Rabu, 01 Juli 2015

Membuat Keripik Pare Bisnis Menggiurkan

Profil Pengusaha Sukses Sofyan Hadi


 
Pengusaha asal Kudus ini mempunyai kisahanya sendiri. M Sofyan Hadi tidak pernah terpikirkan di dalam benaknya akan menjadi pengusaha. Dia berkisah semuanya terjadi ketika dirinya menetap di Surabaya, Jawa Timur. Alkisah ketika itu orang tuanya meminta Hadi tinggal disana saja. Disana mulailah ia bertemu banyak orang- orang baru dan kisah pun berlanjut. 

"Saya lama tinggal di Surabaya, disana teman- teman asal Malang banyak membuat yang berkreasi dengan keripik buah," jelasnya kepada Tribunnews.com.

Terbersitlah pikiran membuka usaha membuat keripik. Tapi, Hadi maunya sesuatu berbeda dari apa teman- temannya buat. Ia pun mulai rajin mencari resep di internet. Mencoba mencari alternatif keripik yang bisa diolahnya. Sekian lama berselancar di dunia maya, barulah, ia menemukan jalan suksesnya hingga sekarang. Mantan wartawan ini memilih buah pare sebagai bahan baku. Alasannya adalah karena manfaat pare bagi kesehatan.

Alasan lainnya, Hadi mengamati kala itu, usahanya masih belum banyak pemainnya. Jadilah dirinya menjadi salah satu pemain utama. Pria lulusan Universitas Negeri Semarang ini (UNNES), menjelaskan dirinya tak bisa sekonyong- konyong menggoreng pare. Dia butuh waktu agar parenya tidak berasa pahit. Buah pare harus dibuat seenak mungkin, hingga rasa pahit tak begitu mengganggu. Serangkaian percobaan kemudian dilakukannya.

Hingga, Hadi yakin betul akan formulanya, bagaimana cara mengolah pare menjadi keripik pare. Caranya yakni: pertama, pare dirajang diris tipis- tipis terlebih dahulu, kemudian direndam daun kudo selama dua hari. Kedua irisan pare tersebut dikeringkannya.

"Dari berbagai percobaan, akhirnya ketemu. Caranya ternyata sangat mudah, pare yang telah dirajam dengan daun kudo selama dua hari," jelasnya.

Berbuah sukses


Pare kering setelah dijemur lantas ditiriskan ke wadah. Selepas itu Hadi kemudian menggorengnya dua kali sampai benar- benar kering. Perlu kamu ketahui pada penggorengan pertama jangan langsung digoreng lagi. Kamu harus mengangin- anginkan terlebih dahulu. Terakhir penggorengan kedua akan digoreng benar- benar agar hasilnya benar- benar crispy. Mantan wartawan 1998 hingga 2014 ini, tak lantas menjual hasil karyanya tapi dicobanya dulu.

Dia membagikan keripik parenya ke lingkungan terdekatnya. Hadi menyebutkan semenjak mengkonsumsi keripik buatannya sendiri. Ia merasa kesehatannya membaik. Inilah kelebihan keripik pare menurutnya. Dia menjelaskan, katanya keripik pare ini bisa mengurangi pusing- pusingnya. Bukti lain yaitu tetangganya yang punya gula darah bisa berangsur- angsur normal. "Ada juga tetangga yang punya gula darah tinggi saya kasih untuk coba, ternyata setelah menghabiskan tiga bungkus gula darahnya berangsur normal," terangnya.

Puas akan hasil kerja kerasnya. Barulah Hadi memasarkan keripik pare tersebut ke pasaran. Beberapa toko di Kudus dijajalnya, hasilnya, tanggapan positif terhadap hasil produknya. Uniknya, Hadi tak cuma menyasar toko- toko jajanan biasa, tapi juga apotik- apotik terdekat. Ya, karena memang kasiat keripik pare seperti jamu, ternyata keripik pare bisa menjadi alternatif pengobatan kita. Demikian permintaan akan keripik pare lantas membengkak; Hadi mengaku sampai kwalahan memenuhinya.

Permintaan akan keripik pare tak cuma datang di sekitaran Kudus atau Surabaya. Permintaan keripik juga datang dari Semarang, bahkan Jakarta, Bandung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Palembang, dan juga Medan, juga beberapa toko- toko di berbagai kota seluruh Indonesia. Dia dibantu oleh tujuh orang karyawan telah menikmati hasil kerja kerasnya. Produk keripik pare -nya mengantongi omzet puluhan juta per- bulan.

Juga tak perlu repot- repot marketing karena seluruh Indonesia bisa membaca kisahnya.

"Hampir semua apotek di Kudus juga berminat memasarkan, sudah banyak yang pesan," jelasnya.

Kendala dihadapinya adalah soal bahan baku. Hadi memang tak sembarang memilih pare. Ia menggunakan pare jenis Thailand atau disebut juga pare landak. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Hadi menyiapkan petani plasma binaannya. Tujuannya agar stok pare Thailand stabil. Menggunakan metode plasma memang bagus terutama guna memunuhi kebutuhan akan bahan baku. Total ada lima petani plasma binaanya yang ia pinta khusus menanam pare Thailand atau landak tersebut.

Setiap bulannya menghasilkan 3 ribu bungkus keripik pare. Yang kemudian dilabelinya "Parea", yang mana ia memproduksi berat 35 gram sampai 100 gram. Mayoritasnya kemasan seberat 35 gram, karena itulah yang paling laku. Soal harga, Hadi mematok angka Rp.5 ribu sampai Rp.35 ribu, semuanya tergantung berat isi dalam kemasan. Varian rasa kerpik parenya mulai dari rasa orginal, keju, jagung pedas, pedas biasa, dan lain- lain. Pabrik kecilnya juga memproduksi rempeyek pare.

"Yang pokok, untuk membedakannya, yang bertepung itu saya klarifikasikan sebagai rempeyek, sementara yang original dan tak bertepung digolongkan sebagai keripik," jelasnya.

Artikel Terbaru Kami