Kamis, 28 Mei 2015

Kapal Replika Bandong Kerajinan Khas Kalimantan Barat

Usaha Tradisional Butuh Investasi

 

Berawal dari rasa suka kemudian menjadi usaha. Ini kisah, Muhammad Rivai Nafis, pria 73 -tahun yang hidup dari berbisnis replika kapal bandong. Kapal bandong merupakan perahu besar yang menjadi moda transportasi sungai di Kalimantan Barat. Namun, kapal ini tak lagi populer, angkutan sungai ini tergerus jaman dimana transportasi darat dianggap lebih cepat, murah.

Rivai menjelaskan, selain karena suka, membuat replika kapal juga usaha untuk melestarikan budaya Kalbar sendiri.

"Ini satu- satunya kerajinan khas Kalimantan Barat," ujarnya.

Ia mengisahkan sedari kecil dia hidup dipinggiran sungai. Rivai setiap hari melihat kapal- kapal bondong ini berlalu- lalang. Namun, kapal ini kini hilang, tergerus jaman jumlahnya tak sebanyak dulu lagi. Terinspirasi, Rivai mulai membuat miniatur kapal bandong sebagai hobi awalnya.

Dibuatlah satu gerai kecil di pinggiran Sungai Sekayam, Kelurahan Tanjung Sekayam, Kapuas, Sanggau, ia sehari-harin merakit kayu-kayu kecil jadi kapal bandong kecil. Tangannya cekatan, dan sangat terampil.

Awalnya cuma iseng, tapi ternyata produk- produk tersebut laku dijual. Bahkan harganya lebih dari yang diharapkan Rivai. Bayangkan satu replika kapal bandong bisa laku mahal. Antara Rp200-500 ribu per buah. Permintaan yang tinggi membuat ia harus dibantu tiga pekerja. "Sebulan bisa ratusan pesanan," katanya.

Tak cuma berhenti di Kalimantan, replika buatannya ternyata terjual hingga diluar wilayah Kalimantan Barat. Usaha kecilnya bisa menjual hingga Malaysia, Brunei Darussalam, dan sejumlah negara tetangga lain. Hitung- hitungnya, omzet Rivai bisa puluhan juta rupiah sebulan. Jauh dari ongkos pembuatan itu.

Meskipun beromzet besar, dia justru khawatir kerjinan ini putus tak ada penerusnya, jelasnya kepada VIVA News. Tak bisa diwariskan ke orang lain. Ia mengaku pernah mencoba mengajarkan caranya ke masyarakat sekitar, tapi belum terlihat juga hasilnya.

Artikel Terbaru Kami