Jumat, 05 Juni 2015

Awal Pura Group Modal Toko Percetakan Kertas

Biografi Pengusaha Jacobus Busono



Ketika melamar pekerjaan ke Pura Group. Iseng- iseng jiwa penulis terpanggil untuk mencari tau. Perasaan ingin tau perusahaan apa ini. Dan, akhirnya menemukan kisahnya, unik karena ternyata perusahaan ini punya aneka prestasi. Perusahaan asli Kudus, Semarang, ini ternyata tak sekecil kamu bayangkan. Perusahaan ini tercatat pemenang Anugrah Siddhakretya. Untuk perusahaan atau individu dipandang sebagai sosok invator penemu. 

Pasalnya, kamu tau perusahaan ini sukses menspesialisasikan diri. Perusahaan yang sebelumnya cuma tiga toko percetakan kecil, kini, telah memiliki teknologinya sendiri. Utamanya yaitu teknologi percetakan anti- pemalsuan. Perusahaan ini juga mampu mencetak surat berharga bahkan uang untuk Bank. Sukses dari Pura Group tak jauh dari sang CEO sekarang, Jacobus Busono.

Melalui bendera PT. Pura Barutama, perusahaan berkantor pusat di Kudus, Jawa Tengah, sukses menjadi pemimpin dibidang percetakan. Pura Barutama dikenal sebagai perusahaan percetakan atau printing, proses lanjut kertas atau converting, kemasan atau packaging, rekayasa atau engineering. Juga seperti yang dijelas diatas perusahaan punya sistem anti- pemalsuan terpadu. Mereka mampu membuatkan surat berharga atau pun mencetak uang.

Untuk Pura sendiri, penghargaan tersebut bukanlah pertama, prinsip Jacobus bahwa perusahaan harus selau punya inovasi. Bukan sekedar perusahaan trading atau cuma mengurusi jual beli. Presiden Direktur sekaligus pemilik perusahaan ini menjelaskan dirinya lebih senang mengembangkan. "Industrialis itu cenderung care about the game. Sedangkan, trader itu care about money," jelasnya. Oleh karena itu segala usaha apa yang dilakukannya bukan sekedar jual- beli.

Selain penghargaan diatas yang diberikan langsung oleh Presiden Megawati Sukarnoputri. Di tahun 2013, ia bersama Pura Group juga menyabet gelar anugrah teknologi di bidang Agroindustri dari Menteri Riset dan Teknologi tahun 2001 silam. Penghargaan tersebut untuk suksesnya menciptakan mesin pengering padi. Ya, perusahaan ini memang perusahaan holding, jadi jangan salah sangka cuma mengurusi percetakan saja loh. Dalam penjelasan sukses Para Group adalah sosok Jacobus sendiri.

Bisnis keluarga


Sukses Para Group adalah Jacobus Busono. Kenapa pernyataan ini ditekankan oleh artikel ini. Memang jika dirunut dari tangan dinginnya lah; perusahaan ini menggurita. Kisahnya dimulai dari sang kakek yang memulai bisnis percetakan terlebih dahulu. Didirikan oleh pendiri Ong Djing Tjong bernama awal Electriche Drukkery. Didirikan hampir satu abad lalu. Tahun  1908, saat itu, perusahaan ini merupakan satu dari tiga percetakan kecil yang ada di Kudus; selain Hoo Kongso dan Tjung Hwa.

Ketika genap dirinya berumur 16 tahun, Jacobus kecil sudah punya mimpinya sendiri. Remaja penuh warna yang memilih melanjutkan sekolah sampai jenjang tertinggi. Dia melanjutkan sekolah ke Concordance HBS atau Hoogere Burger School setingkat SMU. Sekolah dikhususkan untuk mereka yang mau melanjutkan ke luar negeri. Bersekolah di HBS dirinya fokus belajar Inggris, Belanda, Jerman, dan Prancis. Usai pendidikan di HBS pergilah ia ke Belanda.

Mimpinya ternyata tak jauh di dunia perbisnisan keluarga. Ia memilih melanjutkan pendidikan di Akademi Percetakan ternama di Belanda. Kemudian meneruskan ke Fach Hochschule (FH) dibidang percetakan dan kertas Jerman. Disela ia mendalami fotografis, litografi, seperasi warna, dan bidang lain. Passion -nya dan mimpinya memang tentang percetakan. Di Eropa dirinya benar- benar mengikuti nasihat ayahnya. Dia belajar serius dengan penuh semangat ria selalu.

Tahun 1970, Jacobus telah kembali ke Indonesia, namun akhirnya sadar akan satu hal: Ilmu yang dipelajari cuma lah seonggok teori. Tidak berarti apa tanpa ia praktikan langsung. Dia harus memulai dari awal. Mulai dari beradaptasi kembali dengan situasi kerja, cara kerja, sistem, budaya bahkan soal penggajian. Baginya realitas di lapangan merupakan sejatinya pengetahuan. Inilah yang membangun visi seorang Jacobus lebih jadi tajam.

Visi untuk membangun Pura Group sebagai bisnis terdepan. Menjadikan perusahaan ayahnya yang bernama PT. Pura Barutama menjadi percetakan kualitas terbaik. Dia membangun tradisi perusahaanya sendiri. Yang dalam penjelasannya ada pada nilai inovasi selalu. Dalam perjalanannya, ia tak cuma mau agar Pura Group jadi lebih besar, hasratnya mulai mencangkup cakupan luas. Dia ingin menyelipkan pesan- pesan kepada dunia bahwa orang Indonesia sejatinya tidak bodoh.

"Bangsa ini memiliki etos yang kondusif bagi pengembangan teknologi, yaitu sikap sepi  ing pamrih rame ing gawe," ungkapnya.

Didukung sikap tepo seliro, santun, dan taat, menjadikan etos kerja jadi lebih efekti. Namun, Jacobus lantas mengingatkan itu tergantung pemimpinnya. Kita membutuhkan pemimpin kuat tegasnya juga. Pura Barutama lantas berkembang dari cuma 35 karyawan jadi 8.500 karyawan. Dikenal atas kemampuannya dalam proses lanjut kertas, kemasan, rekayasa mesin, dan sistem anti- pemalsuan. Buktinya produk- produknya telah digunakan oleh perusahaan besar seperi Tempo, Sanbe Farma, Sampoerna, Djarum dan lain- lain.

Minim publikasi


Sukses Pura Group punya startegi sendiri. Minimnya publisitas membuat perusahaan terlihat "wah". Padahal sebagai generasi ketigi dirinya sama saja membangun dari nol. Usaha yang dibangun sejak jaman kakeknya tak akan seperti ini tanpa waktu. Dia sendiri sengaja menutup publisitas diri. Termasuk kinerja perusahaan hingga terkuak lah kesuksesannya (yang besar). Ketertutupan itu sengaja, pasalnya, ia mengikuti sang tokoh panutan di dunia percetakan, Hubert Steinberg serta filosofi diri.

Dalam diam mereka menjadi hidden champion. Akan tetapi, semenjak, perusahaan miliknya sukses menang tender kertas uang untuk BI; beda pula akhirnya. Perusahaan besar tersembunyi ini, dan dirinya yang selalu menghindari publisitas, terkuak karena sukses menyisihkan pabrik kertas dunia di tahun 1999. Dia lantas jadi incara media masa. Agaknya ketersembunyian tersebut juga punya faktor X  yakni mitor generai ketiga. Di sebutkan bahwa generasi ketiga jadi kehancuran.

Ada sejarah perusahaan di negara- negara berkembang. Bahwa perusahaan kaluarga di negar berkembang, generasi pertama adalah pembangun. Generasi kedua adalah penikmat sementara ketiga, apalagi kalau lah bukan generasi penghancur. Ini tidak berlaku bagi kisah Pura Group. Sukses Pura Group dihantarkan oleh nya berpegang pada filosofi dan visi- misi kuat. Suksesnya bahkan mampu menjadi percetakan kelas dunia terbesar di Asia Tenggara.

Jika visi- misinya menyangkut mengembangkan bisnis keluarga. Maka falsafahnya adalah agar menjaga diri untuk tidak sombong. Jika tidak sombong maka orang akan menghargai kita. Itulah apa yang tercermin di kehidupan dan cara bisnisnya.

"Sombong itu merugikan diri sendiri dan orang lain. Pinta itu relatif. Pemimpin yang baik itu tidak mungkin sombong, pemimpin tidak boleh sombong dengan bawahannya," jelas Jacobus Busono.

Menjadi sombong berari sulit menerima ucapan orang lain. Padahal mendengar merupakan salah satu cara menentukan keputusan. "Filosofi ini berasal dari proses belajar saya, saya juga pernah sombong, dulu memimpin 200 orang (karyawan) saja setengah mati," ungkapnya lagi. Filosofi ini dibawanya meski ia lantas dipilih menjadi salah satu anggota resmi Word Entrepreneurship Forum.

Jumlah anggota forum pengusaha ini cuma maksimal 70 orang. Bersamanya ada orang lain dari Asia yaitu total 7 orang dari kawasan Asia. Yaitu dua dari Jepang, satu dari Hong Kong, China, India dan Filipina. Ia menjadi satu- satunya wakil Indonesia kala itu. Ini adalah kebanggaan untuk Indonesia. Pasalnya sistem seleksi keanggotaannya sangatlah ketat dan tidak diperjual belikan. Semuanya berkat kesukaan atau bahasa jaman sekarang passion.

Pengusaha hologram yang pernah merugi 10 tahun ini, menunjukan bentuk nyatanya, dalam kehidupan hari- harinya dilalui dengan mengendarai mobil tua. "Yang celaka orang tidak punya, tapi sombong," ungkapnya kepada Detik.com. Dia punya mobil Kijang. Baginya yang terpenting nyaman karena ada AC -nya. Dia lantas berseloroh memilih Kijang ber- AC daripada Mercy tanpa AC. Entah apakah ini sebuah bahasa kiasan atau benar.

Menjadi pemegang tampu kepemipinan. Apakah yang pernah dilakukannya disana. Ia sukses mengepakan sayap ke luar negeri. Berbagai ekspor telah dilakukan lebih dari 40 negara di kawasan Asia, Australia, Timur Tengah, Afrika, Eropa, dan Amerika. Dia bersama Pura Barutama mendapatkan gelar eksportir terbaik di bidang non- migas Primaniyarta dari Menteri Perindustrian dan Perdagangan tahun 2011. Bisnisnya bergeliat menghasilkan omzet Rp.3,5 sampai 4 triliun di tahun 2008 saja.

Artikel Terbaru Kami