Selasa, 25 Agustus 2015

Hampir Bangkrut Karena Menaikan Upah Minimum

Profil Pengusaha Dan Price 



CEO perusahaan satu ini bikin geger seluruh dunia baru- baru ini. Memang namanya tak fimiliar bagi telinga kita. Juga tidak bagi dunia ketika kami amati. Namun, berkat satu langkah nyata, usahanya menanjak tinggi mendapatkan perhatian banyak media masa. Apakah sebuah taktik marketing tertentu. Apalagi masalahnya ia menaikan gaji pegawainya berkali lipat. Ada harga harus dibayarnya buat sekedar "baik hati".

Namanya Dan Price, CEO sebuah perusahaan asal Seattle, Washington DC, membuat geger dengan tiba- tiba menaikan gaji pegawainya. Tak tanggung sampai 93% dimana bersumber dari gaji pokoknya. Dimana perusahaannya Gravity Payment memang dikenal punya performa baik. Ada 120 orang karyawan dimana ia menaikan gaji mereka $70.000 per- tahun atau setara 13 miliar rupiah kala itu. Sebagai catatan sendiri, Gravity Payment, merupakan perusahaan kartu kredit dan pemprosesan keuangan.

Didirikan pada Fabruari 2004 oleh Lucas dan Dan Price sendiri. Berdiri dari kamar asrama Seattle Pacific University berlanjut menghasilkan miliaran rupiah. Dan waktu itu masih berumur 19 tahun loh ketika memulai usahanya. Modal usahanya adalah pengalaman mengatur keuangan sebuah band sekolah, Starightforward. Sukses dari sinilah Gravity Payment punya modal, di Juni 2008, merupakan perusahaan kredit nomor 1 di Washington, melayani total lebih dari 12.000 klien di penjuru negara.

Pada Juni 2010, sosok Dan mendapatkan penghargaan dari Presiden Barack Obama, dirinya mendapatkan penghargaan Small Business Administration untuk National Young Entrepreneur of the Year.

Memilih beda


Menurut sumber Wikipedia perusahaanya memang tak mengenal sistem gaji standar. Tahun 2013 lalu memilih untuk menaikan gaji 2% buat karyawan bergaji dibawah $100.000. Padahal Kongres memutuskan bahwa akan ada kenaikan pajak atas gaji karyawan. Menarik karena seharusnya karyawan miliknya kehilang 2% dari apa yang gaji mereka bayarkan.

Gravity Payments sendiri menghasilkan $100 juta dari kostumernya dan cukup percaya diri akan ekonomi Amerika. Apakah alasan menaikan gaji sampai miliaran per- tahun kali ini. Dalam artikel disebutkan bahwa ia tidak peduli soal uang. Dia ingin mensejahterakan mereka. Ketika dirinya memotong gajinya di tahun 2015 ini menjadi pengalaman luar biasa katanya. Ia merasakan uang menggerogoti hidupnya. Di Amerika Serikat sendiri ada kesenjangan gaji yang sangat tinggi antara atasan dan bawahan.

"Mengetahui ada yang hidup seperti itu menggerogoti saya dari dalam," imbuh Dan, menyatakan apa yang dia lakukan murni adalah rasa kasihan.

Riset yang didukung oleh badan Standard & Poor's, dimana level presiden dibayar 354 kali lipat di atas karyawan paling junior. Langkahnya menimbulkan kehebohan karena baru sekarang ada eksekutif mau untuk dibayar murah. Sekedar informasi lagi nih Washington punya UMR terbesar seantero Amerika, dimana kamu akan dibayar $9,47 per- jam.

Dan sendiri merupakan pemilik saham terbanyak perusahaan. "Kita peduli akan investor dan kita tak begitu juga peduli jika tentang karyawan," tegas Dan.

Ia menambahkan melihat nasib karyawannya itulah mengingatkan dirinya masa dimana dia memulai dulu. Dan mengingin karyawannya mendapatkan liburan penuh. Bennet (28 tahun) salah satu karyawannya mengaku senang sekali. Selama bekerja bersama Gravity Payments dirinya mendapatkan $43 ribu atau setara Rp.55,8 juta per- tahun. Kini, gajinya bertambah drastis $10 ribu atau Rp.130 juta per- bulan, atau setara $53 ribu per- tahun.

Nasib sial


Dan Price merupakan salah satu contoh atasan mulia. Sayangnya, beribu sayang, fakta kinerja perusahaan tak mendukung ini. Sejak memotong gajinya sendiri dan menaikan gaji karyawannya. Tau kah kamu nasib dari bos perusahaan besar ini. Menurut The New York Time, ia "dipaksa" bekerja lebih keras, dan haruslah hidup jauh dari rasanya menjadi bos. Ia bahkan dipaksa menyewakan rumahnya.

"Saya bekerja sangat keras seperti saya mencoba bekerja agar itu (rencananya) bekerja," ujarnya.

Mencoba memenuhi kebutuhan lain melalui menyewakan rumah. Ketika menaikan upah minimun diatas itu bukannya pekerja bekerja lebih giat; ia kehilangan dua pekerja utamanya. Semua karena ketika mereka itu mulai merasa gaji mereka "kecil". Dibanding mereka yang baru saja bekerja. Mereka yang telah bekerja lama merasa "dibedakan" atau disama- samakan dengan karyawan baru. Mereka itu adalah karyawan lama eksekutif perusahaan.

Salahnya adalah faktanya, Dan Price, memerintahkan kepada manajer finansialnya, Maisey McMaster, buat menaikan gaji mereka yang kurang skill dan bepengalaman. Tujuan awalnya mungkin agar mereka pekerja baru lebih bersemangat. Sayangnya lagi mereka yang gajinya bertambah tak optimal bekerja. Perusahaan itu akhirnya kehilangan pula beberapa pelanggan. Mereka mulai melihat ada kesalahan dalam manajemen uang perusahaan.

Maisey McMaster sendiri merupakan salah satu yang keluar. Yang lainnya adalah sosok Grant Morgan, 29 tahun, alasanya simple saja, "sekarang orang- orang yang cuma santai didalam dan luar menghasilkan gaji sama dengan saya." Terus bagaimana dengan pelanggan layanan yang kabur. Ada masalah kepercayaan soal mereka. Bayangkan beritanya begitu masif di media masa menakutkan. Mereka khawatir harus membayar lebih banyak.

Mereka khawatir harus membayari kenaikan gaji karyawan Gravity Payments. Meskipun ada pelanggan baru sayangnya, katanya, tak akan bisa menutupi pengeluaran tahun depan. Disisi lain kisah ini, pendiri lain dari perusahaan, Lucas yang punya 30 persen saham mengadukan tuntutan hukum. Dua minggu saja sejak kenaikan gaji gila- gilaan tersebut. Tuntutannya karena melalaikan pemegang saham minoritas. Dan itu telah mengambil kebijakan sepihak.

Ya, Dan Price bergaji $1 juta per- tahun, sekarang tak cuma kehilangan banyak gajinya. Akhirnya justru membuat karyawannya kabur karena gajinya naik.

Semua karena pengaturan kenaikan gaji sangat berantakan. Kenaikan gaji itu dibuat berlaku penuh semua karyawan baik lama ataupun baru. Alasannya membangun ekonomi berkeadilan gaji. Namun muncul efeknya negatif bagi karyawan lama mereka. Disisi lain, pelanggan khawatir atas langkahnya, hingga di Agustus 2015 ini kehilangan banyak pendapatan dari pelanggan, kemudian disusul patnernya sekaligus saudaranya, Lucas, menuntutnya karena tak sepaham.

Artikel Terbaru Kami