Sabtu, 18 Juli 2015

Bisnis Pembiayaan Kendaraan Modal Jam Tangan

Profil Pengusaha Baron Respati


Memulai bisnis sebelum umur 20 tahun. Itu adalah suatu kelebihan jarang dimiliki pemuda Indonesia. Nama pengusaha kali ini adalah Baron Respati. Itulah pengusaha ternama yang menikahi Olivia Pramaisella, finalis Miss Indonesia 2014, yang sempat jadi pembicaraan di tahun 2014. Kita tak akan membahas gosipnya. Kali ini kita berbicara tentang kisahnya dalam artikel ini.

Darah pengusaha memang sudah mengalir deras dalam tubuhnya. Dia adalah putra seorang Ganjar Wirahadi, pemilik perusahaan Asia Finance, yang mana telah jauh hari menggembleng Baron menjadi penerusnya. Tak mudah karena ia memikul nama besar ayahnya. Sejak kecil sosoknya sudah didekatkan dengan dunia bisnis finance. Tapi berjalannya waktu, ketika beranjak dewasa, seperti halnya anak- anak lain; Baron sempat "memberontak".

Kenyataanya pria lulusan University of San Fransisco, Amerika Serikat ini, justru kepincut bisnis jam tangan. Dia sama sekali tak menyentuh bisnis orang tuanya. Dia kepincut bisnis jam tangan mewah. Baron saat itu, selepas kuliah memboyong brand Locman asal Italia, kala itu jam tangan mewah merek tersebut tengah jadi gandrungan selebriti dunia. Mendirikan perusahaan bernama PT Ambar Kejora, dia menjadi distributor resmi merek dagang Locman.

Baron bahkan membidik bisnis kafe. Penuh trobosan khas anak muda. Dimana kafenya memadukan konsep kafe disuport bisnis lounge. Baron baru menyentuh bisnis finance atau finansial ketika sudah kenyang. Ia siap membawa tongkat estafet.

"Saya siap membuka finance company atau kredit mobil baru di daerah- daerah," jelasnya.

Dia sendiri punya tiga kunci sukses dari tiga tokoh bisnis. Pertama ialah kunci sukses berupa manajemen dari hati khas T.P. Rahmat. Kemudian kedua yaitu disipilin dan jujurnya Peter Gontha. Terkahir, yaitu dari sang calon Presiden Amerika 2015, Donald Trump dengan selalu memberikan yang terbaik. Ia bertekat untuk bisa membawa kesuksesan bagi Asia Finance.

Bakat bisnis


Soal bisnis jam, ternyata sudah pernah ia jalani ketika di bangku SMA. Alumni SMA Kilmore Int'l School, Melbourne, Asutralia ini, mengaku sempat berjualan kecil- kecilan. Dia membeli sebuah jam tangan di Pasar Baru. Dan, ternyata, temannya di Australia tertarik akan jam tangannya. Sebuah jam tangan multi- fungsi itu kiranya penjelasan Baron kepada situs Inilah.com. Tidak cuma jam tangan sampai ikat pinggan pun mereka tertarik membeli.

Aneh karena semuanya itu dibelinya dari pasar. Bisnisnya memang masih sekala kecil. Tapi menujukan satu minat Baron terhadap jam tangan. Ketika mulai menjual jam tangan merek Locman. Tidak seperti yang akan kamu duga. Dia justru menelan pil pahit. Dua bulan pertama berjualan jam tangan tak laku terjual. Jikalau kita berbicara sistem dan kualitas produknya ini sangat berkualitas. Satu hal dipelajari penulis adalah satu hal menjadi kesalahan cara marketingnya.

Dia lantas mengikuti satu pameran di sebuah pusat perbelanjaan. "Salah satu artis, Titi Dj membeli jam tangan itu. Dari sana, Locman mulai laku, apalagi saat pengusah ternama membelinya," ceritanya. Dari sanalah, ia paham akan satu hal bahwa pengusaha tak boleh menunggu. Kita sebagai pengusaha haruslah menjemput bola. Sejak kejadian tersebut, Baron mulai aktif mengikuti berbagai pameran, tak lama berselang setelahnya, perusahaanya membuka service center.

Baron membuka jalan melalui mendirikan Executive Watch Bucherer di Indonesia. Tujuannya tak lain adalah memberikan pelayanan servis bagi merek jamnya. Dia pun mantap agresif masuk ke pasar menengah- atas yang memang sesuai dengan konsep jam tangan Locman.

"Saya sempat gagal, dan itu tidak membuat saya putus asa. Dalam bisnis gagal itu biasa," aku pria yang juga menjadi Komisaris Utama PT. Bintang Mandiri Finance.

Bagaimana bisnis kafe -nya? Beda kisah jam tangan Locman, bisnis bernama Oh La La, justru bisa tersebar cepat di sejumlah tempat. Dia memang menjadi lebih agresif selepas cerita diatas. Baron memang belajar banyak bahwa pengusaha harus agresif. Oleh karena itu di bisnis kafenya, Baron agresif mengajak aneka kerja sama termasuk bank dan perusahaan buat memasarkan bisnisnya.

Kerja keras


Tahun 2008, ia mulai melirik bisnis keluarganya, tapi ngotot membangun bisnisnya sendiri. Baron mau bangun bisnisnya dari nol lagi. Kali ini usahanya adalah dibidang multi- finance. Peran sang ayah cukup besar dalam hal mengarahkannya. Ayah menjadi sosok pendorong agar bisa memulai bisnis ini. Ayahnya lah orang yang yakin kepadanya. Dia memberikan kesempatan dirinya menjadi pengusaha benar. Keluarga terutama ayah menyarankan bisnis pembiayaan kendaraan.

Memulai bisnis pembiyaan ternyata memberikan konsekuensi. Baron diminta memilih keluarganya antara mau berbisnis jam tangan atau pembiayaan kendaraan. Dia kemudian meninggalkan Locman. Fokus usahanya ada pada PT. Bintang Mandiri Finance. Dia mulai menikmati bisnis barunya. Hingga, pemerintah dalam hal ini Kementrian Keuangan menutup ijin finance baru. Bukan lah Baron jikalau tak belajar. Bukan pula dirinya jika tak belajar dari kegagalan.

"Saya diminta keluarga mengembangkan bisnis finance yang membidik pembiayaan kendaraan," terangnya.

Dia memilih men- take over perusahaan sudah jadi. Mulailah dia mencari perusahaan finance siap jual. Tapi bukan perkara mudah, karena perusahaan finance saat itu pernah merasakan sukarnya krisis 1997. Hasilnya perusahaan tersebut menangguk banyak hutang. Baron sendiri berharap perusahaan bersih hutang. Usaha kerja kerasnya mencari- cari berbuah hasil mengejutkan; dia mendapatkannya. Sebuah perusahaan relatif bersih diambil alih dan diberinya nama Bintang Mandiri Finance.

Cuma modal lima karyawan, Bintang Mandiri bisa tumbuh mengejutkan, kini, memiliki 574 karyawan dan sudah tersebar 26 cabang di Indonesia. Melalui bisnis pembiayaan dimulailah bisnis lain. Kali ini, Baron mau berbisnis perusahaan investasi. Tak puas lagi membawanya ke bisnis lainnya. Kali ini, Baron menyasar bisnis 25 hektar tambang pasir dibawah bendera PT. Java Pro Tambang, tambang pasir yang terletak di kawasan Sukabumi.

Di bidang properti, tahun 2012, dia mantap mendirikan perusahaan PT. Global Solution Propertindo. "Saya senang membangun perusahaan karena mampu menyerap tenaga kerja sebanyak mungkin. Ini wujud bakti kami kepada negeri," imbuhnya. Baron sendiri menyebut langkah bisnisnya terbilang lambat. Meski faktanya, bisnis sirusnya sudah dimulai semenjak umur 20 tahun. Kunci suksesnya menurut Baron karena sudah mulai sejak muda.

Apabila mau membuka usaha sendiri dari nol. Atau, kamu mau meneruskan usaha milik keluarga, hendaknya sudah dimulai sejak muda. Baron menambahkan, "start young, start now. Yang penting mulai dulu, dengan memulai kita akan tahu hasilnya." Sukses berari melakukan dengan baik, benar, dan mampu menciptakan apa itu kualitas terbaik memiliki tingkat kesalahan kecil. Juga ia menegaskan pengusaha muda harus mampu mengemban amanah, kepercayaan, yang diberikan orang.

Artikel Terbaru Kami