Senin, 11 Mei 2015

Anak Medan Jualan Es Krim Salak Padang Sidempuan


Anak Medan sukses berbisnis 2015, jawabanya ya adalah Germadana Irza. Selain karena bisnisnya unik, tetapi juga ada satu fakta bahwa dia sendiri masih kuliah. Anak muda yang masih duduk di bangku kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri, Universitas Sumatra Utara (Sumut). Meski memulai bisnis ketika ia masih berkuliah omzetnya menembus angka 20 juta. Idenya itu ada ketika melihat bagaimana salak begitu berlimpah.

Disisi lain harga salak Padang Sidempuan tersebut tak laku diolah sehingga harganya murah. Loh, bukannya kalo murah justru harusnya laris diborong? Kenyataanya baru sedikit yang memanfaatkan ini sebagai bahan baku olahan. Selama ini, di Medan, variasi cemilan salak masih itu- itu saja dan sudah banyak ada di kawasan lain; sebut saja ada keripik salak, manisan salak, dodol salak, keripik salak, kurama salak dan lain sebagainya. Selain itu pamornya kalah dengan salak pondok.dll.

Oleh karena itulah muncul ide membuat olahan yang berbeda. Bersama seorang kawan Alyefi Asrar, diolah lah salak menjadi makanan es krim. Ya, salak- salak itu diolahnya jadi ice krim lezat. Ditemui oleh Medan Bisnis Daily, di tempatnya JL. Abdul Hakim, Gema begitu sapaan akrabnya, menyebutkan bahwa bisnisnya bermodal sebuah proposal. Kedua mahasiswa itu cuma bermodal proposal Dikti untuk lolos sebuah seleksi. Mereka coba- coba masuk sebuah program kewirausahaan di 2011.

Menang bermodal proposal menghasilkan Rp.6 juta. Uang itulah yang digunakan untuk mengaplikasikan apa yang cuma tertulis.

Es krim


Usaha baru dibuka dipertengahan 2012, karena tak cukup modal, pada tahun itu mereka mengikuti lomba kembali dan menang. Mereka mendapatkan uang modal lagi dari Bank Mandiri. Uang tambahan sebesar 8 juta sudah ditangan mereka ketika memanangkan lomba tersebut. Sebelum masuk lomba kembali, Gema telah mencoba- coba dulu produk prototipe -nya. Ada beberapa kali gagal karena komposisinya salah. Ia mengaku tetap bersemangat meski gagal.

Akhirnya komposisi baru benar, yang mana ia jabarkan berasa asam kelat dan manis. Harga salah yang satu kilonya cuma Rp.5 ribu disulapnya jadi gelas- gelas kecil berharga lumayan. Menggunakan bahan baku dari salak Padang Sidempuan dilakukannya secara sengaja. Semua untuk mendorong ekonomi lokal yang kalah dengan serbuan salak pondoh atau salak dari daerah lain.

"Makanya saya berpikir bagaimana caranya salak ini bisa naik derajat dan popularitasnya," imbuhnya.

Aneka cara sudah pernah dicobanya untuk mengolahnya. Tapi ia memilih es krim dengan alasan sederhana yakni semua orang suka es krim.

Apakah halangan berbisnis es krim terbesar. Gema mengungkapkan kepada media Detik.com, halangan itu ada pada bagaimana menyimpan saat penjualan. Ia mengakatkan es krim butuh suhu dingin yang stabil. Hal inilah yang menjadi tantangan terbesar baginya. Namun, Gema tak menyerah, pemuda ini tetap mencari- cari cara seperti halnya mencari resep es krim sempurna.

"Coba- gagal itu pernah. Yang lain juga pasti pernah. Dari yang mulai rasanya terlalu asam, sampai es krimnya terlalu keras sampai gak bisa dimakan," ungkapnya.

Kalau mau usaha, ya, gak boleh gampang menyerah ujarnya kembali. Idenya tentang es krim salak, kini komoditas salak Padang Sidempuan mulai dikenal. Dari coba- coba sampai akhirnya mendapatkan suntikan modal dari aneka lomba. Sukses bisnis es krim Zalacca membawanya hingga sampai ke Jakarta. Bermodal cuma enam juta dibelinya freezer, mixer dan juga bahan baku salak, untuk ketahanan produknya disisaitinya sedini mungkin.

Hobi bersepeda motor dijadikan modalnya memasarkan es krim. Ada sekitar 3 sepeda motor yang sudah ia modifikasi menjadi mesin pendingin. Ketiganya dijadikan outlate keliling Zalacca Ice Cream. Digunakannya motor- motor itu berkeliling menjajakan dagangannya. Dijualnya itu, awalnya, bermodal motor vespa karena memang ia hobi vespa. Uniknya motor tersebut ternyata cukup ampuh untuk memanggil pelanggan. Berkat ketekunan kini usahanya meraup omzet Rp.15- 20 juta.

"Tergantung, kalau hujan laku sedikit. Kalau panas laku banyak," candanya.

Pemenang bisnis


Dalam sepekan produksi Gema sudah mencapai 6kg per- harinya. Totalnya 12kg untuk tiap pekannya, dan itu menghasilkan 48 kg es krim siap dijualnya. Bisnisnya dibilang tak monoton, selalu ada yang baru, khas anak muda maka ada beberapa jenis es krim; Zalacca Ice Cream Cup, Zalacca Ice Cream Wafer, dan ada yang palinga menggiurkan yakni Ice Cream Brownies dan Rainbow. Variasi rasanya juga tak melulu berasa seperti salak, adapula rasa nangka, coklat, vanila, strawberry, dan pandan.

Uniknya bahan utamanya tetap salak tapi rasanya berbeda- beda. Es krim buatanya terjamin karena tak pakai bahan pengawet. Jadi jika kamu beli maka akan tahan cuma dua minggu saja. Untuk dijual es krimnya itu bisa habis dalam dua hari saja, menakjubkan bukan? Soal harga dari yang termurah Rp.3 ribu sampai 10 ribu per- cupnya. Pemasarannya untuk sementara secara berkeliling saja. Dari kawasan kampus USU lalu sampai ke SD Muhammadiyah dan Perumahan Setia Budi.

Kedepannya ada rencana untuk mengembangkan konsep waralaba. Itulah sebabnya ia sudah berancang- ancang untuk perizinan PIRT dan juga label Halal dari MUI. Adapula rencana untuk masuk ke pasar ritel di minimarket- minimarket. Berjuang keras membawanya hingga Jakarta melalui ajang bernama Mirausaha Muda Mandiri. Meski sempat tak lolos di tahun 2013, akhirnya, ia bisa kesampaian masuk ke jajaran finalis. Kalau dulu cuma mengirim biodata, Gema di tahun 2014, sudah punya 3 outlate sukses.

Targetnya menasional membuatnya lebih bersemangat. Target jangka pendek ujarnya kepada media adalah membuka 10 outlate sendiri di Medan. Pengusaha muda ini memang memulai sedikit- demi sedikit tanpa mau berhenti dan putus asa. Berkat WMA tingkat regional Gema sudah mendapatkan banyak tawaran. Penawaran kemitraan tak cuma datang dari Kota Medan saja. Target jangka panjangnya, ia mengharapkan punya food truck sendiri, yang mana akan diusahakan selama tiga tahun sejak 2014.

Artikel Terbaru Kami