Rabu, 10 Juni 2015

Pemilik Taksi Uber Bermodal Aplikasi Mendunia

Biografi Terpanjang Travis Kalanick



Siapa pemilik Uber Taxi mungkin kamu mencari itu. Tepatnya bukan siapa pemilik, tapi siapa penemu, siapa sosok dibalik aplikasi taksi yang mulai masuk Indonesia ini. Namanya Travis Kalanick, seorang entrepreneur muda, salah satu orang kaya baru dunia versi Forbes. Tahun 2014, dia tercatat menjadi 400 orang terkaya di Amerika, ada di posisi 290, dengan total kekayaan $5,3 miliar. Kalanick kelahiran 6 Agustus 1976 asli Los Angles, California.

Diketahui dari Business Insider, memang bukan sendiri tapi bersama beberapa tim -nya. Namun dirinya lah sosok dibalik bisnisnya. Seorang mantan salesman yang mulai berjualan bahkan sejak kecil. Dia memang selalu sosok entrepreneur. Sebagai anak- anak, dia ingin menjadi mata- mata, pembawaanya yang tenang penuh percaya diri, sangat persuasif, dia lebih cocok menjadi seorang penjual. Seperti halnya ibunya, Bonnie, akhirnya dia bekerja sebagai advertiser untuk retail.

Bisnis kecil


Sejal kecil dirinya menjadi pengiklan retail untuk Los Angles Daily News. Jika ibunya Bonnie merupakan seorang penjual. Maka ayahnya, Donald, adalah seorang teknisi pegawai negeri untuk Los Angles. Kalanick punya dua adik tiri perempuan dan satu laki- laki yang bekerja sebagai pemadam kebakaran. Selepas sukses bekerja di Los Angles Daily News kemampuan menjualnya semakin matang. Ia kemudian mulai bekerja sebagai penjual atau salesman dari pintu- ke- pintu.

Dia bekerja untuk perusahaan pisau dapur Cutco. Pada umur 18 tahun, ia meluncurkan bisnis pertamanya, sendiri yaitu bisnis bimbingan belajar. Fokusnya adalah sama halnya di Indonesia yakni bagiamana cara untuk sukses masuk ke perguruan tinggi. Dia mengajar bagaimana menghadapi tes SAT. Sebuah usaha yang diberi nama New Way Academy. Dia bukan bekerja tanpa bukti. Ia sendiri sukses mengambil tes SAT yakni sukses dengan nilai 1580.

Bermodal pengalaman dibuatlah pembelajaran bernama "1500 dan lebih". Maksudnya memastikan semua orang bisa mengikuti langkah suksesnya. Ia membocorkan cara bagaimana dirinya sukses. Ia bahkan berani meyakinkan pelanggan pertama akan naik nilainya 400 point. Dia memang pandai dalam hal matematikan. Ia bahkan disebutkan seperti mesin matematik. Mampu menyelesaikan masalah matematika cuma dalam waktu 8 menit.

Dia selalu punya sesatu dikerjakan. Kalanick selalu dikenal sebagai seorang penjual ulung dalam berteman dan bekerja. Ini sebuah sifat melekat pada dirinya. Bahkan dia disebut oleh temannya sebagai seseorang yang seolah selalu menjual sesuatu. Seperti seorang penjual mobil, seorang salesman mobil pandai berbicara yang selalu menawarinya mobil. Hal tersebut kadang disebutnya agak mengganggu. Seorang teman lain justru menyebutnya seorang pencerita ulung.

"Seorang pencerita hebat punya selera bagus. Dia bisa menggambarkan sesuatu hal berbeda. Dia juga suka mengarahkan dan oportunis, yang mana bisa baik atau buruk," jelas teman lainnya.

Meski nilai SAT -nya tinggi dan punya ambisi jelas. Tapi sifatnya sangat membumi dibuktikan meski masuk ke jurusan hebat, dirinya memilih universitas lokal, saat itu ia memilih masuk ilmu komputer di UCLA. Dia meski telah sukses tetaplah sama, dengan rambut hitam berantakan dan kaus ketat. Beberapa tahun dirinya masuk universitas; dia tertarik seorang gadis.

Bermodal wajah tampan bukan berarti membuatnya jadi playboy loh. Dia lebih tertarik berhubungan dengan komputer dan bisnisnya. Di dalam UCLA, Kalanick tercatat masuk ke sebuah organisasi bernama Computer Science Undergraduate Association, dimana dia bertemu dengan teman sekelasnya Michael Todd dan Vince Busam. Mereka kemudian mengerjakan bisnis sampingan Scour. Dimaksudkan untuk membantu pengguna berbagi file.

Proyek bisnis pertama yang dimulai dari kamar asrama milik Busam. Dia bersama empat orang teman mulai aktif mengutak- atik kode. Mereka membuat aplikasi peer- to- peer yakni aplikasi semacam mesin pencari, juga mesin berbagi file, video, gambar, dan film. Sukses bisnis Scour membawanya rela untuk memilih keluar dari kampusnya. Kalanick selalu menganggap dirinya sebagai pendiri. Dia selalu merasa dirinyalah yang jadi "pimpinan".

Dalam artikel Business Insider, kanyataanya, ia merupakan pegawai kedua. Tapi karena semangatnya yang lebih besar dari itulah orang banyak melihatnya. Termasuk para investor yang melihatnya lebih. Dibanding dua pendiri sebenarnya. Dia bahkan rela drop- out. Dikisahkan, pada tahun 1998, Kalanick masuk sebagai salah satu pegawai. Memutuskan keluar bersama ikut serta membangun startup kecil tersebut. Dia juga aktif mencari para pengangguran untuk bekerja bersama.

Meski bukan co- founder, pendiri sebenarnya Scour, sangat mengapresiasi dirinya bahkan diwujudkan dalam bentuk saham. Saking cintanya kepada dunia kewirusahaan, utamanya, hasratnya untuk membangun usaha sendiri dibidang IT; ia bahkan tak menerima gaji di tahun pertama.

Nekat bisnis


Scour adalah satu dari peer- to- peer search engine. Dimana memiliki sistem mengindek direktori di dalam sistem Windows. Mampu mendowload file bentuk apapun. Menariknya ternyata situs ini lebih awal dari dia, Shawn Fanning, pendiri Path.com, yang mengerjakan bisnis pertamanya yaitu Napster. Sama- sama memiliki sistem hampir mirip namun Shawn Fanning lebih fenomenal dibanding Scour; Napster baru online setelah 18 bulan setelah Scour online.

Terlambat sukses Kalanick memang cuma berpangkat pekerja. Sementara itu hal- hal lain utama dikerjakan penuh oleh pendirinya, yaitu Todd dan Dan Rodrigues. Ia cuma bisa manut ketika pekerjaan mereka pindah dari Los Angles ke rumah Rodrigues di Westwood, Club California, dimana ia bersama teman satu tim harus bekerja di kamar Rodriques. Dalam perjalanan, kamu perlu tau, perusahaan tersebut menampung 13 orang dan kekurangan energi listrik.

Dan, ketika salah satu pegawai meminta masak di oven, maka harus bergantian menyalakan energi listrik.

"Itu sangat- sangatlah semrawut, sangat semrawut dan tidak seorang pun paham apa yang kita kerjakan," ucap seorang pegawai awal Scour.

Ketika mengerjakan bisnisnya musuh utama mereka adalah FBI. Ketika mengajak seorang pegawai wanita jangan tanya. Mereka harus sangat meyakinkannya. Faktanya meski yang di dalam adalah sekumpulan anak muda cowok tanggung yang bekerja di layar komputer; bisnis mereka cukup sukses. Terbukti dengan Scour punya data center meski di tempat sempit tersebut. Ini merupakan bisnis menarik dimana mesin pencari itu dilirik jutaan orang pengguna.

Menjadi yang pertama belum tentu jadi tersukses. Agaknya itulah bisnis yang dijalani Kalanick pertama kali. Mungkin, bisa jadi, karena dirinya tak terlibat langsung sebagai pendiri. Yang pasti usahanya ini mendapat perhatian serius dari industri baik film dan musik, juga investor. Salah satu investor yang tertarik yaitu sosok Michael Ovit. Tak tanggung total investasinya mencapai $10- $15 juta. Tugasnya sendiri cuma dibagian hal marketing dan bisnis tetek- bengek.

Dia sosok patah semangat mensuport bisnis Scour. Mendorongnya untuk dilihat dan dinikmati oleh orang- orang disekitarnya. Dia bahkan menerapkan marketing grilia kontroversial. Dia bahkan rela bekerja di tempat lain sambil promosi bisnis utamanya. Sementara bisnisnya itu mulai berjalan disisi lain Napster resmi diluncurkan oleh Shawn Fanning di 1999. Beda dengan Scour, Napster punya kelebihan, dimana tak mudah crash sepertinya karena file diterima langsung dibagi; tak disimpan dulu.

Sementara bisnis Naspter semakin sukses; Scour mengikuti langkahnya.

Bisnis sendiri


Ia sendiri tak hidup senang. Sudah bekerja keras tapi mendapatkan "tekananan" dari kroni sang investor itu sendiri. Dia mendapatka tekanan dari orangnya Ovitz. Sosok yang dikatakannya dalam sebuah interview untuk investor Uber, sosok mantan agen Hollywood, orang sok penting yang katanya membantu Ovitz di suksesnya yaitu agensi CAA. Dalam ceritanya ia seolah ditempatkan agar tak belagu. Semacam diatas dia ada langit lain yang lebih tinggi.

"Dia secara sadar memberitahunya bahwa ada orang- orang yang bekerja sangat keras di industri ini untuk bisa ditempatnya sekarang," ucapnya menjelaskan. Intinya adalah, "Disana ada gang dibelakang. jika kamu fuck (mengacaukan) ini, maka kamu akan sangat kenal tempat itu." Maksudnya adalah sebuah nada bersifat ancaman jika dia keluar nanti. Kalanick tak tinggal diam. Kejadian ini dilaporkannya ke Ovitz. Ia pun telah ditempatkan diseksi berbeda.

Sukses Scour tak begitu terlihat bagi investor. Terutama mereka pemilik produk yang dijual. Karena banyak orang memilih untuk mendapatkan konten tanpa bayar; Scour pun dituntut $250 juta.

Ketika tuntutan itu masuk dirinya lah yang masih bersemangat. Meski secara bisnis sudah tak dilirik oleh pihak investor. Kalanick sebagai salesman mengangkat telephon. Dia mulai menawarkan bisnis kembali. Ia berasumsi masih ada jutaan orang berkunjung ke situsnya. Ini sebuah pembelajaran baginya. Tak mau dia berkahir seperti Scour yang akhirnya tutup. Sang pegawai teraktif ini memutuskan membangun bisnisnya sendiri.

Ia pun mengajak salah satu pendiri Scour yaitu Michael Todd. Dia mengajaknya membangun satu startup baru di bidang sama. RedSwoosh diluncurkan di tahun 2000, fokus bisnisnya lebih rapih, dimana mereka lebih sangat berhemat di pembiayaan. Mereka lantas mengajak mantan pegawai Scour untuk masuk. Tapi, sayangnya, bisnis semacam Scour itu tak membawa apa- apa. Bahkan di Agustus 2001, perusahaan hampir saja kehilangan uang alias bangkrut.

Untungnya, mereka masih bisa membayar tujuh orang pegawai, ia masih aktif mempresentasikan bisnisnya itu. Hingga CTO Akamai, seorang pengusaha muda dibidang IT lain, Daniel Lewin memintanya betemu di suatu hari. Sayang pesawatnya menjadi korban terorisnya di Wall Street Center. Dia menjadi salah satu dari 92 penumpang yang ditabrakan ke gedung kembar itu. Disisi lain, ini juga mempengaruhi pasar, terutama di bisnis teknologi.

Pasar saham jatuh dimana kehilangan $5 triliun di tahun 2000- 2002. RedSwoosh sebagai startup tak bisa tertolong karena keadaan krisis ekonomi. Awal 2000 -an, teknologi tak lagi dilirik jadi pasar seksi bagi para investor di pasar saham. Kalanick dan Todd punya perbedaan persepsi bagaimana agar bisnis mereka ini bisa terus berjalan; jadi perdebatan. Singkat cerita bahkan cara kotor pun dijalankan. Salah satu dari kedua pendiri tersebut, yakni Todd, dikatakan oleh Kalanick berlaku ilegal.

Dari penulis coba jabarkan mereka kala itu tak mambayarkan pajak pegawai. Ya, uang potongan gaji itu tak sampai ke kas negara. Keduanya saling berdebat atas apa yang mereka lakukan. Itu sebuah kejahatan karah putih yang tak diakui oleh Todd. Singkat cerita Kalanick yang cerdas dan paham, memutuskan memperbaiki seumuanya, dan itu berakhir dengan keduanya pisah kongsi. Hubungan mereka hancur lebur total. Mereka berdua saling menyalahkan.

Sukses Uber


Ia memutuskan menjalankan Red Swoosh sendiri. Dengan segala daya upayanya mencoba menahan- nahan. Puncak kesusahan nya ialah ketika Evan Tsang salah satu teknisi, memutuskan keluar dan bekerja di Google. Sementara itu keluarnya Tsang justru ketika Kalanick menjual. Sang penjual tangguh ini tengah tanda tangan kontrak dengan AOL. Itu semua sia- sia sang raksasa pun keluar. Dia terpaksa memindahkan perusahaan ke Thailand; sebuah penghematan.

Sementara perusahaan mulai mendapat tuntutan hukum. Disisi lain, ia menemukan jalan keluar dari segala kebuntuan bisnisnya. Perusahaan Microsoft tertarik kepada aset milik perusahaanya. Sebuah hitung- hitungan matematika dilakukan yaitu dari uang $1,2 juta; $900.000 untuk biaya ini- itu, sementara sisanya masih ada 300.000 saja. Tidak cukup dan merasa terhina Kalanick menolak mentah permintaan mereka.

Disisi lain, hidup sebagai entrepreneur muda tak jauh dari gaya hidup bertraveling. Hidupnya membawa nama itu mudah menemui siapapun. Termasuk menemui para pendiri Google. Diceritakan, Kalanick menemui para pendiri Google, bermodal kemampuan negosiasi; Dia cukup percaya diri. Sayangnya, tidak semudah itu ia bisa menggugah sang raksasa internet. Dalam perjalanannya mencari- cari bebas dari masalah. Kalanick bisa bernafas lega dengan datangnya sang mantan calon patner.

Akamai tertarik untuk membeli RedSwoosh. Mereka tertarik membayar $23 juta -$19 berbentuk saham di perusahaan Akamai dan $4 juta berupa uang tunai. Unik karena selama tiga tahun lebih dirinya harus rela untuk tak gajian sama sekali. Sejak sukses menjual bisnisnya RedSwoosh, resmi, ia telah menjadi seorang pria jutawan. Hidup semakin mapan membawanya semakin luas pandangannya. Tentu ada efek negatifnya jika ia tidak berhati- hati.

Ide tentang Uber baru muncul ketika dirinya berkunjung ke Paris. Kala itu sebagai salah satu entrepreneur sukses dibidang IT. Kalanick diundang mengunjungi konfrensi bernama LeWeb tahun 2008. Dia kesulitan untuk mendapatkan taksi. Ia ingat betul kejadian itu. Kalanick mengajak Garrett Camp, pada tahun 2009, untuk mengerjakan purwarupa pertama dari Uber. Tepatnya Camp sebagai developer sementara ada dua orang temannya yang ikut membantu.

Kalanick? Dia (lagi- lagi) bekerja dibalik layar. Yang membedakan adalah kali ini, dirinya lah sang inisiator, dan pengendali penuh atas bisnisnya termasuk dana. Sosok Garrett sendiri diceritakan begitu tertarik ketika Kalanick menghubunginya. Diluncurkan di San Fransisco awalnya berkonsep bisnis aplikasi "penyewaan" limosin. Secara gambalng itulah gambaran Kalanick merubah mobil limo jadi taksi. Sebuah pemikiran unik karena kita bisa menikmati indahnya kota; seperti seorang raja.

Aplikasi Uber saat itu masih bernama UberCab. Uniknya mereka berdua baik Garett dan Kalanick sama- sama mau membuat tapi tidak soal bisnisnya. Jatuhlah pilihan mengangkat CEO dari luar mereka. Yakni ialah Ryan Graves. Tahun 2010, dari cuitan di Twitter, Graves masuk ke perusahaan dimana dirinya adalah orang paling beruntung. Bagaimana tidak konsepnya sangat bagus menurutnya. Ditambah yang mengerjakan itu adalah Kalanick sebagai investor handal, sementara Garett, mampu mengaplikasikan semuanya.

Sacara kasat mata sosok Graves dianggap relatively inexperienced entrepreneur. Tapi berkat dirinya lah itu bisa berkembang seperti sekarang. Bermodal pencetan tombol siapapun bisa menjadi supir di UberCab, bisa menggunakan mobil apapun, dan mereka akan mendapatkan bintang jasa. Setiap bintang menunjukan nilai kualitas dari sang supir. Kemudian sosok Graves mengundurkan diri sebagai CEO. Tanang bukan dipecat tapi ditunjuk menjadi jajaran eksekutif.

CEO kemudian digantikan oleh Travis Kalanick. Sang penjual tangguh yang mampu masuk melihat lebih dari peluang saja. Dari segi layanan agak diragukan apakah bersaing. Tapi, hal itu dibuang jauh olehnya, siapa lagi yang bisa meyakinkan para investor kalau bukan dirinya sendiri. Pada musim panas, ditahun itu, dibukalah kesempatan investasi awal. Dimana para investor cukup tertarik dengan pola kerja aplikasi ini. Uniknya para investor justru tertarik (awalnya) pada tweet dari Graves.

Sayangnya, ketika mereka telah berinvestasi, Graves sudah turun dari jabatan CEO. Tapi itu tak merubah fakta bahwa Kalanick mampu meyakinkan mereka berinvestasi. Mereka masuk bersama dengan sebuah forum investasi di San Fransisco. Bahkan sosok Shawn Fanning, pendiri Napster juga pesaingnya di Scour, juga sadar akan potensi Uber. Kisah pergantian CEO sebanarnya cukup mengganggu. Apalagi bagi orang- orang sukses macam Graven.

Pristiwa di tahun Desember 2010, dimana Kalanick menjadi CEO, sementara Graven jadi General Manager. Ini cukup menjadi pertanyaan. Tapi Kalanick mampu menghandel mereka. Meski kepemimpinannya lebih karas, tapi visinya sama besarnya, jika dikutip dari Business Insider: "Disana kemustahilan bahwa bisnis ini akan sampai dititik sekarang tanpa Travis dan arogansinya.". Tidak ada yang menyangkal bahwa apa yang dilakukan Kalancik menjadikan dirinya CEO sendiri adalah benar.

Artikel Terbaru Kami