Jumat, 21 Agustus 2015

Anak 15 Tahun Dihukum Karena Jualan di Sekolah

Profil Pengusaha Tommie Rose



Sejak kapan menjadi entrepreneur diajarkan. Kapan anak- anak baiknya diajarkan tentang entrepreneurship itu sendiri. Di era sekarang, waktu yang tepat adalah sedini mungkin, mungkin ada beberapa orang tua bilang jadi pengusaha itu bakat. Tidak juga lah demikian. Sebut saja seorang Warren Buffett semenjak kecil ia telah diajarkan hitung- hitungan ekonomi. Ya, semua karena ayahnya adalah seorang broker saham ternamaan, apalagi yang bisa diajarkan.

Ada istilahnya buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sama halnya padi makin berisi akan makin menunduk. Dan, pada akhirnya akan anak kamu raih sebagai sumber kehidupan. Tidak ada istilah terlambat tapi lebih cepat lebih baik. Tidak perlu spesifik belajar tentang apa itu kapitalisme. Akan tetapi ajarkanlah bahwa anak kamu harus bekerja keras buat mendapatkan sesuatu.

"Tidak ada kebanggaan dalam kemudahan," sebuah pepatah.

Entrepreneur dunia mengajarkan kita bagaimana mereka memulai. Mereka adalah contoh kapan layaknya anak mendapatkan pelajarannya. Contoh kecilnya dari Forbes: Andrew Carneige, sejak umur 13 tahun, sudah asik mengolah benang di tempat penenunan kapas; Jack Welch, umur sama, mulai menjual koran dan bekerja sebagai kady; kemudian paling legendaris, sosok Warren Buffett, diumur segitu sudah menjual aneka permen karet, soda, dan majalah.

Ketika kamu telah mengajarkan makna menjadi pengusaha. How to be entrepreneur kepada anak kamu nantinya. Nah, kamu akan menghadapi masalah, ketika lingkungan lain di luar keluarga tak mendukung usaha anak kamu. Sebut saja kisah pengusaha cilik berikut bernama Tommie Rose asal Salford UK. Dia sudahlah mendapatkan pendidikan cukup soal kewirausahaan. Entrepreneurship merupakan panggilan hatinya, akan tetapi sayangnya, sekolah tak mendukung!

Jualan diam- diam


Umur 15 tahunm, tengah dipuncak menikmati apa itu entrepreneurship, meski baru sekedar hobi tapi sudah cukup menghasilkan dollar. Dia menurut laporan Mirror.co.uk menghasilkan $22.000. Cuma bermodal jualan jajanan di sekolahnya. Sayangnya, ada aturan melarang berjualan di sekolah jadilah jualannya ini diam- diam saja. Dia menjual jajanan dan minuman bersoda. Bahkan mampu mengaplikasikan marketing modern yakni dibantu temannya.

Modalnya $100 uang saku harian. Kemudian dia membayar $9 buat dua temannya. Tujuannya adalah agar lebih banyak menjual. Tiga sekawan memulai bisnisnya sendiri. Karena rajin berjualan jadilah ada diskon dan kemudahan dari pihak toko langganannya. Di Inggris, ada aturan ketat tentang berjualan apalagi yang dijual adalah jajanan dan soda (junk food). Hingga Tommie akhirnya mendapatkan suspensi 10 hari di sekolahnya. Hingga pindah ke sekolah baru hukuman sama telah menanti.

Tommie mengaku buat apa uangnya. Maka ia menjelaskan bahwa uangnya akan digunakan buat kuliah. Yah, inilah yang diajarkan oleh orang tuanya tentang nilai uang. Bukan pentingnya kita mempunyai uang. Ia bahkan cukup ambisius bertekat masuk Oxford atau Cambridge -pengusaha cilik ini tak berhenti. Semuanya karena adanya "larangan" berjualan makanan tak sehat. Sayangnya orang tuanya tak mengajarkan bagaimana untuk beradaptasi.

Pengusaha harus punya attitude selain menghormati uang. Ajarkan bahwa konsumen adalah raja berarti anak harus tau bagaimana berjualan sehat. Jujur- amanah itulah ajaran Nabi Muhammad jikalau berbicara apa itu entrepreneurship bukan sekedar paham nilai uang; kamu harus bekerja keras untuk mendapatkannya. Tidak ada yang mudah termasuk soal pengajaran kewirausahaan. Tommie sendiri didakwa menjual produk ilegal tak sesuai aturan.

Jiwa entrepreneurshipnya atau kewirausahaanya tak sejalan. Benar memang konsepnya tapi salah dalam hal eksekusi idenya. Disisi lain ada pengusaha cilik tengah merintis karir. Disisi lain adanya aturan di sekolah agar tidak semua anak bisa berjualan tanpa pedulia kesehatan. Menurut juri acara Dragon's Den semacam acara Shark Tank atau Berani Jadi Miliarder menyebut bahwa nila entrepreneurship sudah ada di dalam dirinya. Tidak perlu berdebat atas apa yang dilakukannya.

Ini memang tentang cara pandang. Cara bagaimana kita mengajarkan dan memilih sekolah. Mungkin kasus di atas tak terjadi di Indonesia. Karena sekolah di Indonesia, umumnya, tidak memiliki aturan spesifik tentang berjualan di sekolah. Ini merupakan kesempatan buat kamu orang tua. Ajarkanlah nilai uang sejak dini agar anak tau hidup mandiri. Akan tetapi ada riskan karena berarti anak bisa berjualan apa saja; contohnya jualan petasan?

So, jangan ragu juga, ajarkannlah bagaimana berjualan sehat, menghormati pembeli, bersikap amanah dan juga jujur berbisnis. Termasuk jujur kepada orang tuanya bahwa mereka tengah berbisnis. Jangan biarkan anak kamu manja tapi juga jangan biarkan anak kamu jadi penyelundup (pedagang gelap).

Artikel Terbaru Kami