Jumat, 31 Juli 2015

Gagal MLM Bikin Ide Gila Batagor Hanimun

Profil Pengusaha Angga Januar



Kenapa susah yah mendapatkan downline? Mungkin kamu enggak berbakat berbisnis MLM. Mungkin juga kamu bisa meniru langkah pemuda bernama Angga Januar K. Dia pernah merasakan apa yang pernah kamu rasakan sekarang. Bagaimana rasanya (dijanji- janjikan) mendapatkan mobil mewah dari bisnis MLM. Sayangnya, memang tak semua orang bisa sesukses Sunarno. Mantan pemulung ini memang menjadi bahan omongan.

Cuma bermodal seadanya, dirinya mampu menduduki posisi tinggi di Forever Young. Kisah sukses seperti ini mulai jarang ditemui. Kisah pemulung sukses berbisnis MLM tanpa modal uang sudah seperti legenda saja. Kembali ke sosok Angga, kapankan ia memulai bisnisnya tersebut. Tepatnya, pada 2008, Angga bersama ibunya, mulai tertarik berbisnis MLM. Mereka tergiur iming- iming mobil mewah hingga rumah megah jika sukses merekrut orang.

Faktanya gambaran serba manis tersebut cuma semu belaka. Mereka tidak bisnis berbisnis MLM. Mereka tak mampu mengikuti pola usahanya. Bahkan ibunya sudah menggelontorkan uang banyak. Mereka bahkan kehilangan mobil, rumahnya di kawasan Cimahi, Jawa Barat. Harta mereka digelontorkan buat menutupi biaya dikeluarkan mereka.

Kapok berbisnis MLM membuatnya memilih bisnis konvensional. Sayangnya, lagi- lagi Angga mengalami satu kegagalan kembali. Bisnisnya dibidang konveksi justru tertipu salah seorang konsumen asal Kalimantan. Jadilah Angga menutup bisnis konveksinya, bangkrut, kehilangan semua modal yang ada.

"Kejadian itu terjadi di tahun 2005, konsumen baru bayar DP (uang muka) 25% untuk order konveksi saya. Setelah orderan selesai dan dikirim, orang yang order tidak bisa dihubungi lagi," jelas Angga kepada situs Myoyeah.

Otaknya berputar keras buat memulai bisnis kembali. Dia seolah tak kapok mengalami kegagalan. Angga mulai berpikir usaha apa yang baru tapi bisa cepat menghasilkan. Ia lantas mencurhatkan kegalauannya ke ayahnya, yang kebetulan adalah seorang akuntan di salah satu bank swasta. Secara getir, ayahnya kemudian menyodorkan uang 20 juta. "Papa tinggal punya sisa tabungan Rp.20 juta untuk keluarga waktu itu," ia lantas menjelaskan.

Bisnis kuliner


Angga menceritakan papahnya menjelaskan kunci bisnis cepat. Menurutnya bisnis yang perputaran uangnya capat adalah bisnis kuliner. Kemudian ia berpikir buat berbisnis batagor karena penggemar batagor. Karena ayahnya bekerja sebagai akuntan. Bisnisnya pun tak terlepas dari sorotan matanya. Ia menceritakan ketika akan memulai usaha; dia diperintahkan menulis anggaran. Dia diperintahkan menulis anggaran usaha yang ia perkirakan nanti.

"Awalnya rencana anggaran itu mencapai angka Rp.15 juta," jelasnya. Papanya kemudian menyarankan agar Angga menghitung ulang. Disarankannya untuk mengambil bahan- bahan dan peralatan lebih murah. Hasilnya modalnya bisa ditekan menjadi Rp.6 juta. Tapi tentunya tanpa mengurangi kualitas dari batagor buatannya nanti loh.

Angga tidak lama dalam keterpurukan. Dua tahun semenjak kebangkrutan parah bisnisnya sendiri. Yakni dari bisnis konveksinya dulu. Modanya Rp.6 juta digunakan segera tanpa basa- basi. Pada Februari 2007, resmi bisnis kulinernya yang bernama Batagor Hanimun diluncurkan. Adanya pengalaman gagal MLM kemudian gagal berbisnis konveksi menyadarkan satu hal; bahwa bisnisnya salah manajemen. Ini fakta yang diambilnya ketika memulai brand -nya sendiri.

"Ya,saya menyadari kalau waktu dulu kami buruk dalam hal manajemen," terangnya.

Selain sibuk membenahi manajemen, disaat itupula Angga mengikuti anake pameran. Ini memang merupakan strategi khususnya memperkenalkan brand -nya. Ia tak absesn hadir di pameran khususnya pameran kuliner di Bandung. Saking kerajinan mengikuti pemaran membuatnya dikenal. Sosok Angga dikenal oleh kawan- kawanya sebagai hantu pameran atau jurik pameran.

Agresifitas memperkenalkan bisnisnya ternyata membuahkan hasil. Strateginya buat memperkenalkan juga sebagai sarana membangun koneksi. Disana, Angga mampu menggaet konsumen, bahkan dalam jumlah yang besar dalam waktu singkat. Dibanding cara biasanya berjualan normal yakni berjualan lewat mobil keliling; hasilnya bisa berkali- kali lipat. Tidak cuma 2- 3 kali lipat tapi mencapai belasan kali lipat untungnya jualan di pameran.

Itulah alasan utama lainnya selain memperkenalkan brand -nya. Apalagi kalau bukan cara cepat menggaet konsumen non- konvensional. Bahkan lewat berjualan di pameran membawanya untung besar. Bukan cuma untung uang tapi sebuah kesempatan memperluas bisnisnya. Dalam penjelasannya, ketika mengikuti pameran PKBL UKM Expo 2009, selain terjual habis Batagor Hanimun -nya; ada sosok investor miliriknya. Inilah tonggak sukses besarnya.

Sukses tak disangka


Dia bercerita saat itu ada satu keluarga yang setiap hari datang ke booth -nya. Namun, karena pembeli selalu laris manis jadilah mereka selalu kehabisan. Hingga akhirnya mereka datang lebih awal agar bisa kebagian. Bahkan mereka rela datang ke pameran selanjutnya. Karena datang dari awal, jadilah, satu keluarga itu bisa kebagian lezatnya Batagor Hanimun.

"Hari berikutnya mereka datang lebih awal dan membeli batagor," katanya. Setelah itu, sang ibu keluarga tersebut menyodorkan nomor telephon. Maksudnya adalah sang ibu tertarik menjadi mitra bisnisnya kelak. Angga pun tak menyia- nyiakan tawaran tersebut. Untuk pertama kalinya, Angga bisa membuka satu toko bersifat permanen, jika sebelumnya cuma berjualan lewat mobil pribadi. Toko tersebut terletak di Rest Area 97, dimana mitranya adalah si ibu tersebut.

Unik karena Angga tak punya rencana khusus buat kerja sama. Dia bahkan tak menulis proposal bisnisnya. Tak mengira bahwa si ibu mau mengajaknya bemitra. Bahkan menawarinya berapa uang dibutuhkan buat berinvestasi di tempatnya. Asal- asalan saja terucap kata Rp.10 juta seketika. Ternyata ibu itu tidak surut ketika mendengar angkanya. Jadilah usahanya berkembang berkat hal spontan tersebut.

Penjualan dilokasi barunya mencapai 40 ribu pcs/bulan. Jumlah tersebut dibilang sangat besar dibanding apa dibayangkannya. Selepas membuka bisnis di Rest Area 97 tersebut membawa keburuntungannya terus saja menanjak. Batagor Hanimun bahkan bisa memiliki 4 cabang di Bandung, 1 di rest area Tol Cipularang, 2 di Jakarta, dan 1 cabang di Bogor. Cabangnya banyak membawanya jadi kaya mendadak. Bukannya karena sukses MLM tapi karena berbisnis batagor beromzet Rp.300 juta per- bulan.

Artikel Terbaru Kami