Jumat, 03 Juli 2015

Cuma Lulusan SD Jadi Juragan Antena

Profil Pengusaha Lasiman Muhammad Nursal


 
Seperti halnya kata bijak lama milik maestro bisnis Bob Sadino. Dia pernah berkata dalam satu kesempatan, "orang goblok sulit dapet kerja, akhirnya buka usaha sendiri. Saat bisnisnya berkembang, orang goblok akan mempekerjakan orang pintar." Sebuah celetukan kiranya menggambarkan kisah pengusaha perantau sukses asal Surabaya ini. Sebuah kisah Lasiman asal Surabaya, yang tak lain cuma lulusan sekolah dasar. Dia hanya mampu mencium peluang. Sukses Lasiman sudah bergaung diseantero Surabaya.

Juragan antena lulusan SD, mencium kesempatan meski masyarakat sudah berlangganan TV Kabel. Mereka ternyata masih membutuhkan antena sendiri. Bimsalabim Abra Kadabra.... pria bernama lengkap Lasiman Muhammad Nursal ini kemudian membuat antena televisinya sendiri. Bermodal pengetahuan ilmu elektronika seadanya, ia sadar, meski berlangganan, orang masih butuh saluran televisi lokal.

Merantau sukses


Tahun 1994, lelaki asal Gedangan, Kabupaten Malang, memilih merantau ke Surabaya. Apalagi kalau bukan buat mencari rejeki lebih baik. Modalnya merantau mencari kerja cuma selembar kertas. Itu bukanlah ijasah tapi selembar surat keterangan pencari kerja kelurahan. Modal seadanya, Lasiman lantas berusaha sendiri, ia berbisnis sendiri seadanya buat bertahan hidup. Usaha pertamanya berjualan kacamatan 3D. Disaat itu, dua stasiun televisi yaitu SCTV dan RCTI, tengah berlomba menayangkan acara 3D.

Kacamata didapatkanya dari seseorang dari Bandung. Dijualnya murah cuma Rp.3 ribu per- buah. Pertama kali berjualan Lasiman langsung memborong 100 buah. Usahanya ternyata laris manis. Tak disangka- sangka dia bisa menjualnya habis stoknya. Esok harinya, uang keuntungan diputar kembali, dia membeli 2.000 buah langsung dan bisa mengantongi untung puluhan juta. "Sekitar 15 juta," jelasnya. Sadar bahwa usahanya tak akan bertahan lama; dia memilih beralih.

Bisnis keduanya yaitu ceret listrik, itu loh.. teko alumunium panas dicolok listrik. Usaha berbasis rumahan itu ternyata tak begitu menguntungkan. Setahun sudah digelutinya, tidak seperti yang diharapkannya. Memang tidak sampai rugi sih, cuma bisa ngepas memenuhi kebutuhan sehari- hari. Keuntungan bisnis makin menipis, membuatnya harus memutar otak kembali. Bermodal pemahaman akan kekuatan pemancar (Db) antena maka dimulailah bisnis tersukses Lasiman.

Dia membuat antena sendiri pertama kalinya. "Setelah itu, saya mulai bikin antena sendiri. Saya sendiri yang menjual ke beberapa pasar besar di Surabaya," terangnya kepada Jawa Post.

Bisnis antena tersebut merupakan cikal bakal bisnis Ante Radar. Merupakan perusahaan rumahan miliknya. Ketika orang dimalam tengah bersantai, Lasiman masih sibuk mengerjakan bisnisnya sendirian. Mengotak- atik komponen jadi antena- antena sederhana. Pagi harinya tidak ia gunakan buat beristirahat. Dia akan bergegas langsung pergi berjualan ke Pasar Turi. Bermodal lapak sederhana, karena bermodal kecil, bisnis antena buatanya dibuat jadi sesederhana mungkin.

"Maklum, modal terbatas. Jadi, saya harus ngalahi lebih sibuk dibanding pengusaha lainnya," terangnya.

Sibuknya ternyata terbayar manis meski butuh waktu. Lambat laun, lapak jualannya di Pasar Turi tersebut bisa berkembang. Bahkan sudah punya cabang di dua tempat berbeda. Keduanya baik lapak JMP ataupun di Pasar Besar sama- sama kebanjiran order. Lasiman bahkan tak sanggu mengerjakan sendiri. Mulailah Lasiman merekrut pegawai sendiri merakit antena. Dia mengajak beberapa tetangga buat bikin. Adapula beberapa karyawan luar kota, membantunya merakit di kediamannya, Sukomanunggal.

Dia memberdayakan ibu- ibu rumah tangga sekitar. Mereka adalah ibu ramah tangga menganggur menunggu suaminya pulang. Ibu- ibu itu biasanya mengerjakan ferit buat dijadikan konduktor. Batang karbong tersebut dililitkan ke kotak- kotak plastik. Mereka bekerja borongan. Dalam dua hari, Lasiman meminta mereka mengerjakan sekitar 2.000 buah. Kakek dua cucu ini ternyata tak cuma fokus merangkai antena jadi saja. Seiring waktu juga mulai memproduksi sendiri rangkaiannya.

Bisnis sederhana


Mulai dari boks plastik dan ferit sudah diproduksi sendiri. Para karyawan pria akan mengerjakan boks- boks plastiknya. Mereka akan ditempatkan di sebuh tempat, yang disebutnya pabrik kecil- kecilan. Boks tersebut ia jelaskan hasil pengolahan sampah plastik. Itu adalah sampah gelas plastik yang dirubah jadi biji plastik. Ia kemudian merubah bijinya menjadi boks plastik. Biji plastik tersebut kemudian dicampur pewarna dan bahan baku itu kemudian dicetak kotak- kotak.

"Saya buat sendiri karena kalau beli, harganya tak seimbang harga jual," jelasnya.

Harga antena tersebut dibandrol Rp.15.000. Pemasarannya sudah menjangkau luar Pulau Jawa. Ada suplier sendiri membewa produknya buat dijualkan. "Di Surabaya sudah ada suplier yang mengamb," ia menjelaskan lagi. Disaat diwawancarai pewarta, Lasiman sendiri tengah mempersiapkan pengiriman, ada 230 koli antena siap kirim ke Palembang, Balikpapan, bahkan Jakarta. Untuk feritnya sendiri, Lasiman mengaku baru bisa memproduksinya sendiri.

Ferit sendiri merupakan komponen fital. Yakni komponen alektornik buat penerima gelombang, di Indonesia sendiri; baru dirinya lah yang berproduksi. Awalnya, ia mengaku mengimpor komponen ferit dari Tiongkok. Kini, dia mungkin menjadi polopor pembuatan ferir mandiri asal Indonesia. Keuntungan jadilah berlimpah utamanya dari penjualan ferit saja. Ia mengaku bisa mendapatkan pesanan ribuan cuma buat komponen tersebut.

Cuma lulusan SD, tetapi, Lasiman bisa memberdayakan banyak orang. Dia telah memilik banyak karyawan. Dia punya 13 rumah, cuma berbekal pengetahuan sederhana soal elektronika ditambah kerja keras. Sosok  Lasiman cumalah pria biasa yang hobi mengutak- atik barang. Yang tanpa disangka mengutak- atik antena menjadikannya kaya raya. Terakhir, Lasiman diajak Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, memberdayakan masyarakat di Jalan Jarak; membuktikan ia masih pria bersahaja.

"Saya pasti mau. Sebab, tempat dimana saya mendapat rejeki, warga sekitar juga harus mendapat.

Artikel Terbaru Kami