Sabtu, 04 Juli 2015

Awal Mula Madu Pramuka Berkah Alam

Profil Pengusaha Madu Wawan Darmawan



Dulu, penulis sempat berpikir madu pramuka adalah jenih madu, bukanlah merek dagang, bukanlah merek komersial. Nyatanya, mereka madu tersebut ternyata merujuk satu perusahaan tertentu. Diproduksi sejak tahun 1973, oleh perusahaan PT. Madu Pramuka Cibubur, Jakarta Timur, yang awalnya bernama Pusat Perlebahan Apriri Pramuka. Didirikan dan diplopori oleh Sekjen Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Letjen TNI (Purn) H. Mashudi, yang juga mantan Gubernur Jawa Barat.

Sosok Mashudi sendiri kurang aktif dalam perbisnisan. Namun, dialah pelopornya, dimana di 28 Mei 1970 dia lah penggagas model peternakan lebah modern. Kawasan bernama Pramuka tersebut disulapnya menjadi satu workshop memproduksi madu. Mereka menampung aktifitas peternakan lebah di lingkungan Gerakan Pramuka. Singkat ceritanya kepala usahanya mengusulkan kepada Bapak Mashudi, usulannya agar dirubah menjadi Perseroan terbatas saja.

Usulan tersebut dimaksudkan mempermudah kontrak kerja dengan perusahaan lain. Akhirnya tepat pada 5 Januari 2005 lalu, nama Pusat Perlebahan Apriari Pramuka resmi menjadi persereoan terbatas yakni menjadi PT. Madu Pramuka.

Bos madu


Kita tak akan membahas biografi H. Mashudi. Namun, kita akan bercerita tentang kisah pengusaha Wawan Darmawan, merupakan Direktur Utama PT. Madu Pramuka sekarang. Terhitung sudah 27 tahun semenjak Pak Mashudi menunjuknya. Pria setengah baya ini memang bukan orang baru dalam dunia bisnis. Di tahun 1998, dirinya pernah bekerja di satu perusahaan asing. Kemudian mengundurkan diri buat mengelola madu pramuka.

Mashudi percaya kemampuan Wawan mengelola Pusat Perlebahan Apriari Pramuka (belum berubah nama). Ia dengan tangkas membenahi aspek manajemen perusahaan. Produksi perusahaan itu sangatlah kecil per- tahunnya. Dia benar fokus menggarap bisnis Apriari. Semuanya ditatap bertahap olehnya. Hingga Wawan bisa meningkatkan produksinya. Keuangan organisasi terbut perlahan menanjak. Di tahun 2005, dia lah yang mengusulkan Apriari dijadikan perusahaan.

Ya, dialah sang kepala diatas, mengusulkan langsung kepada Jendral Mashudi. Intuisi bisnisnya memang bergerak maju. Alhasil produksi madu bisa meningkat drastis dibanding tahun- tahun sebelumnya. "Saat ini, produksi madu kami 10- 15 ton per- tahun," terangnya kepada Jawa Post. Bermodal Madu Pramuka lah pula Wawan bisa membantu banyak orang, meski konsepnya perusahaan. Faktanya, perusahaan ini telah membantu banyak peternak lebah di penjuru Indonesia.

Sejak dipimpin dirinya, cabangnya sudah sampai ke Tangerang, Banten, Cirebon, Semarang, Batang, Jogja, Surabaya, dan Sukabumi. Itu adalah cabang penjualah loh. Kalau pusat produksinya masih di dua tempat, yakni Cibubur dan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Selain itu visinya sebagai bagian dari jiwa Organisasi Pramuka masih ada. Bahkan seolah menjadi amunisi buat menarik masyarakat. Ini termasuk hal mengisi arus khas di Kwarna Pramuka.

Menurut Ketua Kwarnas Adhyaksa Dault, bahwa anggaran memang terbatas. Akan tetapi berkat ada arus kas dari Madu Pramuka; ini bisa menjadi andalan. Bahkan rejekinya tak terputus mampu mensejahterakan 200 orang karyawan. Kak Wawan (sapaan akrab warga Pramuka) tidak cuma memenuhi materi. Tetapi juga mampu memberangkatkan Haji atau Umrah karyawannya. Diatangan dinginnya, bisnis Madu Pramuka tak cuma jualan madu.

Dia mampu mengekstensifikasi bisnis. Seperti berjualan peralatan beternak lebah, penyedian bibit lebah, jadi tempet pelatihan lebah, tempat pengobatan tradisional (sengetan lebah atau Apitherapy) dan juga sebagai satu wahan rekreasi edukasi. Selain itu Wawan juga diharapkan mampu mengembangkan entrepreneurship bagi generasi muda Pramuka. Secara serderhana dijelaskan bahwa potensi peternakan madu di Indonesia, masih sangatlah berpeluang besar.

Sekjen Asosiasi Perlebahan Indonesia itu menjelaskan, selain itu tren konsumsi madu juga sudah berubah, ini benar- benar peluang. Dari cuma sekedar buat pengobadatan beralih ke konsumsi harian. Hitungan total dari produksi adalah 15- 20 ribu ton, berbanding konsumsi masih 10- 15 gram/kapita/tahun. Bayangkan jika ini bisa dikombinasi dengan pengolahan khusus. Seperti bagaimana pengusaha mengolahnya nanti menjadi donat madu; masih ada peluang basar!

Pengalaman di ranah kongres perlebahan ASEAN. Menurutnya kelemahan Indonesia masih sama seperti bisnis lainnya -masih kurangnya dukungan pemerintah. Buat jenis madunya, Wawan menyebut Indonesia itu kaya, ada madu bunga randu, madu karet, madu rambutan, madu bunga mangga, adapula madu hutan asli Kalimantan.dll. Soal siapa baik memulai bisnis madu, ia menjelaskan baiknya merupakan orang penyayang lingkungan.

Madu alamiah menurutnya akan lebih baik mutunya. "Banyak sukanya kerja di bidang ini. Dukanya, ya paling tersengat lebah. Disengat lebah kalau kata orang- orang itu kan ngeri- ngeri sedap," terangnya bercanda. Dia juga aktif menyulap bumi perkemahan menjadi tempat budidaya lebah. Bukan karena tanpa alasan selain ini bisnisa ramah lingkungan. Bisa pula membantu membuka lapangan pekerjaan baru. Penulis sendiri pernah liat di daerah Batang, Jawa Tengah.

Artikel Terbaru Kami