Bahkan menurutnya ada anak yang memilih berhenti sekolah karena jadi korban bullying. Acara brainstroming menyimpulkan tim mereka lantas dinamai LoHoop (Love and Hope).

Fokusnya adalah menangani bullying. Jadilah dibuatlah aplikasi curhat bullying itu sendiri. Alasannya karena korban bullying butuh solusi serta tempat berbagi. Faktanya korban bullying biasanya takut menceritakan kepada orang tua. Sementara teman sendiri belum tentu bisa memberikan solusi masalah.

"Salah satunya karena korban bullying selama ini kerap tidak memiliki saluran untuk curhat," jelas William lagi. Tak disangka ternyata konsep bisnisnya menang.

William berserta tim -nya lantas diundang ke Jerman guna mengikuti Cultural Inovation Network (CIN). Akan tetapi bukanlah pertama kali ini dirinya mengikuti ajang sejenis. Januari 2013, ia pernah diundang ke Hongkong, mengikuti acara menyangkut perubahan positif pemuda- pemuda di seluruh dunia. Undang ini katanya didapatkan berkat insiatifnya memberdayakan masyarakat di Cilincing, Jakarta Utara.

William bersama sejumlah teman kuliahnya bahkan mendapatkan bantuan dana. Dana donasi dari Unilever Leadership Actions on Sustainability (ULAS), mereka mengajari sejumlah ibu- ibu menciptakan pendapatan sendiri melalui berjualan roti kukus dan susu kacang. Dia juga dikenal sebagai co- writer dari buku berjudul Proud and Rise. Di Juli- Agustus 2013, ia mendapatkan undangan mengkuti agenda tahunan tentang science, bernama London Youth Science Forum 2013.

Meski sudah mengikuti banyak belajar dari konferensi internasional. Jikalau berbicara tentang usaha beneran, William secara jujur, mengaku dirinya masihlah pemula soal ini. Meski sudahlah menjalankan aneka usaha sendiri sejak kuliah. Meski dari sana sudah bisa membantu membiaya kuliahnya. Dia pernah jatuh bangun merasakan berjualan aneka produk. Termasuk berjualan gadget dimana akhirnya ia bangkrut kena tipu.

"Sejak kecil saya diajari usaha mandiri oleh keluarga saya. Termasuk ketika saya kuliah, ditanamkan rasa malu untuk tetap meminta uang jajan," terangnya. Disanalah jiwa entrepreneurship tumbuh dalam dirinya.

Meski gagal dia terlihat menikmatinya. Buktinya ia tertawa saja ketika menceritakan bangkrutnya kepada pewarta Jawa Post. Dia belajar agar selalu belajar. Makanya meski sudah banyak jatuh tapi tak mau menyarah. Disanalah dia belajar terangnya lagi. Sekarang alumnus SMK 5 BPK Penabur ini tengah fokus menjalankan bisnis kuliner dan kerajinan di Bandung. Tak cuma meminta uang saku tapi juga sudah bisa membiayai kuliah sendiri.

Meski banyak waktunya dikerjakan buat berbisnis ataupun membedayakan masyarakat. Ia sama sekali tidak turun soal akademis. Buktinya, William mendapat beasiswa karena prestasi akademiknya dan akhirnya dia juga bisa lulus tepat waktu.

"Dari jatuh itu saya belajar. Makanya, semakin banyak jatuh jangan semakin menyerah, karena dari situlah kita belajar," ujarnya.

Artikel Terbaru Kami