Jumat, 21 Agustus 2015

Merek Sabun Cuci Serba Guna Mask

Profil Pengusaha Septian Suryo


 
Kepepet malah menjadi pengusaha sukses. Bukan merupakan judul baru dalam kumpulan artikel kami. Bisa dibilang hampir 80% pengusaha terlahir kepepet. Dengan kadar kepepet berbeda- beda tentunya. Kali ini kepepet mengerjakan tugas kuliah akhirnya kepepet jadi pengusaha saja. Salah satu pengusaha muda kali ini memang unik kisahnya -unik pula produknya. Namanya Septian Suryo, masih 25 tahun saat itu, ialah seorang mahasiswa, penemu, dan pengusaha sabun serba- guna.

Berawal dari soal menggelitik tentang sabun semuanya dimulai. Ketika itu, akhirnya ia memutuskan bahwa sabun adalah satu tema penelitiannya. Unik karena latar pendidikannya adalah Farmasi. Kisah tugas akhirnya atau skripsi dari sang mahasiswa Universitas Hasannudin ini pun berlanjut. Agak terlihat ogah- ogahan sih awalnya. Tapi dirinya tetap mencoba buat menyelesaikan. Dia bahkan disarankah menjualnya. Ini masihlah bagian dari tugas praktikum akhirnya.

"Modal awalnya sendiri hanya 24 ribu. Tadinya, saya tidak berniat," jelasnya kepada SWA.co.id.

Sebagai peniliti jiwa kepeduliannya tentang sabun ramah lingkungan timbul. Dia terpaksa melanjutkan tugas ini tapi malah semakin terdesak. Dimana akhirnya malah terciptalah dua sabun berbeda: sabun cuci tangan dan sabun cuci perabotan dapur. Sementara itu sudah ada pemesannya pula menanyakan. Merasa terdesak terbersit pikiran mencampurkan saja sabun- sabun itu. 

Hasilnya ternyata malah lucu karena bisa buat cuci tangan dan cuci piring. Disisi lain, bisa juga kamu gunakan buat cuci pakian, cuci mobil, dan cuci motor. Inilah cikal bakan produk bernama Maks buatannya. "Awalnya kami membuat produk terpisah baik untuk cuci tangan maupun untuk cuci perabot rumah tangga," ujarnya Karena terdesak memenuhi kebutuhan konsumen. Sementara sistem produksinya memang belum baik, "kami sudah janjikan."

Tercetuslah ide membauat sabun multi- fungsi ini. Awalnya dari cuma penelitian tugas biasa. Kemudian jadi tugas akhir kuliah. Lantas, sang dosen menyarankan dirinya, untuk memproduksi Maks sekala besar.

"Sudah tidak usah diteliti lebih lanjut dulu, mendingan kamu jual saja dulu, diproduksi saja. (Untuk melihat) apakah ada orang yang mau beli atau tidak, ujar Septian, dan ternyata, resposnnya sangat bagus di pasaran.

Bisnis unik


Bermodal cuma Rp.25.000, kini, Mask sudah bisa diproduksi secara masal. Bahkan pada waktu itu sudah banyak permintaan datang tapi produksinya masih terbatas. Serba kepepet mendorongnya melakukan aneka inovasi dalam tenaga kerja maupun kapasitas produksi. Ia pun memutar otak agar bisa mendapatkan lebih banyak modal. Salah satunya, yaitu mengikutkan Mask ke aneka perlombaan kewirausahaan muda. Pertama memenangkan lomba Mask menghasilkan Rp.14 juta.

Tak puas cuma segitu saja melihat keberhasilannya, Septian melanjutkan mengikuti perlombaan lain seperti dari UNESCO, ILO, Bank Indonesia, dan yang melambungkan namanya Wirausaha Muda Mandiri 2013.

Menurut Septian produknya memang lebih efisien. Multi- guna membuatnya lebih unggul dibanding produk di pasaran. Mutli fungsi dari membersihkan mobil buat ayah, kemudian mencuci piring buat ibu, dan terakhir juga bisa buat mencuci tangan seluruh keluarga. Tenang soal kandungan bahan sudah benar- benar diteliti. Ia menyebut bahwa selain bibit sabun (sufoktran), ada tambahan berupa mineral air laut.

Septian melanjutkan soal bahan lain. Yakni turunan minyak kelapa, baik minyak kopra, kelapa, kemudian ia serahkan pengolahannya kepada vendor. Selepas itu barulah dijadikan bahan baku sabun Mask. Kemudian ia menyebut minyak goreng jelanta atau bekas pakai, ini untuk bahan sabun padatnya. Efek dari mineral laut pada bahannya bisa membersihkan kotoran dan menghaluskan kulit. Memang terdengar aneh bahan- bahan digunakannya akan tetapi benar- benar bekerja.

Harga bahannya pun relatif murah karena memang ini bisa dihasilkan dalam negeri. Pertama kali berproduksi, Sepetian blak- blakan, mengaku memanfaatkan fasilitas laboratorium kampusnya. Modal murninya seperti dijelaskan diatas cuma Rp.25.000 saja. Kapasitas produksi awalnya cuma satu ember cat jelasnya lagi. Tahun 2012, produk mask dijual Rp.6.000 per- liter, "kami itu hanya jual isi, atau bentuknya curah." Untuk sekarang ini produknya sudah dijual curahnya Rp.7.500 per- liter.

Septian pun tak segan mendapatkan masukan.

"Setiap konsumen punya selera berbeda- beda," terangnya. Ini termasuk saran segi kemasan, aroma, variasi, untuk aroma konsumen memintanya mempertajam aromanya.

Septian pun percaya diri membidik dua pasar sekaligus yakni pasar ritel dan pasar industri. Untuk ritelnya, ia sudah bisa memproduksi kemasan 200ml dan 500ml, harganya kisaran Rp.4.000- Rp.7.000. Sedangkan buat pasar industrinya dijual kemasan 5 liter, 10 liter, 20 liter, dan 100 liter, yang mana dijual per- liter yakni Rp.8.000 per- liter. Konsumen industri ini meliputi rumah sakit, restoran, hotel, dan juga kantor.

Besarnya permintaan membuat Septian bersama lima karyawannya cukup repot. Mereka bisa menghasilkan 5 ton sabun tiap bulannya. Untuk pasar ritel sendiri dirinya merasa yakin. Karena menurutnya pasar ritel masih minim tingkat kompetisinya. Meski brand ternama menguasai pasaran, ia percaya diri, "saya tak takut untuk bersaing karena produk saya memiliki keunikan dan efisiensi." Targetnya bahkan secara percaya diri masuk pasar modern di beberapa kota di Jawa.

Selanjutnya adalah bagaimana menguasai pasar di luar Jawa. Fokusnya kepada restoran- restoran buat cuci piring lantas pabrik- pabrik untuk mencuci peralatan produksi. Di Sulawesi harga Mask cukup kompetitif dibanding produk sabun lain. Menjadi pekerjaan rumah baginya agar mampu menjaga harga jual. Apalagi ia juga harus memastikan produknya semakin berkualitas. Ini perlu efisiensi dalam hal produksi. Menjual lebih banyak agar modal produksi bisa ditekan.

Berproduksi 5 ton, pasaran Makassar saja, baik buat pertokoan, kafe, hotel, rumah makan, cleaning service, dan lain- lain, masih membutuhkan 14 ton per- bulan. Padahal permintaan itu terus naik apalagi karena ada publisitas dari media masa. Septia mengaku masih mengejar hal ini. Bulan Februari di tahun 2015, produknya memperkenalkan kemasan baru untuk pasar ritel. Sekarang segmentasi akan langsung ke masyarkat luas tak perlu ditahan- tahan.

Artikel Terbaru Kami