Sabtu, 13 Juni 2015

Setelah Dolly Ditutup Fokus Menyelamatkan Warga

Profil Pengusaha Sosial: Dalu Nuzlul Kiram




Menggabungkan kegiatan sosial dalam bisnis bukan perkara mudah. Salah satu pemuda sukses dengan cara ini, ialah Dalu Nuzlul Kiram, tak tanggung dia tidak cuma bersosial. Dia mampu merubah lokalisasi Dolly jadi tampak tak sesuram penghuninya. Tak cuma menyasar mereka yang menetap disana. Ia juga telah punya segudang rencana lain.

Nilai bisnis berhasil jika bermanfaat bagi orang disekitar. Itulah moto seorang Dalu yang tak mengukur nilai omzet dihasilkannya. Ini bukan sekedar mencari untung semata. Pemuda 26 tahun aktif mendorong mereka warga biasa yang tinggal di kawasan Dolly. Mencoba membangkitkan ekonomi masyarakat pasca ditutupnya lokalisasi Dolly. Idenya adalah memberdayakan mereka. Mencoba menciptakan sumber pendapatan baru bagi mereka.

Berkat kegigihannya tersebut, ia pernah diganjar penghargaan Kreatif Wirausahawan Mandiri 2015. Ia fokus memberdayakan masyarakat Dolly mengembangkan aneka bisnis. Awalnya cuma, berkonsep usaha berbasis wisata kuliner dan edukasi, kini, ia juga merambah mengajak mereka menjadi pengusaha batik. 

"Jadi masyarakat tidak bertumpu pada bisnis itu (seks komersil) tetapi pada bisnis ini (UMKM)" teranya kepada Detik.com

Dolly sebagai tempat prostitusi tengah diubah citranya. Bersama wadah Tim Melukis Harapan. Dalu sebagai pemimpin memimpin 80 orang anggota. Ia kemudian dijuluki Dalu Dolly. Suksesnya tidak begitu mudahnya, itu semua berkat kerja kerasnya. Dia bersama kawanya tak menjanjikan keuntungan. Namun, mereka janji bahawa akan ada perubahan pada jejak masa lalu mereka.

Melatih PSK


Awalnya, mereka bersama fokus pada mambantu para PSK. Mengajari mereka agar bisa lepas dari dunia kelamnya. Kemudian fokus pada membeperbaiki kehidupan masyarakat. Ada total sekitar 4 rukun tetangga termasuk orang dewasa, ibu- ibu, dan anak- anaknya. Untuk eks- PSK baru cuma 5 orang saja baru mau diajak, tapi tetap, dirinya optimis akan jumlahnya. Cuma bermodal kepercayaan dirinya mampu menjalankan bisnis sosial tersebut.

Soal modal perlatan dan lain- lainnya, mereka memanfaatkan donasi, ditambah ada dukungan fasiliasi dari Pemerintahan Daerah Surabaya. Bu Risma selaku Walikota sangat mendukung kerjanya. Apalagi semenjak ditertibkannya lokalisasi Dolly. "Kami juga mengajak mucikari," jelas Dalu. Fokus usahanya ini menghasilkan aneka usaha seperti batik, pembuatan kue, telur asin, nugget, sabun, dan makanan- makanan umum lainnya. Meski telah terlihat arahnya ia mengaku tak semudah itu.

Tak mudah, karena nilai uang berputar dalam bisnis tersebut mencapai miliaran rupiah. Sebelum ditutup nilai uangnya mencapai Rp.1,2 miliar- Rp.2 miliar. Bisnisnya meliputi pegawai PSK sejumlah 1.500, narkoba, karaoke, tukang parkir, laundry, warkop, dan sebagainya. Tentu sulit untuk mengajak mereka yang terlibat apalagi dengan keuntungan tak menentu. Penawaran Dalu tak bisa bermodal kata keuntungan menggiurkan. Ia cuma menekankan sumber pendapatan lebih baik.

Aktif mendorong mereka berjualan. Tugas Tim Melukis Harapan tak berhenti disitu. Dia bersama juga aktif membantu mempromosikan. Membantu mengemaskan produk- produk buatan mereka. Tuganya kemudian adalah untuk meningkatkan ketertarikan pembeli. Berbekal donasi serta kemampuan marketing modern telah membawa pengusaha lokal menghasilkan 5 juta per- bulan. Hasil penjualan oleh tim -nya akan dikembalikan kepada masyarakat.

"Belum besar, tetapi itu masih bisa meningkat lebih besar lagi, bila kita konsisten memberi motivasi," jelasnya.

Kurang lebih 10 bulanan hal ini dikerjakan dia bersama tim -nya. Aneka penghargaan telah dihasilkan oleh pemuda satu ini. Ia bahkan mendapatkan modal langsung oleh Presiden Joko Widodo. Uang sebesar 100 juta diberikan karena usahanya mampu merubah kehidupan masyarakat banyak. Meski sukses membawa 200 juta dari acara Wirausaha Mandiri oleh Bank Mandiri. Itu dianggapnya sebagai amanah. Dirinya yakin yang terutama adalah kepercayaan masyarakat bukan uang.

"Karena, berkat kemenangan ini kepercayaan berbagai pihak kepada kami pun semakin meningkat," ujarnya dengan suara serak karena menahan haru.

Uang tersebut ia kembalikan lagi ke masyarakat. Digunakan untuk apa? Tentu untuk modal kembali guna menjalankan roda bisnis di kampung Dolly. Ia mengharapkan lompatan. Bagi penduduk disana agar tidak cuma mengandalkan bantuan. Dia berharap mereka bisa lebih profesional dan mandiri lagi. Visi kedepannya adalah mengembangkan kawasan Dolly menjadi pusat industri wisata. Kesemuanya akan terintegrasi apik menjadikan Dolly sebagai wisata sejarah.

Pemerintah Surabaya membantunya menggapai ini. Yakni dengan menyediakan 12 titik bekas lokalisasi yang akan disulapnya menjadi sesuatu. Ini akan dijadikan wahana belajar sejarah, semacam meseum, serta juga tempat berwisata kuliner dan oleh- oleh, tegasnya. Adapula keinginan merambah industri jasa tapi bukan jasa seperti dulu loh. Dalam benaknya yakni dibidang transportasi, yang mana dalam bayanganya mendatang akan terintegrasi dengan kota wisata edukasi.

Artikel Terbaru Kami