Senin, 06 Juli 2015

Jual Lampu Cangkang Kerang Sampai Eropa

Kisah Sukses Pengrajian Kerang



Kerajinan unik satu ini memang belum begitu dikenal. Tak setenar bisnis kerajinan rotan ataupun bisnis kayu olahan. Ini bisnis sama- sama mengandalkan kreatifitas. Bermodal cangkang kerang, kita akan bisa membuat aneka kerjinan unik. Tak monoton seperti di pasaran. Salah satu pengusaha sukses kerajinan cangkang ialah Imal, pemuda 30 tahun, sukses bahkan menembus pasar ekspor. 

Dia bercerita semuanya cuma bermodal limbah. Diolahnya sedemikian rupa jadi kerajinan cantik. Peminatnya bahkan tidak cuma dalam negeri tapi sampai Eropa. Awalnya, dia melihat potensi pasarnya terlebih dahulua, sebelum memutuskan berbisnis kerajinan apa. Potensi pasarnya besar baik buat potensi pariwisata domestik atau lokal, apalagi internasional yang dikenal memang demen kerajinan. Sayangnya, di tempat wisatanya asal Imal, kerajinan ini justru terbengkalai.

Cuma menjadi limbah berserakan di tepi pantai Pandeglang, Banten, kerang tersebut cuma dibiarkan seperti sampah terkadang disingkir- singkirkan. Ia melanjutkan ceritanya, "padahal kalau dilihat cangkang kerang itu punya tekstur keras dan tanpa diapa- apakan dia cantik karena agak berkilau." Nah, dari situlah pemuda ini berpikir bagaimana jika dijadikan aneka kerajinan.

"Saya berpikir bagaimana barang ini daripada mengotori pantai saya buat kerajinan yang mendatangkan uang," jelasnya lagi.

Dia cukup ahli mengolah limbah ini. Dimanakan ia mempelajarinya pastilah cuma bermodal otodidak. Ia pun lambat laun menjadi ahlinya. Salah satu kerajinan andalan miliknya yakni lampu hias cantik seperti di gambar. Benar- benar sangat menganggumkan tak bisa dibuat dari mesin. Untuk produknya satu ini mampu laris dijualnya sampai 70 buah karya, dimana harganya dipatok 100.000- 300.000 per- buah. Selain dijual buat kebutuhan lokal juga sudah masuk pasar ekspor.

"Banyak orang Jepang, Korea, Eropa juga banyak. Saya 2008 itu banyak jual ke luar. Rata- rata 300 buah per- bulan ke Eropa. Tapi pas 2011 sudah enggak ekspor lagi soalnya Eropa lagi krisis," tuturnya.

Disaat masih mengekspor sampai ke Eropa. Ia mengaku bisa mengantongi omzet Rp.60 juta per- bulan. Semenjak cuma berjualan lokal untungnya menurun jadi cumaRp.20 juta saja. Namun, Imel bukanlah satu pengusaha muda patah arang. Bermodal sosial media mencoba memasukan bisnis ke luar. Hasilnya ada satu- dua nyangkut terjual ke luar negeri meski tak sebanyak dulu. Dia masih berharap bahwa ekonomi di Eropa bisa membaik; balik seperti dulu.

Sumber: Detik Finance

Artikel Terbaru Kami