Kamis, 23 Juli 2015

Pengusaha Aneka Kerajinan Eceng Gondok Liar

Biografi Pengusaha Indra Darmawan


 
Siapa Indra Darmawan dari sungai Citarum?

Adalah definisi pengusaha sosial sebenarnya, jugalah pahlawan lingkungan, pria paruh baya yang menggelutin passion -nya saja. Apakah passion -nya tak lain bagaimana menjaga lingkungan. Indra memang sudah dikenal masyarakat pinggiran sungai Citarum. Cintanya kepada lingkungan, khususnya Kota Bandung, telah ia buktikan melalu serangkaian usaha bersama. Tak cuma soal lingkungan juga termasuk bagaimana agar warga terbantukan secara finansial.

Pria kelahiran Bandung, 7 Maret 1972, merupakan suami dari Tati Mulyati dan ayah dari tiga orang anak, lulusan Sarjana Matematikan di Universitas Padjajaran Bandung, yang akhirnya menjadi seorang pecinta lingkungan. Tapi jangan salah, berkat mencintai lingkungan, dia jadi pengusaha sukses bermodal sampah. Dia yang tinggal di Kampung Babakan Cianjur Rt 02 Rw 04, Cihampelas Kacamatan Cihampelas Kabupaten Bandung, aktif bersama mengajak masyarakat berbisnis.

Salah satu hasilnya yaitu tas dari eceng gondok. Selain itu masih ada produk lainnya bersumber dari sampah daur ulang. Bekat ide kreatifnya banyak produk diciptakan seperti tas, kaligrafi, dan briket.

Kerja sosial


Sebenarnya kesadaran akan lingkungan sudah timbul di hati masyarakat. Tapi daya upaya itu belum lah jadi maksimal. Ada beberapa organisasi lingkungan di sekitar Kampung Cihampelas. Indra yang menyadari hal tersebut mencoba mengambil jalan tengah. Bagaimana sih caranya mengatasi masalah lingkungan? Dimana dua masalah utama bisa terselesaikan; sampah plastik dan eceng gondok.

Masalah sampah plastik yang menumpuk, dirasa tak cukup cuma mengajak rajin mendaur ulang. Soal ada eceng gondok tak cumalah bisa diselesaikan melalui gotong royong semata. Hingga di tahun 2008, ia mulai mengajak masyarakat mengumpulkan eceng gondok dan dikeringkan buat dijadikan uang. Kemudian buat masalah sampah adanya Bank Sampah karyanya bisa menjadi bantuan.

Bersama mereka membangun usaha Koperasi Bangkir Bersama sebagai bendera bisnis. Disana aneka hasil kerajinan eceng gondok dan sampah plastika bisa dijualnya. Usaha tersebut berbuah hasil dimana populasi dari hama eceng gondok sudah tinggal 75 hektar tak tertanggulangi. Sisanya? Sudah bisa disulap oleh warga yang menganggur disekitarnya. Indra pun rutin membeli Rp.500 ribu untuk setiap tiga kintal.

"Saya mengajak warga tak memiliki pekerjaan untuk memanfaatkan eceng gondok menjadi nilai ekonomis," aku Indra

Bagaimana dengan proyek bank sampahnya. Bersama Koperasi Bangun Bangsa, konsep bank sampah milik Indra sudah berjalan maju. Ada dua bank sampah aktif di kawasan Cihampelas, yakni Koperasi Bangun Bangsa miliknya dan Koperasi Berkah. Sudah dimulai jauh sejak 2009 mampu mengumpulkan puluhan ton sampah plastik dan eceng gondok. Soal masalah dihadapinya selama meyakinkan masyarakat, secara jujur diakuinya," kesulitan dari kurangnya dukungan pemda."

Menurutnya mengharapkan pemerintah seperti mimpi saja. Sementara itu, warga atau masyarakat sudahlah punya semangatnya. Jadilah pria 43 tahun ini sepandai- pandainya merubah sampah. Diubahnya menjadi aneka kerajinan siap jual. Eceng gondok dijadikannya tas tak kalah kualitasnya dari produk- produk dari perusahaan besar. Selain itu, yang paling menonjol, adalah kerajinan kaligrafi bermodal eceng gondok.

Kesemua bagian eceng gondok bisa dimanfaatkan. Akarnya jelasnya bisa digunakan sebagai media tanam. Lalu ada batangnya dijadikan bahan pembuatan tas atau produk mabel. Kemudian soal limbahnya pula bisa dijadikan bahan styrofom. Menurutnya jikalau kamu berbicara omzet, berapakah omzet dihasilkan olehnya, ia menjelaskan Koperasi Bangun Bangsa menghasilkan Rp.5 juta- Rp.8 juta per- bulan. Produk hasil karya koperasinya dipasarkan diberbagai pameran.

Dia juga menawarkannya secara online. Produk- produknya sudah meluas seluruh Jawa Barat. Sedangkan  buat sampah plastik diolahnya menjadi biji plastik.

"Saya ingin menghijaukan Citarum dan memberdayakan masyarakat yang bermukim di sekitaran Citarum," terangnya tentang mimpi selanjutnya.

Indra menjelaskan koperasinya menjalin kerja sama dengan 58 orang pemulung. Setiap sampah plastik yang dibawa mereka dari sungai dihargai Rp.1.300 per- kilo, sedangkan buat eceng gondok dihargai Rp.25 ribu tapi dihitungnya perhari buat berapapun. Eceng gondok langsung diolah menjadi kerajinan. Dari aneka tas wanita, pria dewasa, sampai tas anak- anak.

Mimpi- mimpin lain tengah direngkuh oleh alumni Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjajaran ini. Salah satunya adalah membangun minimarket sampah. Kemudian membuat klinik sampah, Rumah Pintar buat anak pemulung, membuat ruang terbuka hijau sekiatar waduk, kemudian terakhir; Indra menginginkan adanya satu laboratorium entrepreneur di Waduk Saguling. Kesemuanya diharapkan terwujud mandiri tanpa bergantung kepada pemerintah.

Artikel Terbaru Kami