Rabu, 12 Agustus 2015

Produk Herbisida Asli IPB Hasilkan Cuan

Profil Pengusaha Muda Kukuh Roxa dkk.



Mereka merupakan contoh sukses mahasiswa IPB. Tiga pemuda ini sukses mengaplikasikan apa ilmu yang mereka dapatkan di kampus dan dunia nyata. Beda dengan mahasiswa lainnya, mereka tak memilih bekerja di perusahaan tapi membuka perusahaan sendiri. Hebat karena modal mereka sangatlah minim. Berawal dari mengumpulkan tugas kuliah buat dosennya. Dari sana pula menghasilkan produk senilai Rp.600 juta/tahun.

Cuma bermodal botol kecil obat. Mahasiswa Institut Pertanian Bogor ini cumalah bermodal 6 jutaan saja. Salah satu dari tiga mahasiswa itu, Kukuh Roxa P.H, menyebut ketiganya cuma berbisnis pupuk cari dan juga hebrisida organik. Lewat bisnis dibawah bendera Adjuvant Herbisida bersama dua orang rekannya. Berawal dari tugas sekolah kini sukses tak disangka- sangka.

"Waktu itu kami bikin tugas bertiga. Proses pengerjaannya hampir 6 bulan. Kalau ditanya berapa modalnya, mungkin dalam 1 bulan kami habis Rp 1 juta, total habis Rp 6 juta. Ini mulai produksi Februari 2013 lalu," terang Kukuh.

Hasil produksi perusahaan kecilnya adalah aneka obat pertanian. Salah satunya ada produk hebrisida dari bahan alami. Tahun lalu, seperti dikutip dari sumbernya, tahun 2014 jumlah permintaanya meningkat sampai berlipat- lipat. Perusahaanya bisa memproduksi sejak 2013, sudah memproduksi 500 botol per- satu bulan nya. Kemudian di tahun 2014 telah mulai mencoba memproduk angka fantastis. Yakni perusahaanya tengah aktif mencoba berproduksi 3 ribu sampai 7 ribu per- bulan.

Kisah awal


Pemuda ini tak ragu berkisah sukses mudanya. Sudah lama berteman akrab dengan dua lainnya, yakni  Sigit Pramono dan Wahyudi, ketiganya mantap membangun usaha dibiang agri ini. Awalnya Kukuh tergerak akan fakta penggunaan bahan kimia 100% pada produk hebrisida. Atau, nama lain dari senyawa menekan laju pertumbuhan pengganggu tanaman atau gulma. Memang berhasil membuat hama kabur.

Tapi pada akhirnya juga menghancurkan lingkungan hidup. Padahal di Indonesia kebutuhan akan produk ini sangatlah tinggi buat petani sawit. Ide awalnya dimulai sejak mengikuti kegiatan Festival Pertanian diadakan oleh Himpunan Mahasiswa ITB. Waktu itu, tepatnya di tahun 2008, kebetulan sekali Kukuh beserta dua temannya menjadi pelaksana acara. Sayangnya ditangan mereka acara tersebut malah membikin hutang 30 juta!

Untuk itulah, ia bersama rekan- rekan lainnya, satu kampus membuat aneka usaha guna menutupi hutang itu. Mereka bersama bekerja di laboratorium kampus. Dibantu oleh pihak dosen, lantas aktif bertemu petani di lapangan, Kukuh membaca kebutuhan akan adanya hebrisida.

Tahun 2012 barulah berdiri sebuah perusahaan dibawah ketiganya. Namanya CV Pandawa Putra Indonesia di Banyuwangi, Jawa Timur. Kukuh menjadi pimpinan perusahaan dibidang agrari ini. Ia menjadi pemimpin perusahaan penjual obat- obat pertanian, pupuk organik, dan berbagai macam benih padi, bahkan sebagian besarnya merupakan hasil karya mereka sendiri. Jangan salah loh... mereka ternyata meski kecil- kecil cabai rawit.

Perusahaan kecil mereka punya tujuh macam jenis padi. Mereka juga punya 14 produk sarana pertanian. Yang mana salah satunya adalah Adjuvant Herbisida. Awalnya para petani tidak mudah percaya atas apa yang mereka tawarkan. Kukuh sendiri tak pantang menyerah memperkenalkan, bekerja keras bahjkan rajin menyambangi para petani . Dia bahkan berani membandrol produknya dengan harga lebih murah. Dibanding produk sejenis memakai bahan kimia; produknya terhitung lebih murah.

Bermodal uang patungan senilai 50 juta. Mereka membangun bisnis dari kecil sejak 2010. Sayangnya bukan tanpa halangan karena pasarnya. Yah, pasaranya dikuasai oleh perusahaan mulit- nasional membuatnya jadi sulit berkembang. Apalagi lamanya proses perijinan utamanya ijin hebrisidanya. Biaya yang dibutuhkan itu bisa mencapai Rp.200 juta. Meski begitu, Kukuh bersama kedua temannya tetap mencari cara, agar para petani terbantukan.

Banyak halangan


Mereka mencoba meyakinkan petani menjadi prioritas. Bahkan meyakinkan mereka tak akan mengeluarkan biaya mahal. "Akhirnya, kami buat Adjuvant ini. Ini benar- benar produk baru," terang Kukuh. Bahanya itu alami yang bisa ditemukan di alam sendiri. Disaat mengujinya ke Kementrian Pertanian, dia harus dilemapar bolak- balik ke beberapa laboratorium, hingga akhirnya selama tiga bulan. Akhirnya bisa diproduksi masal dari perusahaan mereka.

"Karena produknya masih baru, belum ada laboratorium yang mengeluarkan ijin pengujian," terangnya.

Sepanjang tahun 2013 produknya mampu menghasilkan omzet 600 juta/ tahun. Mereka cuma bermodal 5 pegawai tetap dan 15 pegawai lepas. Sukses membawanya mampu untuk memproduksi hingga 500 botol per- bulan. Menurut penjelasannya 1 botol akan digunakan 1 hektar kebun kelapa sawit. Yah, produk ini tengah digandrungi oleh para petani sawit. Bahkan permintaanya terus tumbuh sampai Kukuh berani buat mencanangkan produksi 3 ribu- 7 ribu botol.

"Awalnya ini hanya untuk tugas kuliah, waktu itu kami bikin bertiga. Proses pengerjaanya hampir 6 bulan. Kalau ditanya modal, dalam 1 bulan kami habis 1 juta, total habis Rp.6 juta," jelas Kukuh, soal bagaimana produk ini diracik.

Tahun 2014 menjadi pesanan besar- besarnya dari petani kelapa sawit. Meski permintaan terus meningkat bahkan dalam pehitungannya bisa mencapai 3000- 7000 botol. Sayangnya, ada saja masalah dihadapai oleh meraka utamanya fakta mereka menghadapi pemain besar. Mereka berhadapan langsung dengan perusahaan multi- nasional. Tapi apakah mereka bergeming, faktnya, mereka tidak sama sekali bahkan memperkenalkan produk barunya Solut- Ion.

Produk andalan


Solut- Ion merupakan bagian dari Adjuvant Herbisida itu sendiri. Diperkenalkan ketika acara Mandiri Young Technopreneur 2013 dibagian teknologi- non IT. "Di Mandiri Young Technopreneur 2013, yang kami ajukan Solut-ioN-nya. Kami sebenarnya sudah memproduksi 14 produk, cuma yang benar-benar belum ada (di pasar) ini, Solut-ioN, makanya kami ikutkan ke ajang ini," terang Sigit, selaku COO Pandawa Putra Indonesia, kepada SWA.

Memulai bisnisnya sejak 2012, baru lulus di 2013, mereka tampaknya tak terhentikan sebagai pengusaha muda. Tiga orang alumni Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB ini menciptakan Solut- Ion sebagai produk ketiga. Dalam pemikiran penulis, menurut Kukuh sang CEO, produk ini digunakan campurannya produk hebrisida lain. Fungsinya agar mengurangi tingkat dosis racun di herbisida. Gunanya agar lebih aman tapi tetap mematikan.

Ini bisa digunakan disegala mereka dan jenis hebrisida kimiawi. Ini berbeda dengan produk utama mereka yang total 100% organik. Untuk hal ini dimaksudkan agar membiasakan para petani;. Utamanya para petani sawit yang kesulitan masuk kawasan Eropa karena standar RSPO. Semua karena penggunaan bahan kimia di hebrisida masih tinggi.

"Dengan penggunaan ini, katakan satu hektar butuh enam liter herbisida, cukup pakai tiga liter herbisida, tiga liter produk ini. Jadi, dosis racunnya jauh menurun, tapi tingkat kematiannya sama kualitasnya," terangnya lebih lanjut.

Perusahaannya juga aktif menggaet para petani organik. Mereka sangat membantu memberikan feedback bagi perusahaan Pandawa Putra. "Mas, tolong dong dibuatkan herbisida untuk mematikan rumput," ucap Kukuh menirukan. Karena bahan baku 50 persen organik jadilah tak ada masalah soal bahan baku. Ini bisa ditemukan banyak di alam.

"Tapi, tidak saya sebutkan apa, rahasia perusahaan," canda Kukuh.

Ini berbanding terbalik dengan pesaingnya yang menggunakan 100% impor. Dimana harganya mengikuti fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar.

Akan tetapi lagi- lagi persoalan produk baru membawa kesulitan tersendiri. Mereka dibutuhkan melakukan pengenalan pasar. Mereka pun aktif masuk ke perkebunan- perkebunan langsung. Awalnya menyasar perkebunan tebu dan kelapa sawit. Bagi kalangan petani tebu, produk herbisida dikenal sangat mahal bahkan jadi enggan menyemprot. Padahal jika dihitung mereka rugi jikalau tak menyemprot.

Artikel Terbaru Kami