Rabu, 29 Juli 2015

Wanita Papua Sukses Mie Rumput Laut Kering

Profil Pengusaha Yubelina Rumbino



Pengusaha asal Papua ini memang tau betul kualitas alamnya. Menjadi pertama melihat peluang apa yang ada di daerahnya. Namanya Yubelina Rumbino, pengusaha mie instan asal Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, yang bahannya terbuat dari rumput laut asli. Uniknya produk olahannya ini benar- benar kering seperti halnya mie terbuat dari beras saja.

Mungkin menjadi satu- satunya dan pertama kali di Indonesia. Mie rumput laut diperjual belikan berwujud kering, membuatnya jadi awet dan tahan lama. Yubelina pun menceritakan kisahnya. Ide awal muncul ketika melihat harga rumput laut di daerahnya terlalu murah. Padahal di pesisir laut Kepulauan Yapen, rumput laut tengah pada musimnya buat dipanen. Di tempatnya tinggal pula dikenal sebagai sentra penghasil rumput laut terbesar di Papua.

Apa yang salah?

Sejak dulu warga Yapen memang sudah pandai mengolah rumput laut. Namun, jika dijual bentukan mentah maka harganya tidak menjanjika. Oleh karena sejak empat tahun silam, Yubelin mencoba membuat aneka produk olahan rumpu laut. Daripada menumpuk dan dijual pun harganya tidak bagus. Proses pembuatan dari mie instan rumput laut masih terbilang sederhana; butuh sentuhan investai mungkin.

"Proses pembuatannya ada beberapa tahanp," jelas Yubelina. Pertama, ambil rumput lau segar kemudian ia keringkan, kemudian direndam, lalu dikeringkan kembali kedua kalinya. Selepas itu barulah diproses untuk dibuat adonan mie.

Kedua, rumput laut kering habis dikeringkan kedua kalinya, dimasak direbus hingga akhirnya berbentuk jadi bubur. Inilah bekal adonan mie rumput laut yakni bubut rumput laut. Bubur kemudian ditambahkan bahan- bahan lain agar pada seperti adonan. Layaknya membuat adonan kue saja, benar- benar masih berbahan sehat seperti telur, sedikit tepung terigu, dan garam.

Karena namanya mie rumput laut penulis berpikir akan sengat sedikit tepungnya. Ia mengungkapkan tahapan diatas bahkan tidak membutuhkan sentuhan mesin berat.

Setiap harinya, Yubelina membutuhkan 10kg bubur rumput laut, yang bisa dibuatnya menjadi 20 sampai 30 bungkus mie rumput laut. "Satu bungkus isinya 400 gram," terangnya. Per- bungkusnya kemudian dijual 20 ribu. Jumlah produksinya masih terbatas karena kurangnya pasokan listrik. Dalam seharinya bisa produksi sampai 150 bungkus seharinya. Dia cuma dibantu satu orang pegawai.

Hanya dibutuhkan satu keryawan membantunya merebus bubur. Soal pengeringan mie masih membutuhkan energi panas matahari. "Kalau pakai mesin pengering daya listriknya tidak akan cukup," jelasnya. Meskipun dibuat sangat sederhana tapi permintaanya membludak loh. Bahkan Yubelina sering kelabakan melayani permintaan pembeli. Dibanding mie telor atau mie instan, mie rumput laut keringnya dijamin lebih bebas dari bahan pengawet.

Ia juga menambahkan mienya lebih kenyal. Menjadi oleh- oleh paling laris jika para pengunjung mengunjungi kawasan Yapen. Mereka akan membawanya ke Jakarta dan Surabaya. Omzetnya bisa mencapai Rp.8 juta per- bulan. Memang punya kekenyalan tersendiri ketika kamu memasaknya. Dan, yang pastinya dijelaskan olehnya ini lebih sehat dibanding mie lain. Apalagi rumput lautnya dibuat di perairan sehat yakni di Papua.

Artikel Terbaru Kami