Selasa, 18 Agustus 2015

Biografi Hendi Avanda Pemilik Panda Rumput Laut

Profil Pengusaha Rumput Laut Indonesia


 
Mungkin juga terinspirasi sukses pengusaha Top Tao Kae Noi asal Thailand. Tapi bisa juga dia belum lah pernah mendengar namanya. Namun, pastinya pengusaha satu ini sama- sama bukan tipikal pemuda pantang menyarah. Dia bernama Hendi Avanda, pria kelahiran Batang, Jawa Tengah, 2 Februari 1992, dimana juga mahasiswa Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sejak kuliah pikirannya tak pernah bisa fokus berkuliah.

Jiwa kewirausahaan telah mendarah daging. Sosok entrepreneur muda ini sudahlah berbisnis sejak dini. Yah, akan tetapi lagi- lagi usahanya selalu gagal -padahal sudah berbisnis aneka macam. Waktu itu dirinya masih berbisnis buat membantunya berkuliah. Vanda memang bukan dari golongan orang mampu. Contoh bisnisnya yaitu menjual ketan durian buatan sendiri ke GOR UNY. Usahanya berjualan cuma menghasilkan penjualan tiga porsi itupun dalam sebulan.

"Habis itu aku juga sempat buka aksesoris komputer sama teman- teman, tapi hanya bertahan tiga bulan," kenang Vanda.

Kegagal tak membuatnya patah arang. Malah memunculkan ide- ide unik keluar. Tujuannya bagaimana sih mengakali kegagalan. Hingga, seorang teman membawakan oleh- oleh khas, yakni jajanan rumput lau asli dari Korea Selatan. Vanda lantas berangan- angan punya produk seperti ini.

Jajanan rumput laut di pasaran memang asalnya dari Negeri Gingseng. Namun tidak semuanya dihasilkan dari sana sendiri. Oleh karena itulah dirinya meyakinkan diri. Ia ingin membuat jajanan rumput laut khas asli Indonesia. Dia mulai bereksperiman membuat jajanan rumput laut sendiri. Pemilik produk bernama Panda Rumput Laut ini tak langsung jadi nyata. Tidak langsung jadi produk idam- idamannya tersebut. Sepanjang tahun 2011 dijadikan perjalanan mencari resep terbaik.

Modal pinjaman


"Saya pun bereksperimen membuat snack rumput laut buatan Indonesia," tegasnya.

Anak muda 20 tahun ini memang tak ada matinya. Mahasiswa Manajemen Pendidikan semester akhir ini sudahlah bertekat bulat. Semuanya bermodla otodidak saja. Tahun 2011 berbekal uang pas- pasan mulailah dikelilinginya pantai di Pulau Jawa, mulai dari pantai Gunungkidul, Kepulauan Seribu, Semarang, Jepara, lalu Surabaya hingga Pacitan.

Kesimpulannya saat itu adalah tidak menemukan rumput laut idamannya. Memang produk Panda Rumput Laut menggunakan rumput laut khusus bernama porphyra. Di Timur Indonesia sendiri sudah ada rumput laut jenis. Sayangnya, mutunya tak sebaik ketika dirinya impor, ya, akhirnya Vanda memutuskan untuk impor saja dari Korea. "Jalan satu- satunya ya saya impor. Hingga kini juga masih impor," pukasnya. Tak tanggung kini dirinya sudah bisa mendatangkan satu ton rumput laut.

Rumput laut jenis ini yang satu ton tersebut, digunakannya buat kebutuhan sebulan dan produksinya memang bersekala rumahan. Bermodal rumah kontrakan di Perum Graha Palem Indah A10, Condongcatur, Sleman, dimana produksinya sudah harian. Kesemuanya dikerjakan di tempat tersebut dari pemasakan sampai hal pengemasan. Di setiap harinya memproduksi mencapai 400 bungkus. Kemudian dipasarkan ke 28 toserba di Jogjakarta.

Selain disana, Panda Rumput Laut sudah menyebar ke Bandung, Bangka, Lampung, Malang, Solo, dan juga Magelang, totalnya sudah ada 120 toko di luar Jogja. Bahan spesifik porphyra ini ternyata justru membuat jajanannya berbeda dari asli Korea. Karena snack rumput lautnya jadi tidak membutuhkan MSG atau bahan penyedap rasa. Jajanan ini juga jadi lebih murah terangnya lagi ke awak media.

Dia dibantu oleh enam karyawan. Juga masih terus mengembangkan bisnis rumput lautnya ini. Total ada tiga varian rasa rumput laut yaitu original, barbeque, dan spicy, tapi belum lah cukup. Rasa penasarannya akan sukses asli Indonesia akhirnya melahirkan rasa gudeg. Namun, masih belum mendapatkan komposisi enak buat rasa gudegnya tersebut. Tak cuma varian rasanya, Vanda juga bermimpi membudidayakan rumput laut porphyra sendiri.

Sejujurnya ia menjelaskan bahwa petani lokal sudah membudidayakan rumput laut. Selama ini mereka baru bisa membudidayakan jenis ulva (yang biasa jadi minuman es). Nah, Vanda ingin agar jenis ini juga bisa aktif dibudidayakan tapi dengan kualitas sama baiknya. Dia berharap agar ini bisa cepat terealisasi, Agar nantinya bisa ia gunakan untuk produk- produk jajanan rumput lautnya dan varian produk olahan lainnya.

Artikel Terbaru Kami