Kamis, 25 Juni 2015

Jolla Tablet Kisah Mantan Pegawai Nokia

Profil Pengusaha Marc Dillon



Pernah mendengar Jolla Tablet Indonesia? Jika pernah, kami akan membahas kisah dibaliknya. Produk satu ini memang dipersiapkan menjadi satu sumber alternatif iPad. Kisahnya muncul diantara iOS dan Android. Keduanya memang beken tengah ramai- ramainya dibicarakan beberapa tahun lalu. Kemudian disuatu hari munculah kampanye Jolla Tablet di satu situs crowdfunding Indiegogo. Sukses mendapatkan sokongan dana $249 harganya. Tetapi estimasi produknya kelak jika diproduksi masal adalah cuma $299.

Memegang konsep yang terbaik soal software multi- tasking dan memang telah medapatkan banyak respon positif. Terlahir di sebuah tempat nan jauh di sana. Merupakan sisa- sisa kejayaan masa lalu lah membangkitkan Jolla Tablet. Yang ternyata dihasilkan dari tangan dingin salah satu peneliti terbaik Nokia. Ya, ternyata Jolla Tablet, yang juga berbasis di Finlandia, didirikan oleh Marc Dillon; mantan pegawai Nokia. Bisa dibilang inilah sisa- sisa kejayaan Nokia jikalau perusahaan itu benar- benar lenyap.

Selepas sebuah pristiwa di 2011, kejadian antara Nokia dan Microsoft, secara otomatis membawa Jolla sebagai start- up berpotensial. Bukan karena kebetulan tapi perusahaan startup ini memang merupakan hasil uang PHK perusahaan. Secara otomatis mereka menjadi perusahaan manufaktur tunggal kebanggan Finland. Menjadi berkembang ketika Nokai tengah absen di dunia software smartphone. Faktanya Simbian kalah total oleh Android dan terdesak keluar oleh iOS, dan hilang ditelah Microsoft.

Jolla sendiri sudah punya operasi sistem sendiri. Bukan Android ataupun turunannya tapi aslinya. Dibawah sistem Open Source diharapkan Jolla bisa tumbuh pesat mendatang. Dillon menyebut dua OS -Sailfish OS dan Jolla Smartphone. Kisah saat itu, pada 11 Februari 2011, CEO Nokia Stephen Elop mengambil pengumuman. Ketika itu Elop bersama CEO Microsoft kala itu, Steven Ballmer, mengumumkan bahwa Nokia akan masuk lebih dalam ke sistem Windows Phone!

Basis Symbian akan dihilangkan, berangsur- angsur, semua smartphone Nokai harus mengusung Windows Phone OS. Disaat itupula saham Nokia kemudian jatuh 14,2% dimana diprediksi adalah akhirnya dari brand Nokia sendiri.

Lahirnya Jolla


Menyaksikan peristiwa tersebut adalah Marc Dillon. Pria ini, saat itu, tengah mengerjakan proyek terbaru dari Nokia. Dia bersama tim -nya tengah mengerjakan Meego, OS buat mobile yang berbasis Linux. Kalah cepat total membawa Nokia yang bermodal Symbian runtuh. Bersama beberapa ribuan orang teknisi melihat bagaimana CEO Nokia "takluk". Dilllon bersama mereka tengah mengerjakan itu di markas Nokia, di Nokia Research Center di Helsinki.

Namun, beda dengan beberapa peneliti tersebut, ia melihat sebuah potensi adanya smartphone. Produk ini akan naik daun lebih tinggi dari prediksinya. "Saya tau perubahan telah datang, dan saya berharap bisa untuk memperkecil dan merestrukturisasi perusahaan," jelasnya kepada Forbes. Dia sendiri merasa mauk ketika akhirnya Nokia masuk lebih dalam ke Windows Phone. Ini berarti apa yang dikerjakannya akan jadi sia- sia. Itu artinya Meego akan diakhiri kisahnya.

"Ketika saya mendengar press release nya bahwa Nokia akan fokus pada Windows Phone, saya merasakan sakit di perut. Meego telah berubah menjadi proyek Open Source, saya membacanya sebagai "efektifnya dibatalkan". Di masa itu, ketika ia tengah menikmati bekerja selama enam bulan, bersama orang- orang yang paling bertalenta; dalam beberapa jam, mereka semua dirumahkan.

Nokia mengijinkan ia dan tim Meego melanjutkan. Tentu dengan terburu- buru, membuatnya mengerjakan Meego tak sempurna. Dalam waktu singkat Meego dimasukan ke sistem Nokia N9. "Itu seperti akhir dari jalan, tapi setidaknya kami menyelesaikan garisnya, yang mana keluarlah N9," kenangnya, dalam perjalanan smartphone berbasis Linux ini mendapatkan banyak kritikan dan pengakuan. Meski dikritik faktanya itu bisa mengalahkan Nokia Windows Phone pertama!

Perusahaan selesai, dangan mereka ribuan pekerja terkatung- katung, tak tinggal diam Nokia mencoba agar bisa membantu mereka. Nokia memberikan saran karir. Bahkan menyediakan dana buat mereka memulai bisnis start- up mereka. Itu hanyalah yang bisa mereka lakukan untuk Dillon dan kawan- kawan. Jatuhnya Nokia menyisakan Meego sebagai Open Source. Ini adalah aset menurutnya. Hingga mereka, Dillon dan juga beberapa orang, ini bisa menjadi produk sendiri.

Juli 2012, tipikal hari akhir dari pekerjaan panjang mereka dari Nokia. Dillon mulai memanggil- membentuk satu timnya sendiri. "Ketika saya, tim lama kita mulai bertemu membahas bersama bagaimanannya," jelasnya. Ia sendiri mengaku tim miliknya itu benar- benar baru. Mereka tak pernah mengajak orang lain. Tapi mereka harus mempekerjakan orang lain bertalenta. Mereka butuh tim yang lebih kuat dibanding disaat itu. Mereka terdesak semangat agar lebih cepat.

Mereka berlomba mencoba menciptakan produk secara singkat. Target mereka adalah kuartal 1 tahun 2012 dimana dikerjakan (masih) oleh orang- orang Nokia. Mereka masuk mencoba menyaring semua mobilitas dan kreatifitas. Mereka memfokuskan pada pengalaman pengguna. Disaat Nokia N9 mulai menjalar- jalar di pasaran pada musim panas. Sementara itu, mereka tengah mengolah kembali, pada saat itu secara pasti ia meyaknikan Meego telah mati.

Marc Dillion bersama total 60 staff siap mendunia. Mereka mengumumkan proyeknya pertama kali di dalam acara Slush 2012. Hasil persentasi mereka sangatlah menarik perhatian dan kemudian disusul dengan aneka upaya penggalangan investasi. Termasuk memasukan Jolla dalam proyek crowdfunding. Istilahnya sambil ia berpromosi, mengetahui reaksi pasar, dan juga mengumpulkan modal. Sebagai catatan akhir, situs- situs modal crowdfunding juga bisa jadi ajang marketing ke dunia terbaik.

Artikel Terbaru Kami