Jumat, 26 Juni 2015

Slightshop Bisnis Modal Talenta Lukis

Biografi Pengusaha Andina Nabila Irvani



Dara cantik berjilbab, kelahiran 31 Juni 1990, telah sukses menyabet sederet penghargaan atas talentanya dibidang seni lukis. Namanya Andina Nabila Irvani, atau sering dipanggil singkat Dina, pernah memenangkan berbagai penghargaan usahawan muda, seperti: Shell-Live Wire, Business Start Up Award 2009, Country Manager Asea- Preneur 2010 , dan masih banyak lagi. Dina juga pernah bersekolah di Vallivue High School semua lagi- lagi berkat bakat seni lukisnya.

Guru- guru pembimbing telah menyadari gadis cantik berjilbab satu ini punya sesuatu, terutama berbicara tentang melukis di kain. Melacak jejak kesuksesannya, sukses ini diraih berkat hobinya melukis kemudian tumbuh menjadi passion hidupnya. Dina memang menyukai bagaimana lukisan bisa ditorehkan di atas sebuah sepatu kanvas. Dan, yang menjadi korban ialah sang kakak sendiri, Nerissa Arvania. Ketika sepatu lukis tersebut dipakainya tak disangka akan begitu disukai.

Yang membuat sepatu lukis milik Dina berbeda ialah warnanya tajam namun sangatlah halus pada dasarnya. Produk tersebut kemudian iseng dijual melalui bendera Spotlight itu. Kini, bisa kamu temui di berbagai sudut kota Bandung loh. Saat ini, gadis yang bermukim di Jakarta Timur ini, masihlah berkuliah di Jurusan Desain Komunikasi Visual di Universitas Bina Nusantara Jakarta. Melukis memang sudah menjadi dunianya sejak masih kecil.

"Saya mulai melukis sejak TK, baru mulai serius sejak SMP. Nah, keterusan deh hingga sekarang," katanya sambil tersenyum manis.

Sang kakak tak mau melihat bakat adiknya jadi sia- sia akhirnya mengajak berbisnis sepatu lukis. Keduanya berbisnis sepatu lukis sejalan dengan hobi mereka memberi barang- barang seperti sepatu.

"Awalnya aku sama kakak suka beli sepatu. Kemudian, kakak nyaranin aku buat bikin usaha ngelukis di sepatu. Yaa sekalian buat nyalurin hobi aku juga." ujar Dina. Nerissa lah menjadi penggagas dibalik bisnis sepatu Spotlight.

Ia sendiri mengambil jurusan Bisnis dan Manajemen di Institut Teknologi Bandung, cocok kan? Ia ingin agar sang adik menyalurkan bakatnya. Melalui melukis sepatu yang dianggapnya akan laris di pasaran. Dini pun diajaknya melukis sepatu- sepatu kosong. Sudah tak terhitung berapa jenis sepatu dilukisnya.

Tak salah gabungan keduanya akan menghasilkan sesuatu. Tepat Agustus 2008, kedua bersaudara ini kemudian maju untuk meminjam uang kepada kedua orang tuanya. Mereka ingin tetap melanjutkan kuliah mereka sementara itu tetap berbisnis. Bermodal 3 juta rupiah keduanya membali sepatu kanvas polos, cat kain, peralatan lukis, dan berbagai bahan yang mungkin diperlukan. Merasa cukup dengan semuanya itu, mulailah si Dina mulai menuangkan bakatnya itu.

"Waktu awal-awal itu aku bisa ngelukis 5-7 sepatu sehari," ucap Dina, salah satu fans John Legend ini.

Setelah yakin betul akan hasil karyanya. Dina barulah mulai mempromosikan karyanya itu dengan berbagai cara, salah satunya melalui website sendiri. Sampai sini, Dini menghasilkan lima varian produk, yaitu produk flats style, converse style, vans style, flats bertali, dan sepatu putih polos untuk dilukis sendiri oleh pembeli. Sepasang produk sepatu lukisnya bisa dihargai berkisar Rp 110.000- 200.000. Sementara itu tas dan kausnya akan dihargai Rp 100.000.

Berbekal uang hadiah senilai Rp.20 juta, Dina dan kakaknya ingin mengembangkan terus bisnisnya. "Inginnya bisa ekspor ke luar negeri, expand ke produk-produk lain dan merek Spotlight dikenal oleh masyarakat," ujarnya. Pada 2009, Andina Nabila Irvani pun dinominasikan oleh sebuah situs bisnis dunia, Bloomberg Business Week. Dia menjadi salah satu dari 9 pengusaha terbaik Indonesia masuk jadi nominasi pengusaha muda terbaik se- Asia.

Bisnis sepatu lukis


"Kebanyakan peminatnya dari kalangan remaja usia 15 sampai 22 tahun. Jadi selain harus unik, harganya juga, ya harus sesuai lah sama kemampuan mereka," tutur Dina. Ia dan kakaknya tercatat telah mampu menembus 10- 22 juta per-bulan. Sayang mereka tak bisa menggunakan merek Spotlight lagi, namun Slight, telah menerima order dari seluruh penjuru provisnis di Indonesia dan beberapa negara di ASEAN.

Untuk pemasaran, Dina menggunakan media online seperti website dan jejaring sosial. Karya-karya sepatu lukis Dina bisa dilihat di dua website -nya yakni www.sepatulukis.com atau www.slightshop.com. Dina menganggap tepat bahwa media online menjadi sarana efektif serta efisien dalam pemasaran produk- produknya. Selain murah- mudah, media online bisa menjangkau wilayah yang luas tanpa batas. Pemasaran online jauh lebih murah dibanding pemasaran di media lain seperti koran dan tv.

Pelayanan order jadi lebih mudah. Setelah pembeli tertarik, ia bisa langsung memesan via telpon ataupun lewat email. Pesanan bisa selesai paling lama satu mingguan. Lalu, bagaimana cara produksinya? Ternyata, sepatu yang sebelumnya berwarna polos, kemudian diambil olehnya kemudian dilukisnya. Sepatu polos lebih dipilih tentunya agar bisa dilukis sempurna. Berbicara tentang bahan, Dina menyebut bahan sepatu kanvas dan toko online nya juga menyediakan bisa kamu beli dan didesain sendiri.

Ia mulai membuat sketsa melalui pensil pada sepatu polos. Lalu, Dina mulai menebalkan garis- garis sketas dengan spidol. Setelah garis sketsa terlihat jelas dan tebal barulah tangan mungilnya menaruh warna- warna dari cat khusus. Untuk mewarnai lukisan juga harus menggunakan cat khusus tekstil sehingga tidak luntur jika sepatu itu dicuci. Setelah proses pewarnaan selesai, sepatu kemudian dijemur hingga cat lukisan mengering. Terakhir, sepatu disetrika agar lukisan menjadi rata, nampak halus dan menempel lebih kuat.

Besar biaya produksi tergantung pada cat warna. Rata-rata bahan sepatu polos harganya berkisar antara 100- 225 ribu rupiah. Sedangkan untuk jenis cat, Dina menggunakan cat khusus yang harganya dirahasiakan. Ini rahasia bisnis tentunya. Hasil sepatu lukis kreativitasnya lalu dijual dikisaran harga antara 110-265 ribu rupiah. Yang paling mahal adalah produk unggulan Sligth yaitu  model Premium Edition yang dijualnya dengan kisaran harga 225-265 ribu rupiah.

Kendala bisnis


Kendala terbesar menjalankan bisnis sepatu lukis, menurut Dina, ialah ketersediaan stok bahan sepatu. Saat ini Dina masih memesan stok bahan dari sepatu produksi home industry di Bandung. Karena home industry, kadang stoknya juga terbatas produksinya. Makanya, ke depan Dina ingin memesan dan kerja sama dengan pabrik sepatu besar. Tapi ia sendiri masih pikir- pikir karena jika memesan sepatu di pabrik besar maka ada batas minimal pemesanan yang menurutnya terlalu besar.

Bagus tidak sich prospek bisnis sepatu lukis ini?

Menurut Dina, prospek bisnis sepatu lukis ini masih bagus karena belum banyak tahu. Peminatnya semakin banyak dan perkembangan sepatu lukis Slight sendiri makin naik juga. Jelas saja makin naik, dari modal awal hanya sejutaan kini bisa menghasilkan omset belasan juta loh. Berkat sepatu lukisnya ini, Dina juga pernah memenangkan penghargaan Shell Live Wire Business Start Up Award di tahun 2009 dan menjadi nominator Asia’s Best Young Entrepreneur 2009.

Brand Slight ia kelola bersama kakaknya sendiri, juga sedang mencoba membuat aneka lukisan pada produk tas, cassing handphone, kaos, atau dompet. Sempat juga terbersit mem-franchise-kan brand Slight yang telah terdaftar di HKI ini. Dina menggunakan sistem reseller beli putus dengan syarat menjadi member Slight dan membayar Rp. 75 ribu tiap bulan. Tiap reseller mendapatkan potongan harga dan fasilitas lainnya untuk membantu penjualan.

"Aku sich yakin usaha sepatu lukis ini bisa berkembang terus. Mudah-mudahan, Slight juga bisa memenuhi orderan sampai luar negeri. Yang penting jangan berhenti berkreasi dalam membuat lukisn dan melakukan inovasi dengan melukis di media-media lainnya," tutup Dina.

Twitter: @andinanirvani
Website: slightshop.com

Artikel Terbaru Kami