Kamis, 06 Agustus 2015

Penemu Karet Gelang Warna- Warni Loom Band

Profil Pengusaha Cheong Choon Eng


 
Sosoknya memang jaranglah terekspos. Lebih menarik mengekspos kisah dari Pangeran dan Putri Inggris, Kate Middleton dan Prince William, yang ternyata penggemar karet gelang unik ini. Sebuah mata kamera menyorot keduanya mengenakan gelang Loom Band di Yorkshire. Padahal ada sosok penemu bukan langsung jadi atau merupakan karya perusahaan mainan manapun. Atau juga orang- orang lebih suka mengekspos kisah sukses berjualan karet Loom Band.

Seperti kisah Helen Wright dan Kathryn Wright, yang menjual gaun terbuat dari Loom Band hingga miliaran rupiah. Kisah penjualan £170,000 spektakuler dari eBay yang sempat menjadi headline berbagai media di Inggris. Tapi siapa sangka sosok dibaliknya justru hidup lebih sederhana. Ia memang kaya. Akan tetapi tak spekatkuler digambarkan sosok- sosok diatas.

Perkenalkan namanya Cheong Choon Eng, dia lah penemu asli Loom Band, seorang penemu yang kaya raya berkat produknya. Mungkin miliarder akan terlihat modis, tapi sosoknya justru sangatlah humble. Tampak biasa saja -padahal keuntungan perusahaanya begitu besar.

Dia menjadi kaya karena karet warna- warni ini. Kesemuanya berkat karet yang bisa dijadikan gelang cuma bermodal alat plastik. Menyenangkan karena anak- anak diajari motoriknya, imajinasinya, dan ketelitian buat memadu- padankan setiap warnannya. Cheong sendiri masih hidup sederhana. Tinggal di rumah lamanya dan mengendarai mobil lamanya di Amerika. Pria 45 tahun asli Malaysia, yang memutuskan tinggal di Amerika selama 23 tahun lebih.

Dia menikahi seorang wanita bernama Fen. Mempuanyai dua orang putri bernama Teresa, 16, dan Michelle, 13 tahun. Seorang mantan teknisi Nissan, dimana ide awalnya Loom Band berasal dari teknologi sabuk pengaman karyanya -kemudian menjadi sumber kekayaannya sekarang. Kesemuanya berubah drastis ketika adanya satu pristiwa mengingatkannya.

Ketika itu anak- anak gadisnya tengah asik bermain gelang karet. Anak- anaknya tengah asiknya membuat gelang dari karet.

"Hei, saya tau bagaimana membuat ini. Mungkin ini akan menarik kalian," kenang Cheong.

Hidup sederhana


Tumbuh dan besar di pinggiran Malaysia, membuatnya sekeluarga tak punya mainan. Ketika Cheong masih lah kecil butuh kreatifitas buat bermain, jadilah ia membuat layang- layang, atau bermain pasir dan juga asik membuat tali dari karet gelang. Itulah masa kecil seorang penemu Loom Band atau karet pelangi. Ayahnya bekerja di pabrik getah karet milik kakeknya. Dia sendiri sering diajak melihat- lihat ke sana. Ayahnya lalu memperlihatkan hasil karyanya.

Dia memperlihatkan bagaimana getah karet mengalir. Cheong ingat betul bagaimana itu mengalir menetas dari batang pohon karet. Selepas sekolah, ia memutuskan ingin menjadi teknisi, jadilah ia masuk ke universitas di lokal Malaysia. Kisah rasis pernah dirasakannya. Dimana di Malaysia jumlah murid etnis Chinese dibatasi di setiapnya.

"Seperti kebanyakan teman saya, saya harus keluar dari Malaysia buat berkuliah di universitas," terangnya.

Dia bersama kakak laki- lakinya medarat di Amerika. Tepatnya di Kansas pada hari bersalju di musim semi tahun 1991. "Saya belum pernah melihat salju sebelumnya dan baru bisa berbahasa Inggris," kena Choeng. Ia ingat saat itu berpikir ketika dirinya berteriak; tidak akan ada yang mendengar. Dia benar- benar berada di dunia baru.

Setahun selepas lulus kuliah, ketika itu ekonomi di Asia runtuh, ketika itu teman sekampunya memilih pulang kampung; mereka malah tak bekerja. Sementara itu di 1997, ekonomi di Amerika justru tengah naik daun, jadilah seorang teknisi mesin ini bekerja mudah. Dia mulai membangun karir sebagai teknisi keamanan mobil di kawasan Detroit. Dia senang akan pekerjaannya. Tapi tidak senang karena itu menyedot perhatiannya. Ia bahkan tak bisa melihat kedua putrinya.

Mereka sembilan dan 12 tahun, dan tampat jauh darinya. Suatu hari selepas bekerja, ia sempat melihat dua gadis cantiknya bermain karet. Dia berpikir sejenak, "Hei, saya tau bagaimana membuat ini. Mungkin ini akan menarik mereka," kemudian diambilnya beberapa karet. Dia menggunakan cara membuat tali lompat di Malaysia. Cheong kemudian membuat gelang dari beberapa karet. Sayangnya, hal itu tak berhasil, tidak bisa menyatukan mereka.

Mungkin jenis karetnya beda dari apa yang di Malaysia. Kemudian Cheong pergi ke ruang bawah tanah, ia kemudian mengambil kardus dan menempelkan jarum- jarum pin diatas. Dia kemudian menyatukan mereka jadi satu secara zigzag; seperti bentuk berlian. Itu ternyata bekerja sangatlah baik. Hari berikutnya, kedua anak gadisnya memakai gelang warna- warni karyanya ke sekolah. "Saya menjadi pahlawan para tetangga hanya semalam," kenangnya.

Putrinya kemudian memintanya membuat gelang lagi. Dia adalah Teresa, anak tertuanya, yang menyarankan itu dijual saja.

"Saya menghabiskan enam bulan mengembangkan produk dan dirancang 28 versi yang berbeda. Saya masih bekerja penuh waktu di Nissan, jadi saya akan tinggal sampai tiga atau 04:00 setiap pagi," kenangnya, inilah awal sukses Loom Band.

Kerja pintar


Hal paling susah menjadi pengusaha berkeluarga adalah meyakinkan. Ia merasakan susahnya meyakinkan satu keluarga apalagi istrinya. Itu sebelum ia memutuskan keluar dari Nissan. Dia mencoba meyakinkan sang istrinya langsung. Cheong mengambil beberapa karet karyanya. Mulai meletakan satu per- satu karet hingga membentuk cincin. Dia kemudian meletakannya ke jari istrinya. Inilah ketika keputusan ada semuanya ada di tangan wanita.

Ia jor- joran menginvestasikan semua uangnya ke Loom Band. Yaitu ada $10.000, ialah uang tabungan milik keluarga yang kemudian digunakan. Dia membuat perangatnya Loom Band Kit. Kemudian soal karetnya, ia memesan dari China sebanyak 2.000 lb (907kg). Dia menciptakan perangakatnya sama seperti konsepnya dulu.

"Saya menghabiskan berbulan berkeliling toko mainan di Michigan bersama putri saya, mencoba menjual loom band," kenang Cheong.

Tidak ada yang tertarik. Masalahnya orang- orang tidak paham cara kerjanya. Jadilah Cheong mengaja satu keponakan dan kedua putrinya membuat video You Tube. Nah, dari marketing itulah karet gelang warna- warni menjadi tren tersendiri. Mereka cukup menjelaskan cara kerja alatnya dan jadilah gelang cantik. Di Juli 2012, Cheong mendapatkan pesanan dari toko di Alpharetta, Georgia, pesananya cuma 12 perlengkapan Loom Band.

Dua minggu berjalan, seketika satu toko tersebut mendadak meminta lagi, bahkan tak tanggung- tanggung; mereka memasan $10.000. Ketika dia bersama istrinya melihat itu; mereka melotot. Awalnya dia menyangka ini sebuah kesalahan. Namun, pemilik toko mengkonfirmasi tersebut. Sejak itulah permintaan akan Loom Band terus meningkat setiap bulan. Bahkan di Desember 2012, penjualannya mencapai angka $200.000 di penjualan dalam sebulan.

"Saya mengambil "liburan" tiga bulan dari Nissan, tapi tak kembali lagi," kenang Cheong.

Perjalanan adalah keajaiban seperti bagaimana mainan karet ini. Semuanya dibentuk indah pada waktunya, dimana keluarga bangsawan Inggris memakai atau juga Paus Francis juga. Akan tetapi kesemuanya taklah mudah dimana pernah terjadi kesalahan. Dimana 10.000 perlengakapan besinya salah bentuk. Pengaitnya buat mengaitkan gelang salah arah. Ketika itu, Cheong memutuskan membetulkannya satu per- satu, bahkan sampai waktu satu tahun.

Untungnya, ia bersama sekeluarga berhasil menjual $40 juta, dan bahkan berganda di tahun berikutnya. Ada masalah lagi menyusul. Ketika peniliti di Inggris menyebut karetnya bisa berbahaya. Dimana ada anak buta karena terkena karet. Adapula kisah seorang anak gadis aliran darahnya terganggu. Dimana ia memakai satu cinci karet terlalu ketat di jarinya. Tapi disisi lain disana, ada sepasang wanita menjual gaun Loom Band di eBay senilai miliaran rupiah.

Dia masih memandang rumah lamanya, "wow, itu dimulai dari meja ruang makan kami."

Artikel Terbaru Kami