Jumat, 24 Juli 2015

Cerita Nyata Bekas Sopir Sukses Bisnis Katering

Profil Pengusaha Heni Hermawan


 
Bisnis dari hobi apakah lebih sukses faktanya memang begitulah adanya. Tapi tak semua hobi bisa dijadikan sumber pendapatan loh. Mungkin paling banyak menghasilkan adalah hobi memasak. Ya, memang hobi satu ini punya banyak jalan menujur Roma kesuksesan. Seperti halnya kisah Heni Hermawan, pengusaha ketering yang sudah makan asam- garam aneka usaha. Ia sudah kenyang jatuh bangun membangun usaha. 

Istrinya, Lilik Afifah, merupakan saksi hidup kesuksesan sang suami kini, ayah dari ketiga anak mereka, M. Anandhito, Jihan, dan Laura, memulai semuanya cuma dari bekerja serabutan. Dimana Heni bekerja menjadi sopir kenang sang istri. Dia pernah bekerja sebagai sopir saudaranya sendiri. Gaji cuma 200 ribu, padahal ia sendiri masih mengontrak Rp.80 ribu. Sisanya ya cuma bisa digunakan buat makan tahu- tempe. Mencoba merubah nasib Hani mulai berjualan sendiri.

Usaha pertamanya menjadi makelar motor. Tugasnya cukup menjual- beli mobil China. Kebetulah pada saat itu memang tengah booming motor China murah. Suksesnya cuma sesaat, Alumni Unitomo Surabaya ini, memang mesti memutar otak kembali lantaran putri pertamanya, yang baru tujuh bulan harus sakit sampai akhirnya meninggal dunia. Itu semua terjadi disaat bersamaan. 

"Live must go on", kisah pilu tersebut diubah menjadi cambukan keras. Bingung mencari- cari, hingga ia pun sadar bahwa sang istri bisa memasak enak. Hobi memasak istrinya coba diekspolarsi lebih.

"Kenapa masakanmu nggak dibisnisin aja, ya ma?" gumamnya.

Keduanya lantas sepakat bekerja sama membuka warung nasi kecil- kecilan. Bermodal masakan enak tak butuh waktu lama bisnis keduanya tumbuh. Jumlah pelanggannya tumbuh cepat. Bahkan tak cuma makan di tempat, bahkan sampai banyak mau membawa pulang masakannya. Mereka meminta dibungkuskan nasi buat dibawa pulang ke kantor atau rumah.

Marketing gampang


Cuma bermodal marketing dari mulut- ke mulut usahanya maju. Tanpa merogoh kocek dalam- dalam buat memasarkan. Ditambah kondisi Kota Cilegon sangat mendukung usaha Heni. Bayangkan saja disekitaran dari tempat mereka berjualan berbaris pabrik- pabrik dan sentra- sentra industri.

Satu- persatu perusahaan disekitar warungnya merespon balik. Bahkan mereka berebut berlangganan makan di warung miliknya. Hingga, akhirnya, bisnis warung berubah menjadi katering, Heni dan istrinya bersama- sama memnuhi kebutuhan sarapan, makan siang, hingga makan malam ratusan karyawan. Singkat ceritanya itulah awal mula katering Al Mukarommah. Katering yang telah malayani pesanan sembilan perusahaan besar di sekitar Kota Cilegon.

Empat diantaranya bahkan punya ribuan karyawan, ada PT. Nestle, Kimia Nusantara, Sankyu, dan Gajah Tunggal. Omzet pun melonjak drastis bahkan menyentuh angka ratusan juta. Wajar karena memang makanan buatan istrinya memang enak. Apalagi ditambah, baru- baru ini, lelaki yang pernah mengenyam pendidikan SMA -nya di SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo ini, resmi mendirikan cabang kateringan Al Mukarommah letaknya di kawsan sekitar Banten.

Totalnya ada 3 tempat startegi yaitu Cikupa, Bojonegoro, kemudian Anyer, ditotal empat katering utama Heni di Cilegon.

"Omzet tertinggi yang pernah kami cetak mencapai Rp.700 juta, tahun lalu. Kini turun sedikit, sekitar Rp.400- 500 juta (per- bulan). Ini omzet ya, bukan untung," tutur Heni menjelaskan, kepada awak media dari Tribunnews. Membuat pensaran pewarta, Heni pun dikulik- kulik lagi berapa sebenarnya untung bersih bisnis kateringnya. "Ya perkirakan sendiri," ujarnya.

Bukan pengusaha kalau tak menemui hambatan. Kisah langsung sukses milik Heni Hernawan memang terlalu manis menjadi nyata. Soal hambatan dijelaskannya tak main- main. Bahkan hambatan itu datangnya dari hal- hal gaib. Tak lain, tak bukan adalah dari para pesaing mereka yang merasa bisnis miliknya terlalu sukses. Ia menyebut pengalaman nasi baru masak langsung basi! Aneh tetapi nyata begitulah persaingan bisnisnya yang tidak sehat.

Heni sendiri tetap lurus- lurus saja. Meski ditimpah hal semacam itu, dimana tak cuma sekali -tetapi berkali- kali, mereka sekeluarga tetap lurus berserah diri kepada Allah. Memang keluarganya dikenal rajin beribadah. Ini menjadi senjatanya menghadapi hal- hal aneh. Dia cuma bisa pasrah tanpa melawan balik. Cuma meminta anak buahnya buat langsung memasak lagi. Meski hampir saja terlambat memenuhi kebutuhan pesanan.

Padahal dia harus melayani pesanan ribuan karyawan pabrik. Selain hal itu, adapula komplain dari pelanggan baik nasi terlalu keras, atau pelanggan neko- neko minta nasinya sedikit lembek, sayurnya kurang asin, dan masih banyak lainnya.

"Saya tak terlalu peduli kalau keluhannya menyangkut selera. Orang kan ada yang suka nasi lembek dan juga sebaliknya. Bagaimana bisa menuruti satu persatu selera?" tuturnya.

Kalau sudah menyangkut selera memang sulit. Tapi kalau menyangkut bagaimana usaha mereka bekerja, ia akan sangat pedulih bahkan rela turun tangan. Kalau tentang keterlambatan pengiriman, komponen menu yang bekurang, serta masalah teknis lainnya, ia akan siap sedia menanggapi. Meski harga kebutuhan bahan pokok naik keduanya tak seketika menaikan harga. Inilah kelebihan katering mereka tetap murah dan rasa yang terjaga.

Hani bahkan bercerita, kalai margin untunya bisa dikejar, meski sedikit- sedikit maka ia akan ikhlas hati agar harganya tak begitu naik. Bahkan menaikan sidikit- demi sedikit juga bukanlah pilihannya. Dia menyebut lagi bahwa yang terpenting pelanggan tak lari ke tempat lain. Pria yang kini namanya dikenal sebagai salah satu pengusaha katering sukses; mengaku jika dirinya tak pernah menghitung detail untungnya. Bisa dibilang apa yang dicapainya ini diluar ekspetasinya.

Artikel Terbaru Kami